Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Showing posts with label Heny Rizani. Show all posts
Showing posts with label Heny Rizani. Show all posts

Awas! Sombong Jadi Pakaian Wajib Kita

Written By mimin on Thursday, February 13, 2014 | 5:38 AM

ilustrasi sombong
Titit… titit… suara yang menandakan adanya pesan baru di WA ku berbunyi. Sebuah pesan mengisi layar hapeku yang ternyata isinya sangat menarik untuk kita renungkan.

Jangan bangga dengan wajah cantik/ganteng dan bodi bagus, karena tubuh terakhir kita adalah tengkorak...
Jangan bangga punya motor dan mobil mewah, karena kendaraan terakhir kita adalah keranda..
Jangan bangga punya baju bagus dan mahal, karena pakaian terakhir kita adalah kain kafan...
Jangan bangga punya rumah bagus dan besar, karena tempat terakhir kita adalah kuburan...
Kita hidup di dunia ini sebagai musafir yang hanya numpang lewat, karena kehidupan kita yang kekal adalah akhirat...
Jangan sombong dan takabur!!!


Srep… Sebuah tulisan singkat tapi bermakna dalam. Astaghfirullahal’adziim. Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa ini. Jauhkanlah Ya Allah dari sifat sombong dan takabbur yang tersimpan dalam diri ini. Aamin. Terima kasih saudaraku yang telah mengingatkanku…

Sahabat, inilah kita. Bangga dengan diri sendiri, sombong merasa diri paling mampu, dan takabur seolah ini semua hanya karena hasil kerja keras kita. Sometimes, kita merasa paling segala-galanya. Entah itu paling cantik, paling kaya, paling pintar, paling alim, paling dermawan atau paling-paling yang lain. Tanpa kita sadari, ternyata predikat ‘paling’ itu sudah menjadi pakaian wajib dalam diri kita.

Sahabat, pernahkah perasaan-perasaan tersebut singgah di hati kita? Pernahkah perilaku-perilaku tersebut membuntuti langkah-langkah kita? Dan pernah nggak sih rasa ‘paling’ itu mewarnai darah merah kita? Jawabannya adalah “ya”.

Sahabat, sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia (meremehkan manusia). Banyak orang lain yang sakit hati karena sifat yang satu ini. Banyak orang lain yang tega berbuat maksiat karena penyakit hati ini. Dan banyak orang lain menghalalkan segala cara akibat perilaku buruk ini. Astaghfirullahal’adziim.

Sahabat, sombong dapat menjauhkan kita dari kebenaran. Mengapa? Karena mereka menganggap bahwa merekalah yang paling hebat, paling berkuasa, paling pintar, dan seterusnya. Tak hanya itu, sombong juga bisa membuat penyakit hati kita bertambah. Misalnya; dengki, hasud dan riya’. Kok bisa? Karena sombong identik dengan sesuatu yang tak mau dikalahkan, merasa iri bila ada yang menyaingi dan selalu mencoba untuk pamer ketika melakukan sesuatu karena menginginkan pujian dari orang lain. Na’udzubillah…

Tak hanya dengan bertambahnya penyakit hati, akan tetapi dengan sombong yang sekecil apapun bisa menghapus semua pahala yang kita miliki, wahai Sahabat. Semua amalan ibadah yang telah lama kita pupuk, yang telah bertahun-tahun kita tabung, akan lenyap tak berbekas begitu saja ketika tanpa sengaja terbesit di hati “Wah inilah aku!”, atau “Siapa dulu yang melakukannya?”

Sahabat, ternyata sombong itu hadir karena beberapa hal yang kita miliki, yaitu : ilmu pengetahuan, amal ibadah, keturunan, fisik , harta dan seterusnya. Ketika gelar sarjana melekat di belakang nama kita –misalnya- kerap kali sifat ujub menyapa kita. Ketika amal ibadah kita melejit, rasa sombong datang menyapa. Saat keturunan kita sukses, rasa bangga hadir menyelimuti diri. Begitu juga dengan fisik dan harta kekayaan, akan membuat pesona ketakaburan kita semakin melejit.

