Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Menjadi Juara dalam Derita

Written By mimin on Wednesday, January 15, 2014 | 5:50 PM

Juara (ilustrasi)
“Eh, kemarin pesawatku terlambat 1 jam... bete dech...!!!”
“Gitu aja bangga, aku dulu delay 2 jam loh....!!”
“Kalian berdua berisik... aku pernah ditunda seharian, sampai memutih rambut ini nungguin pesawatnya...”
“Kalian semua sombong... Aku gak pernah naik pesawat, biasa aja...!!”

Manusia mempunyai kecenderungan untuk berkompetisi dan bertanding memperlombakan, mengunggul-unggulkan sesuatu yang dimilikinya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan simpati dan atensi dari orang lain. Bukan hanya capaian, prestasi dan kegemilangan saja yang sering diunggul-unggulkan, penderitaan dan musibah yang dialami pun terkadang dijadikan topik atau tema untuk diunggul-unggulkan. Ketika saudara kita menceritakan alangkah menyakitkannya suatu peristiwa yang dialaminya, maka kita akan mencoba mencari-cari dalam memori kita, penderitaan apa yang kira-kira pernah kita alami, yang lebih dahsyat dan mengenaskan daripada ceritanya. Seakan dengan mengisahkan penderitaan yang lebih dahsyat tersebut kita mendapatkan suatu kemenangan, kemenangan yang semu. Senyum bangga tersimpul di wajahnya jika ternyata tak ada yang mampu menceritakaan penderitaan yang lebih menyakitkan daripada ceritanya.

Saat menceritakan dan memvisualisasikan penderitaan yang pernah dialami terkadang juga dilakukan dengan cara yang berlebihan dan sangat hiperbola, ditambahkan sedikit bumbu dusta dalam rangka menguatkan cerita tersebut dan juga agar kita yang menjadi "juara"-nya.

Syaikh Abdullah Azzam rahimahullaah, seorang ulama dan mujahid yang syahid di Afghanistan berkata dalam bukunya Nasehat-nasehat Rasulullah SAW Penawar Lelah Pengemban Dakwah: “Ada sebagian aktivis jika ditimpa musibah, kecelakaan atau ujian, mereka membicarakannya berhari-hari. Topiknya: apa penyebabnya, mengapa itu bisa terjadi, bagaimana kejadiannya, siapa saja yang terkait, bagaimana kisah lengkapnya dan seterusnya dan seterusnya. Mereka sibuk larut dalam perdebatan yang panjang padahal mereka bukan para pengambil dan ahli keputusan.”

Alangkah baiknya jika ada penderitaan dan musibah yang sedang atau pernah kita alami, kita bersabar dan kita adukan hal tersebut pertama kali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullaah berkata: "Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran, (1) engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu; (2) tidak pula sakit yang kau derita; (3) serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri." (Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri hal. 81)

Kita boleh menceritakan masalah dan problematika yang kita alami kepada orang yang kita percaya atau kepada orang yang bisa memberikan solusi dan do'a untuk kita, seperti orang tua, saudara, sahabat seiman, murabbi, ustadz dan lain-lain. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullaah ketika ditanya perihal menceritakan mengenai penderitaan sakit yang dialami kepada teman-teman dekat, beliau rahimahullah menjawab: "Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh yang mubah. Aku menasehatkan anda agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah."

Bagaimana jika ada saudara atau sahabat kita yang menceritakan penderitaan yang dia rasakan? Kita sebagai ummat Muslim selayaknya menjadi pendengar yang baik dan memberikan solusi serta jalan keluar kepada mereka. Ustadz Salim A. Fillah memberikan nasehat indah dalam bukunya, Dalam Dekapan Ukhuwah, “Maka langkah penting lain dalam memahami merea yang mungkin saja hidup dalam ukuran berbeda-beda adalah memeriksa kembali sikap kita. Adakah kita masih mempertandingkan derita atau memperlombakan lara sekedar untuk membuat lawan bicara kita terluka? Atau ketika saudara tercinta menangis menceritakan dukanya, kita telah mampu berbagi air mata disertai senyum yang menguatkan? Berbahagialah mereka yang bersikap terbaik dalam dekapan ukhuwah.”

Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita untuk bisa mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disiksa, dilempari batu dan kotoran unta, diletakkan isi perut unta di kepalanya yang mulia dan dicekik ketika shalat, dicaci dan dimaki, dituduh penyihir, disebut gila, sahabat-sahabatnya disiksa dan dibunuh, istri beliau difitnah berzina, tetapi beliau tetap bersabar dan tak pernah menceritakan dan mengeluhkannya kepada orang lain. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila disakiti, beliau hanya mengucapkan, “Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh beliau telah disakiti (oleh kaumnya) dengan yang lebih daripada (ujian yang saya alami ini), namun beliau dapat bersabar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallaahu a'lam... []


Penulis : Fais al-Fatih | @al_fais | Cimahi
Mahasiswa Magister Informatika Opsi Sistem Informasi STEI ITB,
Traineer di Spirit Tarbiyah Center, anggota Kelompok Studi Palestina


5:50 PM | 0 comments

Lipat Gandakan Energi Juangmu

Written By mimin on Thursday, January 2, 2014 | 10:35 PM

Semangat Islam - ilustrasi
Sebagai umat Islam, kita harus memiliki interest terhadap sesama dan mengaplikasikan Islam dalam kehidupan sehari hari. Sehingga, Islam yang mulia bukan sekedar teori, namun juga aplikasi. Agar Islam, terasa rahmatnya bagi semesta. Sayangnya, banyak umat Islam yang acuh terhadap aspek praktek ini. Malahan, banyak kita temui, justru orang-orang non islamlah yang lebih sesuai perilakunya dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Sebut saja satu contoh yang terjadi di China. Pertugas keamanan atau polisi di negeri itu juga memberikan contoh dalam penegakan hukum, mereka mencegah orang berbuat salah dengan berjaga di jalan dengan berpanas panas. Sebaliknya, di Indonesia mereka bertindak setelah kejadian terjadi yang berarti bukan mencegah pelanggaran itu sendiri.

Kaum muslimin juga harus memiliki semangat baja dalam memperbaiki diri melalui ilmu pengetahuan. Karena memang, salah satu unsur penyusun kokohnya sebuah peradaban adalah ilmu dan tradisi keilmuan yang mengakar kuat.

Adalah Ibrahim an-Naimi. Dulu, beliau yang bekerja sebagai Office Boy lantaran bukan lulusan dari sekolah manapun. Beliau menemukan minuman di tempat sampah yang beliau asumsikan sudah tidak ada yang punya dan boleh untuk diminum. Ketika meminum itu, beliau serta merta dibentak oleh insyiur yang bekerja di sana seraya melarang tindakannya itu.

Bermula dari peristiwa tersebut, beliau termotivasi untuk belajar dan bekerja. Dihabiskanlah waktu siang dan malam untuk kerja dan mendapatkan ijazah. Hingga akhirnya, beliau mendapat beasiswa Studi Perminyakan di Lehigh University, Amerika Serikat dari Pimpinan PT Aramko saat itu. Prestasinya pun melejit hingga akhirnya, beliau berhasil menyabet gelar Magister Geologi di Universitas Stanford. Selepas merampungkan studinya, beliaupun diangkat menjadi salah satu pimpinan di perusahaan tersebut.

Hingga akhirnya, bertemulah beliau dengan insinyur yang dulu pernah memarahinya ketika hendak meminum air dari tempat sampah. Sang insinyurpun berujar, ketika hendak meminta ijin kepada Ibrahim an Naimi, "Semoga Anda tidak dendam terhadap peristiwa beberapa tahun yang lalu.”
Dengan gugup, terkejutlah sang Insinyur ketika mendengarkan balasan dari Ibrahim an-Naimi, ”Terima kasih. Justru aku termotivasi karena kejadian itu.”

Dalam sejarah kehidupan berikutnya, Ali bin Ibrahim Al-Naimi ini adalah Menteri Sumber Daya Minyak dan Mineral Arab Saudi. Ketika itu, beliau memiliki penghasilan sebesar 264 Miliar.

Begitulah. Banyak sekali teladan yang bisa kita adopsi, demi perbaikan diri kita di masa mendatang. Kisah lain, adalah seorang nenek yang sembuh dari sakit tulang dan rematiknya dengan mendengarkan rekaman dirinya yang berbunyi, "Saya senang kaki saya sehat." Ia mendengarkan rekaman itu selama 3 bulan atau sama dengan 108.000 kali. Yang mengejutkan, nenek itu sembuh dari sakitnya pada bulan keempat.


