Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Inilah Suara Terakhir Kopilot Sebelum Pesawat MH370 Hilang

Written By mimin on Monday, March 17, 2014 | 6:20 PM

Pesawat Malaysia Airlines MH370 kemungkinan dibajak
Penyelidikan atas hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 menemukan fakta baru. Sebelum pesawat tersebut hilang dan tak dapat dideteksi radar, ada kata-kata dari pesawat yang bisa didengarkan. Kata-kata itu diyakini sebagai suara kopilot.

"Penyelidikan awal menunjukkan bahwa adalah kopilot yang pada dasarnya berbicara," kata CEO Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya dalam konferensi pers Senin (17/3) malam, seperti dikutip ROL, Selasa (18/3).

“All right, good night (baik, selamat malam),” demikian kalimat itu terlontar setelah salah satu sistem pensinyalan krusial pada pesawat itu dimatikan secara manual.

Kapten Zaharie Ahmad Shah dan kopilot Fariq Abdul Hamid telah menjadi fokus utama penyelidikan mengenai nasib MH370, dengan salah satu pertanyaan kunci, siapakah yang mengendalikan pesawat ketika sistem komunikasi dimatikan.

Sinyal terakhir dari sistem data pesawat atau Aircraft Communications Addressing and Reporting System (ACARS) diterima 12 menit sebelum kalimat terakhir terucap. Kalimat tersebut dinilai janggal karena tidak mematuhi prosedur radio standar.

ACARS memancarkan informasi terpenting mengenai kondisi pesawat ke daratan. Transponder pesawat yang berfungsi merelay informasi radar mengenai lokasi pesawat, telah dimatikan hanya dua menit setelah pesan suara itu.

Setelah sepekan pencarian, penyelidikan mencapai titik terang usai Sabtu lalu Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mengungkapkan bahwa pesawat itu sengaja menyimpang dari rutenya. Pesawat diduga terbang berjam-jam setelah mengelabui radar, ke sebelah barat Malaysia, jauh dari Laut Cina Selatan di mana pencarian kini dihentikan, demikian AFP. [ROL/bersamadakwah]

6:20 PM | 0 comments

Hukum Berhubungan Intim Saat Hamil

Hubungan intim saat hamil - ilsutrasi
“Wahai Syaikh yang terhormat, Assalamu’alaikum. Mohon penjelasannya, dalam Islam, bolehkah seorang wanita hamil berhubungan intim dengan suaminya? Apakah hubungan intim saat hamil membahayakan bayi? Mohon dijawab, karena saya dan suami saya beberapa hari ini sedang berselisih tentang masalah ini. Jazakumullah khairan.”

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Syaikh Ahmad Kutty, Ulama dan Guru Besar Institut Islam Toronto seperti dirilis oleh OnIslam.net sebagai berikut:

Wa’alaikum salam warahmatullah,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ
Saudariku tercinta, kami ingin mengucapkan terima kasih atas kepercayaan besar Anda kepada kami, dan kita memohon Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menolong kami dalam beribadah kepada-Nya dan memudahkan kami dalam menjalankan tugas-tugas kami di jalan-Nya.

Syariat Islam tidak melarang berhubungan intim dengan istri yang sedang hamil kecuali jika hal itu membahayakan dirinya atau bayi. Jika berhubungan intim (menurut saran dokter, red) akan membahayakan salah satu dari mereka, maka hal itu dilarang. Prinsip ’aasyiruuhunna bil ma’ruf menyiratkan bahwa seseorang tidak memaksa istrinya untuk melakukan sesuatu yang menyakitkan atau sulit dilakukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“..Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa : 19)

Jadi, tidaklah dilarang hubungan intim selama kehamilan kecuali jika praktisi medis atau dokter kandungan menyarankan agar hal itu tidak dilakukan karena beberapa keadaan khusus.

Di dalam Al-Qur'an dan Hadits maupun Fiqh, baik secara eksplisit maupun implisit tidak dijumpai larangan berhubungan intim selama kehamilan. Pengetahuan umum juga membuktikan bahwa hubungan intim selama kehamilan tidak menimbulkan risiko kesehatan baik bagi janin atau ibu, dalam kasus normal. Oleh karena itu, aturan Islam secara umum izin membolehkan hal ini kecuali suami dan istri disarankan oleh dokter atau bidan karena keadaan khusus.

Meski demikian, dianjurkan bagi suami istri untuk berhati-hati dalam berhubungan intim selama kehamilan, serta menghindari posisi atau metode hubungan intim yang mungkin dapat membahayakan (janin). [IK/bersamadakwah]

9:16 AM | 0 comments

Wacana Capres dan Kualitas Aqidah Kita

ilustrasi kursi kekuasaan
Salah satu poin penting dalam aqidah itu, kita diminta menaruh keyakinan, hanya kepada Allah. Bukan pada selainNya. Salah satu poin sentral di dalamnya, bahwa tidak ada yang mengetahui esok hari, kecuali Allah saja.