Tapi sahabat, itu semua bisa kita atasi, bi idznillah. Kita bisa membasminya sampai ke akar-akarnya, asalkan kita selalu mengintropeksi diri dengan cara mengembalikan semua ini kepada Sang Rabb, karena kita tahu bahwa Dia adalah Sang Maha Agung. Ketika pujian datang menghampiri kita, kembalikan saja pada Yang Jabbar. Ketika kita melakukan sesuatu dan hasilnya sangat menguntungkan bagi semuanya, lagi-lagi kita kembalikan kepada Sang Mutakabbir. Dan ketika kita mendapatkan banyak kenikmatan, kembalikanlah kepada Yang Rozzaq. Kita, tak ada apa-apanya dibanding dengan semua milikNya. Kita itu, sangatlah kecil dan hina di hadapanNya. Jadi, pantaskah diri ini merasa sombong?!?!

Wallahu a’lam bish shawab. [Heny Rizani]
5:38 AM | 0 comments

Berani Jujur itu Hebat

Written By mimin on Friday, January 3, 2014 | 12:00 AM

Area Wajib Jujur (sohoque.com)
“Retno, kita harus jujur mengatakannya walaupun itu pahit rasanya,” pinta Sulastri kepadaku.

“Tapi? Gak mungkinlah aku harus mengatakan dengan jujur tentang peristiwa ini! Ini sangat fatal, Lastri!” belaku dengan jantung yang kian berdegup kencang.

“Aku tahu Retno, ini kejadian tidak hanya kamu yang mengalami, tapi aku juga terlibat di dalamnya. Lihat! Coba lihat! Hancur kan? Sudahlah, ayo kita selesaikan permasalahan ini kepadanya. Insya Allah, Dia pasti akan membantu siapapun ketika ia mau berusaha dan bertawakkal kepadaNya. Tapi ingat, kita harus menjelaskan dengan sejujur-jujurnya, tentang apa yang menimpa kita. Gimana?”, jelas Sulastri.

Kepalaku semakin cenat-cenut dengan penjelasan ini. Jujur? Bagaimana aku bisa jujur? Semua ini adalah salahku. Andai saat itu aku tak mampir ke penjual kaos, andai saat itu aku tak meminta Sulastri untuk mengantar anak-anakku ke rumah emak, andai saat itu aku langsung pulang. Andai saat itu…

“Ret, kok malah bengong? Gimana nih? Sudahlah, percaya padaku. Allah akan menolong hambaNya, selagi dia mengingatNya dalam situasi apapun. Yang terpenting saat ini, kita harus berkata jujur. Apa adanya”.

“Aku takut Lastri… Aku takut kalau dia marah kepadaku, jika aku harus mengatakan dengan jujur peristiwa ini. Inikan diluar rencana kita sebelumnya. Sungguh, aku sangat takut…”, nadaku memohon.

“Retno, sahabatku. Musibah itu datang tanpa sepengetahuan kita. Musibah itu datang bukan atas keinginan kita. Musibah itu datang tanpa harus memilih siapa yang akan dijumpainya. Sesungguhnya, musibah adalah sebuah cobaan untuk mengetahui bagaimana sikap kita menghadapinya. Musibah adalah sebuah peringatan agar kita tak menyimpang dari jalan yang telah ditentukan. Musibah adalah sebuah ujian, apakah kita pantas untuk naik ke level berikutnya atau tetap pada level yang sebelumnya atau jangan-jangan kita harus terjun ke level yang paling bawah?. Na’udzubillah … ”, jelas Sulastri panjang lebar bagai seorang ustadzah kelas atas.

“Hmmmmm”, aku menghela nafas dalam-dalam. Benar juga perkataan sahabat dekatku ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir. Laa haula wa laa quwwata illah billaahil’aliyil ‘adhiiim. “Baiklah, saatnya kita bertanggung jawab atas peristiwa ini”, jawabku mantap.

“Siiip, ini baru sahabatku. Tapi kita harus tetap jujur ya”, warning Sulastri.