Kisah lainnya juga bisa kita dapatkan dari Syeikh Amar Bugis. Dalam kondisi cacat dan hanya mengandalkan mata, pendengaran dan otaknya, beliau berhasil menghafal al-Qur’an dalam usia 13 tahun.

Semoga, diri tak pernah lelah untuk memperbaiki kualitasnya. Aamiin. []

Disarikan dari Acara Muhasabah Akhir tahun Selasa, 31 Desember 2013 di Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik yang diselenggarakan Takmir masjid dan IKADI Gresik.

Penulis : Danil Setiawan
Editor : Pirman

10:35 PM | 0 comments

Terlepas dari Jeratan Rentenir Setelah Berdoa dan Berdzikir

Berdoa (foto dari ROL)
Ingatan Mujahid menerawang ke masa tiga tahun silam. Ketika usia perantauannya menginjak tahun ketiga. Ia adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara. Terlahir dari keluarga yang sederhana, tak membuat nyalinya ciut. Berbekal baju dan celana yang lusuh, ia berangkat ke ibu kota untuk mengadu nasib.

Petualangan Mujahid di ibu kota dimulai ketika adik pertamanya masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di kotanya. Ia dan adiknya itu hanya terpaut tiga tahun. Sedangkan adik keduanya, terpaut tiga tahun pula dengan adik pertamanya. Tak ayal, ketika Mujahid baru lulus SMA, adik pertamanya langsung masuk SMA, dan adik keduanya masuk SMP.

Meski demikian, semangat orang tua Mujahid untuk menyekolahkan anak-anaknya tak pernah surut. Apalagi, Mujahid berhasil menunjukkan prestasi gemilang dengan menyabet gelar Siswa Teladan di kabupatennya. Harapannya, adik-adiknya bisa melanjutkan tradisi prestasif itu.

Namun, karut marutnya pendidikan di negeri ini membuat niat orang tua Mujahid menjadi kacau. Apalagi, ketika pendidikan dikomersilkan. Nyaris saja, keluarga itu tak bisa menyekolahkan adik pertama Mujahid. Karena berasal dari keluarga sederhana, bapaknya hanya seorang kuli bangunan di Ibu Kota, dan kedua kakak Mujahid belum mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Tak ayal, Mujahid yang berprestasi itu harus mengalah untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia memilih untuk bekerja, dengan harapan bisa membiayai keenam adik-adiknya.

Didaftarkanlah adik Mujahid ke SMA favorit di kotanya. Bagi kalangan menengah ke bawah, biaya masuk SMA ketika itu tergolong mahal. Belum lagi, biaya masuk SMP adik kedua Mujahid. Sang ibu yang bersikeras agar anak-anaknya mengenyam pendidikan pun, mengambil jalan pintas. Ia menerima tawaran tetangganya untuk berhutang pada rentenir. Di sinilah, awal mula prahara itu terjadi.

Sang Ibu terpaksa mengambil jalan itu, demi anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan. Meskipun, Mujahid sudah berkali-kali mengingatkan, bahwa itu bukanlah jalan terbaik. Dengan semangat berbakti, Mujahid akhirnya membulatkan tekad untuk merantau. Harapannya, gaji dari bekerjanya di Ibu Kota, bisa segera digunakan untuk melunasi hutang pada rentenir.

Waktu berlalu, usia merantau Mujahid sudah memasuki tahun ketiga. Gaji yang ia terima hanya cukup untuk menyambung hidup, dan keperluan keluarganya. Nyaris, tak ada banyak kelebihan untuk membayar hutang pada rentenir. Gaji kakaknya juga demikian. Sehingga, hutang pada rentenir yang awalnya sebesar satu juta rupiah, kini berlipat menjadi tujuh juta rupiah. Jumlah itu tidak termasuk uang tiga jutaan yang sudah digunakan oleh Mujahid dan kakaknya untuk menyicil hutang kepada rentenir. Entahlah, bagaimana lintah darat itu menggerogoti saudaranya sendiri. Padahal, berdasarkan penuturan Mujahid, rumah rentenir itu, persis di depan rumahnya. Miris, tapi begitulah adanya.