Jangankan soal siapa presiden negeri ini yang akan dipilih beberapa bulan mendatang, tentang apa yang akan terjadi sedetik kemudian pun, kita tidak diberi bocoran.

Sayangnya, kita ini terlalu banyak disusupi pemikiran mistis, doktrin media, lembaga survei, dan sebagainya. Sehingga, sedikit banyak, kualitas aqidah kita ini, semakin hari bertambah rendah. Parahnya, dalam soal politik ini, sebagian kita lebih percaya kepada lembaga survei dan pemberitaan media, ketimbang menggantungkan kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa.

Masalah capres ini, tak ubahnya dengan rencana pernikahan kita, misalnya. Atau apapun rencana yang akan kita lakukan di hari yang akan datang. Dalam hal ini, ada tiga poin penting yang mesti kita seksamai.

Pertama, Presiden. Apakah yang dinyatakan menang dalam lembaga survei sebagai pemenang pilpres atau pileg pasti akan menjadi pemenang sungguhan? Bukankah dalam banyak cerita, kita sudah diberitahu bahwa survei itu bisa dipesan? Banyak cerita tetang ini. Poin berikutnya, antara hasil pemilu dengan hasil survei adalah dua hal yang berbeda. Seperti keinginan seorang pemuda yang berambisi menikahi artis cantik, kaya raya, seksi, namun akhirnya tak kunjung menikah lantaran keterusan bermimpi.

Kedua, apakah ada yang menjamin, bahwa yang dicalonkan itu akan hidup sampai pemilihan berlangsung hingga kemudian menang dan dilantik? Bukankah, kepastian kematian yang datang kapan saja, melebihi kepastian lembaga survei itu? Memangnya kita tahu, bahwa mereka yang dicalonkan itu akan hidup hingga masa pencoblosan dan kemudian menjabat setelah memenangi?

Ketiga, ini tentang suatu hal yang sulit dipercayai bagi mereka yang tak mengerti atau tak mau mengerti. Yakni, tentang ‘dalang’ di balik sebuah peristiwa. Nah, dalam kasus pencapresan atau pileg, di belakang mereka ada ‘dalang’ yang bebas memainkan skenario. Ini penting. Karena, ‘dalang-dalang’ itulah yang memiliki 'kuasa'. Sehingga, mau ngapain aja terserah mereka.

Bagi 'dalang-dalang' ini, orang yang awalnya dimajukan, bisa serta merta dimundurkan dengan cara yang keji. Atau, tetap dijadikan 'wayang' yang bisa disuruh ngapain aja, sesuai kebijakan 'dalang.'

Lantas, apa kaitannya dengan pernikahan? Persis; anda merencanakan menikah, tidak ada yang bisa menjamin bahwa anda akan benar-benar menikah sampai harinya tiba. Karena anda atau calon pasangan anda itu, bisa mati sebelum menikah, karena memang takdirnya begitu, atau misalnya, calon anda memilih berkhianat karena ada yang lebih bening, atau misalnya ada bencana yang tidak memungkinkan pelaksanaan pernikahan. Bisa pula, jadi menikah. Karena tak jodoh, satu diantara anda mati tepat sedetik setelah ijab qobul diucapkan!

Ingat, Allah bisa melakukan apa saja, sesuai kehendakNya. Dan Allahlah, sebaik-baik pembuat makar. [Pirman]
7:36 AM | 0 comments

Ketika Ta'aruf Berakhir Tragis

Surat Cinta (darussalaf.or.id)
Saat itu saya masih duduk di semester 2 Fakultas Tarbiyah. Melalui applikasi chatting yang baru saya kenal, saya bisa bergabung dengan sebuah room chat yang isinya mayoritas ikhwan dan akhwat.

Terkesan dengan para ikhwan dan akhwat, saya jadi semakin gandrung sama dunia maya. Namun dasar saya yang terlalu lugu sehingga saya sering menerima private chat dari ikhwan. Dari mulai sekedar perkenalan biasa sampai ada yang mengajak ta’aruf.

Tapi saya terlalu lugu untuk hal ini. Saya hanya merasakan senang, karena di dunia nyata saya sama sekali tidak punya teman ikhwan. Jangankan ngobrol, ketemu ikhwan saja gemetaran. Selain itu meski dulu ustadzah saya sudah sering menegaskan akan hubungan ikhwan dan akhwat tapi saya belum begitu paham bagaimana batasan hubungan seorang ikhwan dan akhwat dalam dunia maya. Karena setahu saya ikhtilath hanya ada di dunia nyata.