“Insya Allah. Kan kamu yang bilang kalau kita harus berkata jujur walau itu pahit rasanya”, candaku.

“Hehehehe….”.
***

Sahabat, itulah cuplikan kisah nyata yang pernah dialami oleh salah satu sohib dekatku. Kisah ini sungguh penuh makna dan pertolongan dariNya. Kisah ini terjadi saat beliau hendak menjalankan tugas dakwahnya. Selepas menjalankan misi dakwahnya itu, beliau merapel tugas-tugas yang lain seperti yang telah dipaparkan di atas.

Sahabatku, ketika sang sohib dekatku ini hendak pulang dan hendak mengembalikan mobil pinjaman dari salah satu rekan dakwahnya, tiba-tiba sebuah truck trailer menghantam bemper depan mobil sedan tersebut. Alhamdulillah, tak ada korban jiwa dalam peristiwa naas malam itu. Hancur? Ya, sangat fatal! Saat itulah Allah menguji hambaNya. Saat itulah Allah mengingatkan secara halus kepada hamba pilihanNya. Dan saat itulah Allah hendak menaikkan atau menurunkan level keimanan seorang hamba.

Sahabat, pernahkah kita berfikir bahwa di balik semua musibah ada banyak hikmah yang kita dapatkan? Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya memberikan musibah tanpa ada pertolongan dariNya. Ternyata, sohib dekatku itu mendapatkan pertolongan yang sangat hebat dariNya. Sang rekan dakwah sama sekali tidak marah kepada beliau, tidak juga meminta ganti rugi atas fatalnya kerusakan mobil sedannya tersebut. Subhanallah…

Sahabat, jangan pernah berfikir bahwa dengan adanya musibah adalah tanda bahwa Allah tidak menyaangi kita. Itu adalah salah besar! Musibah adalah sebuah cobaan untuk mengetahui bagaimana sikap kita menghadapinya, akankah kita tabah menghadapinya, atau malah kita menyalahkan nasib? Musibah adalah sebuah peringatan agar kita tak menyimpang dari jalan yang telah ditentukan, karena kita tahu bahwa manusia tak luput dari dosa dan salah. Musibah adalah sebuah ujian, untuk melihat tingkat keimanan kita : apakah kita pantas untuk naik ke level berikutnya? Atau tetap pada level yang sebelumnya? Atau, jangan-jangan, kita harus terjun ke level yang paling bawah? Na’udzubillah wahai sahabatku…

Wallahu a’lam bish shawab. []

Penulis : Heny Rizani
Editor : Pirman

12:00 AM | 0 comments

Jihadku untukmu, Ibu

Written By mimin on Thursday, December 19, 2013 | 4:15 PM

mencium tangan ibu (foto de_liyana on photobucket)
“Jangan kau gadaikan prinsipmu, Anakku!!!” kata-kata itu selalu membayangi pikiranku. Setiap kali aku akan melangkah, pasti kata-kata ini kembali berputar-putar dalam benakku.

***

Aku begitu bahagia ketika dipanggil sebagai peraih NEM tertinggi di SMA-ku saat itu. Tapi di sisi lain, aku melihat wajah ibuku yang tak menampakkan sedikitpun rasa bahagia atas prestasi yang telah kuraih habis-habisan selama 3 tahun ini. Ada apa dengan ibuku?

“Selamat ya anakku, atas prestasi yang telah kau raih selama ini. Ibu cukup bangga denganmu, anakku sayang”, tuturnya sangat lembut.

‘Cukup bangga?!?!?’ ini yang membuat jantungku berdebar hebat, yang membuat otakku berpikir keras, yang membuat mataku susah terpejam di malam hari. Kenapa koq ‘cukup bangga?’ Kenapa bukan dengan ‘sangat bangga?’, padahal aku telah mati-matian berusaha untuk mendapatkan ini semua hanya untuk membuatmu bangga ibuku. Tapi...

***

Alhamdulillah, 10 lamaran pekerjaan telah kumasukkan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga pekerja. Kini aku tinggal menunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan yang telah membuka dan membaca serta mempelajari surat lamaranku itu.