Keluarga itupun kembali berunding. Aneka solusi ditawarkan, aneka rencana dicanangkan. Hingga akhirnya, disepakati waktu dan rencana aksi yang akan mereka lakukan. Mujahid berbagi tugas dengan kakaknya. Ia tetap tinggal di Ibu Kota, sedangkan kakaknya bertugas pulang kampung untuk melunasi hutang tersebut.

Waktu yang disepakatipun tiba. Ketika itu, bertepatan dengan hari dimana Mujahid biasa mengikuti Halaqoh Dzikir bersama KH. Arifin Ilham. Dzikir yang lembut, diselingi dengan taujih, serta ukhuwah yang menghangatkan, membuat Mujahid nyaman di halaqoh tersebut. Tak ayal, waktu dzikir itu adalah sarana untuk mencurahkan seluruh masalah kepada Sang Pencipta. Apalagi, dzikir itu dihadiri oleh ratusan bahkan ribuah jama’ah manusia. Belum lagi jama’ah malaikat yang tak pernah terlihat, apalagi terhitung. Sehingga syi’ar dan semangatnya semakin kental terasa.

Selepas subuh, Mujahid membonceng sahabatnya untuk mendatangi halaqoh dzikir itu. Berbekal semangat untuk bertemu saudara seiman, pagi itu sangat cerah dan menyemangati. Sampailah mereka di tempat dzikir selepas tiga puluh menit perjalanan. Keduanya bersegera mencari tempat yang nyaman di atas karpet yang sudah disediakan oleh panitia. Ribuan jama’ah berpakaian serba putih sudah memadati tempat itu.

Dzikir dimulai. Semesta pun bertasbih. Semuanya larut dalam puji-pujian akan kebesaran Allah. Mengenang Sang Nabi dalam syahdu, juga doa-doa untuk kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Tak lupa, doa untuk Indonesia Tercinta, juga untuk masyarakat, keluarga dan diri sendiri. Dalam lantunan doa itu, Mujahid mengucap lirih, beriring linang air mata, “Ya Allah, bebaskan kami dari jeratan rentenir itu. Dan, berikan petunjuk kepadanya.”

Entah berapa kali doa itu diucapkan. Hingga akhirnya, dzikir diakhiri dengan sujud syukur dan saling menyalami antara sesama jama’ah. Dalam jenak, ketika hati berada dalam puncak ketenangan, Hand Phone Mujahid berbunyi. Ada pesan masuk. Tertera dalam layar hitam itu, pesan masuk dari kakaknya. Hatinya bergetar. Harap-harap cemas. Dengan bismillah, ditekanlah tombol Buka Kunci, dan Baca Pesan. Hatinya bertambah ceria, syukur yang tak terukur, selepas membaca kalimat sederhana di layar itu, “Alhamdulillah, hutang kita pada rentenir sudah lunas.”

Serta merta, ia menyungkur dalam sujud. Kesadarannya penuh, bahwa yang bisa membuat mereka keluar dari jeratan rentenir itu hanyalah Allah. Apalagi, kakaknya hanya membawa dua juta, sedangkan dalam catatan rentenir, hutang keluarganya tujuh juta dari awalnya satu juta. Tanpa banyak tanya, Mujahid membalas singkat pesan itu, “Alhamdulillah…”

Yang tak kalah mengejutkan, berdasarkan kisah dari Mujahid ketika Ramadhan lalu, rentenir itu akan masuk Islam. Ia sudah mulai belajar mengenakan kerudung, dan dalam waktu dekat, insya Allah, ia akan menikah dengan lelaki Muslim.

Begitulah. Hidayah hanya milik Allah. Dialah pemberi solusi atas semua masalah. Tak perlu membenci siapa yang berbuat jahat kepada kita. Karena kebencian, tak pernah memberikan manfaat. cintai, dan doakan. Insya Allah, yang terbaik akan kita dapatkan. Semoga, apa yang Mujahid alami, menginspirasi kita semua.