Sampai suatu saat sebuah rasa kagum timbul kepada seorang ikhwan. Ikhwan yang biasa saya panggil pak carik ini suka memberi “taushiah” di room. Karena rasa kagum itu kami lalu sering private chat dan group chat bersama salah seorang teman akhwat. Diantara kami berdua, saya yang paling muda.

Dari rasa kagum, kemudian menjelma menjadi rasa yang lain. Entahlah. Saya sempat cerita kepada mbak Sarah (bukan nama sebenarnya). Tapi mbak Sarah hanya menanggapinya dengan senyuman. Dan di balik itu saya mendengar dari teman yang lain, bahwa mbak Sarah sedang ta’aruf dengan pak carik. Saya tak mengerti seperti apa konsep ta’arufnya. Yang jelas ini pertama kali saya mengenal proses ta’aruf tanpa murobbi atau perantara.

Di awal Ramadhan intensitas komunikasi kami semakin meningkat. Bukan hanya chatting, tapi juga sms dan telepon. Bahkan pak carik mengusulkan untuk tadarus bareng lewat call friend. Akhirnya waktu sepertiga malam kami habiskan dengan tadarus dan ngobrol bareng yang biasanya berakhir menjelang waktu sahur. Ini Ramadhan yang menimbulkan penyesalan saya hingga kini.

Menjelang Idul Fitri ketika saya hendak mudik, mbak Sarah meminta saya untuk ke kosannya. Saat itu saya melihat mata mbak Sarah sembab. Suaranya serak. Sebuah tanda tanya besar bertengger di kepala saya. Ada apa dengan beliau? Alangkah kagetnya saya saat mendengar cerita beliau kalau pak carik ternyata sedang “pacaran” dengan “akhwat” yang tak lain adalah teman kami sendiri di saat mereka berdua sedang ta’aruf.

Sayapun tidak habis pikir dengan hal ini. Namun itulah yang terjadi, ta’aruf di dunia maya yang berakhir tragis. Padahal mereka sudah saling tahu banyak tentang masing-masing. Dan saya juga merasa beruntung karena tidak terlalu jauh. Karena bagi saya saat itu yang penting mereka bahagia. karena secara usia mereka sudah matang. Sudah sama-sama kerja.

Dulu saya memang terlalu polos untuk hal seperti ini. Namun pengalaman ini memberikan saya pelajaran berharga agar jangan sampai terjebak dengan dunia maya. Setidaknya saya jadi lebih berhati-hati lagi. Tidak mudah percaya dengan “kata-kata gombal” laki-laki yang mengaku ikhwan di dunia maya.

Saya kemudian juga menyadari, bahwa konsep ta’aruf yang benar harus ada perantara. Dialog di dunia maya, Chatting, bukanlah ta'aruf yang benar. Sekali lagi harus ada perantara! Syukur-syukur kalau langsung perantara orang tua.

Semoga bermanfaat… Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
7:06 AM | 0 comments

HTI: Pemilu adalah Instrumen Perjuangan Syariat Islam

Ismail Yusanto
Juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ustad Ismail Yusanto, membantah lembaga pejuang Khilafah ini anti-pemilu. Ia juga kembali menegaskan bahwa HTI tidak pernah menyerukan golput.

"Siapa bilang HTI anti-pemilu. Kami juga tidak pernah menyerukan golput. Yang kami selalu ingatkan adalah 'haram hukumnya' memilih caleg atau pemimpin yang tidak bermoral. Kami selalu ingatkan kepada kader dan masyarakat agar memilih caleg dan pemimpin yang peduli pada syariat Islam," kata Ismail seperti dikutip Tribun, Ahad (16/3).

Bagi HTI, kata alumnus jurusan pertambangan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, pemilu adalah instrumen dari sekian instrumen yang bisa dipakai untuk memperjuangkan syariat Islam. Hanya saja HTI belum tertarik untuk menempuh jalur ini sebagai arena perjuangan penegakan Khilafah.

"Fokus perjuangan HTI adalah perubahan peradaban. Makanya kita masih menempuh jalur seperti ini, jalur penyadaran dan pemikiran. Peradaban itu selalu berganti. Dulu ketika peradaban Islam mewarnai dunia, perdadan Persia dan Romawi terkubur. Sekarang yang mengemuka adalah peradaban Romawi lewat negara Barat. Makanya harus kita perjuangan lagi agar peradaban Islam mengemuka lagi," jelas Ustad Yusanto.

Apa HTI akan menjadi partai politik? "Ha...ha...ha... Tujuan perjuangan kita adalah perubahan peradaban. Kami belum melihat pentingnya perjuangan ini dilakukan lewat partai. Kami tidak ingin peradaban itu dipaksakan sebagaimana yang mereka lakukan. Kita inginkan agar perubahan peradaban itu muncul dari arus bawah, dari masyarakat," kata Ustad Yusanto. [Tribunnews/Bersamadakwah]
1:44 AM | 0 comments
Powered by Blogger.