Subhanallah, 3 hari dalam masa penantian, akhirnya tiba juga. Tujuh dari sepuluh perusahaan merespon surat lamaranku itu. Aku mendapatkan panggilan untuk tes tulis dan tes wawancara. Saat itu hatiku mulai galau, perusahaan mana yang akan ku datangi? Semua memanggil di hari yang sama dan jam yang sama pula. Ya Allah beri aku petunjukMu.

“Anakku, pakailah ini saat kau berangkat tes ke perusahaan yang engkau inginkan”, senyum itu sangat luar biasa untukku. Yah, senyuman ini yang membuat galauku mulai memudar. Senyuman ini yang sangat kurindukan bertahun-tahun lamanya. Sebuah jilbab biru dongker beliau sodorkan kepadaku.

“Jangan kau gadaikan prinsipmu, anakku!!! Insya Allah, Allah akan selalu bersamamu”. Nyess...luluh sudah hati ini, berlinanglah airmata di kedua mataku. Ibuku oh ibu...

Berangkatlah aku menuju perusahaan yang sangat aku idamkan. Gaji besar, fasilitas terpenuhi, libur Sabtu-Minggu plus libur hari besar dan pekerjaan yang tak membutuhkan tenaga terlalu banyak. Aku tak menghiraukan 6 panggilan tes perusahaan yang lainnya. Alhamdulillah tes tulis lolos, tes wawancara exellent, tapi ada satu hal yang sangat mengujiku saat itu.

“Apakah anda berjilbab?”, HRD mulai menanyaiku selepas tes wawancara.

“Kenapa bu dengan jilbab saya? Apakah jilbab ini sangat mengganggu di perusahaan ini?”, tanyaku balik.

“Aturan di perusahaan ini adalah tidak diperkenankan seorang wanita memakai jilbab. Bagaimana?”, tanyanya dengan mimik yang sangat serius.

“Saya lihat, tes tulis anda sangat luar biasa. Begitupun dengan tes wawancara, tidak diragukan lagi. Anda berpeluang untuk menempati asisten Kepala Bagian produksi di perusahaan ini”, kepalaku mulai cenat-cenut saat itu.

“Apakah tidak ada jalan lain bu untuk solusi dari jilbab ini? Mungkin jilbab ini dimasukkan dalam pakaianku atau...”.

“Maaf mbak, aturan tetaplah aturan! Kami tidak berani menanggung resiko, apabila terjadi kecelakaan hanya gara-gara sepotong jilbab, apalagi anda berada di bagian produksi”.

Aku berpikir dalam-dalam. Disatu sisi, perusahaan ini adalah idaman semua orang, termasuk aku. Di sisi lain, akankah kugadaikan jilbabku ini?!?! Ya Robb, bantulah hambaMu ini.

Subhanallah, saat itu juga aku teringat kata-kata ibuku. “Jangan kau gadaikan prinsipmu, anakku!!!”. Ibu maafkan aku apabila keputusan ini tidak membuatmu bangga dan maafkan aku apabila keputusan ini tidak membuatmu bahagia ibu. Ku tarik nafas dalam-dalam dan Bismillah, dengan tegas kukatakan kepada bu HRD, “Terima kasih saya sampaikan atas tawaran, apresiasi dan juga respon yang luar biasa dari ibu dan perusahaan ini kepada saya. Saya sungguh menyesal, karena keputusan yang akan saya sampaikan ini. Saya memutuskan untuk memilih mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya mohon maaf apabila ada tutur kata yang kurang berkenan di hati ibu. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih banyak atas semuanya”, dengan mantap kutinggalkan ruangan itu sambil tersenyum lega. Allahu Akbar...