Salam Jum’at Barokah. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

6:00 PM | 0 comments

Tak Perlu Banyak untuk Berbagi

Written By mimin on Thursday, December 12, 2013 | 10:00 PM

Hadiah kecil - ilustrasi
Hidup akan nampak lebih indah manakala diri mampu untuk berbagi. Berbagi dalam tiap dimensinya. Berbagi rizki, berbagi hadiah, bahkan jika hanya sekedar berbagi cerita kebaikan kepada orang-orang yang kita cintai ataupun orang-orang yang memang membutuhkan.

Berbagi, sejatinya hanya soal sikap, gaya hidup. Bukan semata karena kaya kemudian seseorang akan mudah berbagi. Karena untuk berbagi, kita tidak perlu mempunyai materi yang banyak ataupun berlimpah. Untuk berbagi, kita hanya membutuhkan kekayaan jiwa.

Fulan adalah salah satu pengajar di sebuah bimbingan belajar. Smart Kids nama bimbingan belajar itu. Di sana, Ia mengampu Matematika dan Bahasa Inggris. Di akhir semester, pihak yayasan mengadakan evaluasi. Waktu yang mereka ambil adalah hari Ahad pagi, ketika itu bertepatan dengan Pameran Buku Islam yang rutin diselenggarakan di kota tempat ia menetap.

Pagi hari, Fulan sudah siap di lokasi dengan teman satu profesi. Mereka berboncengan. Acara selesai sekitar jam 9. Mereka langsung pulang. Si teman pulang ke kontrakan, sedangkan Fulan langsung menuju ke pusat kota, tempat diselenggarakannya Pameran Buku Islam tersebut. Snack dari bimbel ia masukan ke dalam tas. Pikirnya, untuk dimakan nanti saja, sesampainya di tempat pameran.

Tepat setelah waktu dhuhur, Fulan tiba di sana. Ia langsung menuju ke tempat sholat yang disediakan di lantai dua. Selesai sholat, ia mencari ‘lapak’ untuk bersender. Melepas lelah, sembari menikmati bekal yang dibawanya dari bimbel. Dengan Bismillah, bekal itu sudah siap untuk dibuka dan dilahap. Lapar. Sejak pagi tadi, pemuda itu memang belum makan.

Entah bagaimana awalnya, ada dua penguji yang datang. Sepasangan bocah yang lusuh penampilannya. Sepertinya mereka sudah tidak mandi dalam bebarapa hari. Di tangannya ada gelas air mineral yang berisi beberapa receh, pemberian orang-orang. Mereka kemudian menghampiri Fulan sembari berkta, “Bang, bagi bang. Sudah dua hari belum makan.”

Naluri kemanusiaannya tersentak. Menu yang sedianya tinggal ia santap, kembali dibungkus untuk diberikan kepada dua ‘penguji’ itu. Perut yang tadinya keroncongan berangsur ‘diam’. Hatinya puas karena telah mengikuti bisikannya.

Dengan senyum manis, kedua bocah itu pergi. “Terima kasih ya Bang.” Ucapnya lirih. Ia hanya membalas dengan senyum termanis yang ia miliki. “Semoga Allah menerima persembahanku itu.” Bisiknya dalam sanubari.

Akhirnya, berbagi memang bukan soal jumlah. Bahkan, Qorun dan Koruptor di negeri kita yang berlimpah hartanya, justru terkenal karena keengganannya dalam berbagi terhadap sesama. Mari, berbagi. Karena berbagi adalah makna lain dari menambah. Semakin sering berbagi, maka akan semakin bertambah pulalah karunia yang akan Allah berikan. Pasti. Karena itu janji Suci dari Sang Robbi.

Bukankah ketenangan hati dan kedamaian jiwa lebih berharga dari harta sebanyak apapun di dunia ini? Maka berbagi, membuat hati lebih tenang dan jiwa lebih damai. Berbagilah, dengan kebaikan, apapun, sekecil apapun. Karena memang, tak perlu memiliki banyak untuk berbagi. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



10:00 PM | 0 comments

Tiga Wasiat Sopir Angkot

Written By mimin on Tuesday, December 10, 2013 | 9:30 PM

Ilustrasi nasehat (foto devianart.com)
Rasulullah berkali-kali mengingatkan kepada kita, bahwa hikmah adalah milik orang beriman. Di manapun hikmah itu berada, maka ambillah dan sebarkan kepada sesama. Beliau juga seringkali mengingatkan, bahwa satu diantara ciri kesombongan adalah anti kritik, tidak mau mendengarkan saran, nasehat atau aneka kebaikan dari selainnya.

Dalam kaitannya dengan hal ini, kesombongan bermakna juga merendahkan orang lain yang secara fisik maupun materi, lebih rendah dari diri kita. Padahal, Allah sudah jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa yang paling mulia diantara kita bukanlah yang paling tampan, bukan pula yang paling kaya, atau yang paling tinggi jabatannya. Allah menegaskan, bahwa yang paling mulia diantara kita adalah yang paling bertaqwa.

Adalah Faris. Seorang paruh baya asal Padang. Sudah sejakl 14 tahun menjadi pengendara mobil. Mulai angkot hingga bus antar provinsi, dan bus malam. Di usianya yang menanjak 44 tahun ini, atas kehendak Allah, dia sudah memiliki 3 anak, 1 istri dan 5 armada angkot di salah satu kota pinggiran Jakarta.

Dalam kesempatan yang sudah Allah atur dengan sangat baik, Faris bertutur kepada salah satu penumpangnya.

Dalam obrolan ringan, berteman mendung dan rintik senja itu, Faris yang menikah di usia 16 tahun itu, menuturkan banyak hal. Tentang kerja keras, kesungguhan dan pantang menyerah. Sehingga, sedikit banyak, di usianya yang memasuki angka 5 itu, ia sudah bisa membiayai kuliah anak pertamanya. Dia juga sudah mempunyai passif income dari 5 armada angkotnya itu. Dalam sehari, satu angkot disewakan dua kali. Sehingga, dalam sehari itu bisa 10 kali sewa. Persewa, tarifnya antara 80-85 ribu.

Dalam perbincangan hangat penuh canda itu, setidaknya ada 3 wasiat yang mungkin bisa kita petik hikmahnya.

Pertama, jangan tinggalkan sholat.
Banyak kita jumpai sopir angkot yang ugal-ugalan. Dengan penampilan yang kumuh, hiasan tato dan asesoris tak jelas lainnya. Sering juga kita jumpai mereka yang hobi mabuk, merokok tak kenal henti, hingga tindakan asusila yang tak selayaknya.

Namun, diantara kubangan lumpur itu, jika kita mau jernih dan sedikit berusaha mencari lebih mendalam, sejatinya masih banyak mutiara yang bisa kita ambil, bersihkan dan kita manfaatkan untuk kepentingan kehidupan kita.

Andai, nasehat ini berhasil dipraktekan, bukan hanya oleh Faris, insya Allah negeri ini akan berjaya. Karena bagaimanapun, khususnya di kota-kota besar, populasi sopir angkot lumayan banyak. Jika kebaikan sudah menjadi jamak, maka insya Allah, berkahNya akan tercurah limpah.

Dua, rajinlah menabung.
Masih ingat 5 armada angkot yang dimiliki Faris? Bahkan, ia sudah memiliki rumah sendiri. Kiat yang ia ceritakan, salah satunya adalah dengan rajin menabung. Ia menuturkan, menabung setidaknya mempunyai 3 manfaat. Untuk persediaan ketika ada kepentingan mendesak, untuk investasi jangka panjang dan agar bisa menolong ketika ada orang lain yang membutuhkan.

Menabung, hendaknya, bagi kita, tak sebatas recehan rupiah atau dollar yang tak teratur nilainya. Hendaknya, kita upayakan juga menabung dalam bentuk emas. Di samping karena nilainya yang stabil dan relatif menanjak, emas dalam bentuk dirham dan dinar adalah jaminan kesuksesan finansial sebagaimana terbukti sejak zaman nabi. Tentu, jika kesemuanya itu dibungkus dengan sholat sebagai manifestasi iman dan taqwanya seseorang.

Yang tak kalah pentingnya, jangan hanya maknai menabung sebagai tabungan duniawi. Ada akhirat yang harus kita kejar. Sehingga, sebagai seorang muslim, tabungan akhirat berupa amal sholih terbaik, sebanyak mungkin, haruslah kita upayakan. Insya Allah, kita bisa.

Ketiga, jangan lupakan orang tuamu.
Ridho Allah tergantung ridho orang tua, murka Allah tergantung murka orang tua. Nampaknya nasehat ini benar adanya. Cukuplah Malin Kundang yang menjadi batu karena kedurhakaannya.