***

Sahabatku, tahukah kalian, apa yang terjadi setelah itu? Aku menangis dalam dekapan ibu. Aku terisak dalam tangisku, karena menyesal tidak menyanggupi dan tak mampu membahagiakan sang Ibu, orangtua satu-satunya yang kumiliki saat ini. Tapi, di balik itu semua, Ibu ‘sangat bangga’ dengan keputusan yang kuambil. Keputusan yang sangat tepat dan sangat luar biasa. Inilah awal aku membuatnya bangga dan bahagia. Meskipun setelah itu, aku bekerja sebagai pegawai biasa dalam sebuah koperasi yang gajinya sangat minim sekali. Alhamdulillah, sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat istimewa. Ini semua karena do’a tulus darimu ibuku dan ini sebuah karena ridhomu. Terima kasih ibuku, I love U so much.

Sahabatku, Ridho Allah tergantung pada ridho orangtua dan murka Allah tergantung pada murka orangtua. Andai saat itu aku tetap memilih untuk menerima pekerjaan dan tak mempedulikan jilbab pemberian ibuku, mungkin aku tak akan mendapatkan karuniaNya. Mungkin saat ini, hidayah tak kunjung datang menghampiriku. Atau mungkin aku akan selalu membuatnya ‘cukup bangga’ denganku. Andai saat itu aku tak mempedulikan pesan ibuku untuk selalu menjaga prinsip ini, pastilah aku sudah jadi anak durhaka saat ini, Na’udzubillah..

Sahabatku, akankah kita gadaikan prinsip ini hanya demi mengejar kesenangan di dunia? Akankah kita jual prinsip ini hanya dengan lembaran-lembaran uang yang tak sedikitpun mendapat ridhoNya? Atau akankah kita tukar amanah seorang ibu dengan jabatan yang sementara dan tak berarti di hadapanNya? Jangan kau gadaikan prinsipmu!!! Kapanpun dan dimanapun aku akan tetap berjuang untuk mempertahankan prinsip ini, ibuku, meski darah harus mengucur dari tubuhku atau nyawa harus melayang. Aku akan tetap memegang kata-katamu dan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankannya.

“Jangan kau gadaikan prinsipmu, Anakku!!! [Heny Rizani. Spesial untukmu, Ibu]

4:15 PM | 0 comments

Tentang Cinta dan Lapang Dada

Written By mimin on Thursday, December 5, 2013 | 10:10 PM

Ilustrasi cinta
“Mencintai dan dicintai adalah sebuah anugerah terindah bagi makhluk yang bernyawa. Ya Allah, izinkan aku untuk tetap mencintainya dan menyayanginya hanya karenaMu semata“. Itulah sebuah kutipan yang tak sengaja aku temukan dari buku baru milik temanku yang tergeletak di dekat tempat tidurnya.

Memang dunia ini akan terasa indah apabila ada cinta. Entah itu cinta orangtua kepada anaknya atau sebaliknya, cinta seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya, cinta seorang guru kepada muridnya atau sebaliknya, bahkan bisa jadi cinta seorang sahabat.

“Sebenarnya aku masih sayang dia ukh, tapi kenapa dia selalu menyakiti hati ini?” itulah sebuah kalimat yang seminggu lalu aku lontarkan kepadanya. Dia hanya tersenyum ketika aku menyampaikan uneg-uneg tentang persahabatanku saat ini yang sedang memudar.

“Anti menyayanginya karena Allah kan?“ Aku manggut-manggut mengiyakan pertanyaannya. “Trus ngapain anti menangis? kan sudah jelas bahwa anti menyayangi dan mencintainya bukan karena apa-apa, tapi semua itu karena Allah”, jelasnya pasti. Aku tertegun mendengar jawaban itu. Sontak aku ingin berteriak, bodohnya diriku. Tapi....

“Kok anti melamun? nangisnya nggak dilanjutin lagi ta, hehe...”, ledeknya. Aku pun tersenyum dan segera kuseka airmataku. Aku dipeluknya erat dan tiba-tiba..., ”Hiks...hiks...hiks”. Segera kulepas pelukannya dan dengan bingung bercampur heran, aku tatap wajahnya yang basah karena airmata.

“Anti kenapa, kok menangis? Afwan ya ukh kalo aku membuatmu sedih” tanyaku. Dia menggelengkan kepala, cepat-cepat dia hapus airmatanya dan melemparkan senyum kepadaku.