Seringkali, setelah berumah tangga, seorang anak melupakan kewajibannya kepada orang tua. Apalagi, ketika ia sebagai anak laki-laki dan istrinya kurang bisa memahami. Hendaknya, hal ini bisa dikomunikasikan dengan baik. Bahwa bagi seorang anak, baktinya kepada orang tua tetaplah wajib. Pun, ketika ia sudah menikah dan memilki keluarga yang baru.

Faris menuturkan pengalamannya, “Kalau ada rejeki lebih, jangan simpan sendiri. Berikan hak orang tua. Insya Allah, hidup berkah, rejeki lancar.”

Akhirnya, hikmah memang berada di banyak tempat. Pertanyaannya, apakah kita berkenan mengambil dan menyebarkannya, atau antipasti lantaran melihat kegelapan di setiap penjuru, sehingga tak ada alasan untuk menyalakan pelita? []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com



9:30 PM | 0 comments

Rejeki Menyegerakan Menikah

Written By mimin on Friday, November 29, 2013 | 1:10 AM


Satu diantara banyaknya alasan yang sering digunakan oleh mereka yang menunda menikah adalah masalah keuangan. Belum lulus kuliah, belum mendapat pekerjaan yang matang, belum memiliki kendaraan, rumah dan fasilitas duniawi lainnya. Mirisnya, alasan itu lebih pada pembenaran atas kemalasan dalam memperbaiki diri. Karena alasan itu tidak diiringi dengan upaya keras untuk memenuhi apa yang dihajatkan itu.

Padahal, jika mau jujur, alasan-alasan itu jelaslah tidak terbukti. Apalagi, Allah sudah meyakinkan melalui al-Qur’an, bahwa siapa yang fakir, kemudian menikah, maka Allah akan membuatnya menjadi kaya.

Saya meniatkan untuk nikah di usia 26tahun. Karena pertimbangan mengurus adik yang jumlahnya lumayan banyak. Namun, memasuki usia 25 tahun, kebutuhan untuk menikah semakin terasa. Apalagi, banyak tawaran yang diajukan. Baik oleh ustadz, teman, tetangga dan rekan kerja. Maka, jadilah saya berdoa agar Allah menyegerakan saya untuk menikah, dalam waktu dekat, sebelum usia 26 tahun.

Sempat khawatir terkait dana untuk menikah. Mengurus surat numpang nikah, surat nikahnya sendiri, bawaan, mahar, biaya ketika lamaran, walimah dan lain-lain. Alhamdulillah, setelah niat bulat, Allah membuat hati semakin yakin dengan apa yang sudah saya niatkan. Proses perkenalan berlangsung, hingga akhirnya saya mantap. Tentu, setelah meminta pertimbangan dengan keluarga besar saya.

Keluarga sempat khawatir, karena jauhnya perbedaan usia antara saya dan calon istri. Tapi setelah ikhtiar dan tawakkal, akhirnya keluarga mendukung tanpa tapi. Keluarga tidak bisa banyak membantu dalam hal materi, mereka menyerahkan semuanya kepada saya, utamanya terkait biaya. Untunglah, keluarga calon istri mau menerima usul saya untuk menyederhanakan walimah.

Maka, ditemuilah kata sepakat terkait waktu akad nikah dan walimah setelah kami bersilaturahim ketika khitbah. Jarak antara khitbah dengan menikah itu, hanya sebulan lebih sepekan. Sementara, belum ada uang yang saya genggam. Karena layar sudah dikembangkan, pantang mundur ke belakang.

Alhamdulillah, kedua kakak memberikan bantuan. Meski tidak terlalu banyak, hal itu sudah sangat membantu. Sejak proses khitbah itulah, Allah menepati janjiNya. Jualan buku online saya, yang hanya via fesbuk, mencapai penjualan fantastis. Dalam sebulan itu, omset yang saya terima, melebihi angka 14 juta. Padahal, sebelumnya hanya berkisar 1-3 juta.