“Ukhtiku yang cantik, aku menangis bukan karena kamu, tapi aku menangis karena aku teringat dengan sebuah kenangan yang sama denganmu. Itu semua sudah berlalu, karena aku tahu cintaku kepadanya hanya karena Allah. Jadi meskipun kita sudah tidak bersama lagi, aku akan tetap selalu menyelipkan do’a untuknya di setiap sholat malamku. Itulah arti sebuah ukhuwah uktiku sayang. Kita harus selalu berlapang dada dengan orang-orang yang kita sayangi, tak peduli mereka sayang dengan kita atau bahkan mereka sangat membenci kita. Itulah yang membuatku menangis, bukan karena kenangan yang telah berlalu, tapi karena indahnya mencintai karena Allah dan berlandaskan lapang dada”. Subhanallah, damai rasanya hati ini ketika mendengar kata-katanya.

Hidup tanpa masalah bagaikan lautan tanpa ikan alias gak seru, hehe... Sobat, inilah fenomena yang kerap kali menyapa kita. Karena ini adalah hidup yang harus kita jalani setiap harinya. Rasa sayang dan benci silih berganti. Namun semua itu bisa kita atasi, asalkan kita memiliki rasa lapang dada yang luar biasa.

Sobat, kita mesti tahu tingkatan-tingkatan dalam ukhuwah, di mana salah satu tingkatan tersebut adalah berlapang dada atau salamatusshodr. Berlapang dada itu sangat mudah kita ucapkan tapi sangatlah sulit kita lakukan. Tak semua orang yang tersakiti hatinya mampu memerankan sikap lapang dada ini di dalam dirinya.

Dan tak semua orang yang mempunyai cinta mau memaafkan dengan ikhlas kesalahan orang yang sangat dicintainya. Terkadang orang yang telah menyakiti kita telah meminta maaf, tapi ketika kita bertemu dengannya, tak ada lagi senyum menawan untuknya. Padahal lapang dada ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam ukhuwah. Jika yang paling rendah saja kita tak mampu, bagaimana bisa kita melakukan tingkatan yang paling tinggi????

Sobat, kita adalah manusia yang selalu diikuti bayang-bayang khilaf dan dosa. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau ada orang yang menyakiti kita, kita tidak sakit hati. Ini mustahil!!! Dan tidak mungkin juga cinta kita terhadap seseorang tidak terkikis sedikitpun bilamana orang tersebut menyinggung perasaan kita. Inilah sifat manusiawi dari seorang makhluk paling sempurna di dunia ini. Inilah kita!!! Tapi, ada seseorang di jaman Rosul shallallahu 'alaihi wasallam yang dijamin masuk syurga hanya karena sifat lapang dada yang dimilikinya.

Dia dijamin masuk syurga bukan karena amalan-amalan ibadah mahdlah yang dia miliki. Bukan juga karena dia dekat dengan Baginda Rosul. Tapi dia dijamin masuk syurga karena disetiap dia memejamkan mata di malam hari, dia selalu memaafkan dengan lapang dada dan penuh keikhlasan semua kesalahan orang-orang yang dijumpainya dan yang tak dijumpainya sejak dia membuka mata sampai kembali memejamkan mata. Dan itu tidak dia lakukan sehari dua hari, tapi itu dia lakukan setiap hari ketika dia hendak memejamkan mata di malam hari. Luar biasa!

Sobat, saatnya kita mencoba mencintai seseorang tulus karenaNya. Dan inilah saatnya kita belajar, bagaimana menerapkan dan mengalirkan sifat salamatusshodr ini dalam diri kita untuk orang-orang yang kita cintai dan kita sayangi ketika mereka menyentil hati ini. Tetap berikanlah senyuman terindahmu kepada orang-orang yang telah menyakiti hatimu, walau itu baru atau sudah kadaluwarsa. Tak ada kata terlambat untuk mencobanya, Sobat! Karena pintu syurga masih terbuka untukmu...

Wallahu a’lam bisshowab. [Heny Rizani]

10:10 PM | 0 comments
Khutbah Jumat
Hadits Shahih Bukhari