Selain hal itu, Allah memudahkan semua proses. Termasuk tawaran-tawaran mobil gratis dari teman liqo’, Murobbi yang sangat antusias membantu dengan sepenuh cinta untuk menjadi perwakilan sambutan dari pihak keluarga kami ketika akad, juga menjadi saksi nikah. Proses kedatangan keluarga ke Jakarta juga dimudahkan. Mulai dari diantarkan oleh Guru SMP saya, sampai dimudahkan di perjalanan berupa tidak macet dan sampai dalam keadaan selamat.

Memang, sempat ada ‘kerikil’ kecil menjelang hari H. ATM saya hilang. Sempat bingung dan tidak berani menyampaikan kepada keluarga apalagi bapak dan ibu. Takut jika mereka khwatir. Namun, saya kira, keterbukaan akan memudahkan segalanya. Akhirnya saya bercerita. Tak disangka-sangka, bapak kemudian mengulurkan ‘tangannya’, “Ini uang bapak, pakai aja. Semoga berkah.”

Masalahnya, uang untuk operasional hari H masih di ATM. Sedangkan kejadian hilang hari Sabtu. Bank sudah tutup. Entah dari mana, pikiran saya tertuju pada seorang sahabat. Saya pun mengirim sms kepadanya, “Bang, ada uang ngangggur, gak? Saya mau pinjam. Pekan depan dikembalikan.” Tak dinyana, sahabat itu langsung menyetujui, “Silahkan ke rumah.” Rumah sahabat itu lumayan jauh. Sempat tidak diijinkan oleh orang tua untuk pergi. Lantaran khawatir dan esok sudah hari H. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu akhirnya mengijinkan saya untuk pergi, karena alasan saya, sekalian ngecek ATM, barangkali tertinggal di tempat kost.

Sesampainya di rumah sahabat, uang langsung dikasihkan setelah saya bercerita kronologi kehilangan ATM. Alhamdulillah, Allah memberikan dua kemudahan berupa pinjaman dan pemberian ketika satu kesulitan berupa kehilngan ATM saya alamai. Allah, memang Maha Baik.

Setelah akad terucap, bibir, fikir dan hati hanya bisa mengeja syukur. Karena Allah memudahkan dan semoga melimpahkan keberkahan, ketika hambaNya bersungguh-sungguh menyegerakan melakukan ibadah bernama menikah.

Yang tak kalah mengejutkannya, karena kami menikah di tanggal 8 Dzuhijjah 1434 H, malamnya saya dipanggil oleh adik ipar. Dia berkata, “Mas, tolong sampaikan ke bapak dan ibu, beliau berdua saya ikutkan qurban sapi. Begitupun dengan Mas dan istri.” Seperti mimpi. Niat qurban yang sempat tidak jadi dilakukan karena uang digunakan untuk walimah, Allah ganti dengan cara yang sangat indah. Bukan hanya satu nama, tetapi langsung 3 nama. Saya, bapak dan ibu bisa berqurban tahun ini, karena Allah, melalui hadiah, setelah saya nikah.

Kemudian, tepat sepekan setelah menikah, hutang kepada sahabat itu langsung saya lunasi. Sesuai janji dan memang uangnya sudah ada. ATM saya urus, dan melunasi hutang dari uang di ATM.

Kini, hidup serasa lebih lapang. Meski tahu di depan sana banyak onak duri, rasanya damai karena ada istri yang setia menjadi sahabat sejati dan keluarga yang siap bersinergi. Allah, Maha Menepati Janji. Menikahlah, karena Allah. Maka keajaibanNya, bukan sekedar janji.[]

Note : Dimuat di Majalah Tarbawi Edisi 307, Rubrik Kiat, dengan perubahan dan modifikasi.


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



1:10 AM | 0 comments

Kunci Sukses Seorang Anak

Written By mimin on Thursday, November 21, 2013 | 5:00 PM

Ibu berdoa sambil menangis - ilustrasi
Umar bin Khaththab pernah memberi taujih, "Bersikap manjalah di depan ibu dan istrimu." Yang pertama, sudah berhasil saya praktekan. Dan ini sangat manjur. Saya memperoleh kekuatan dahsyat setiap selesai mudik. Dimana ketika mudik, acara saya adalah membersamai beliau.

Mulai dari mencium pipi dan kening, mencium tangan beliau sehari lima kali, memijiti pundak beliau, mendengarkan kisah ceria beliau, sampai menemani beliau memasak dan berbelanja. Ya, meski sekedar membantu mengisi panci dengan air untuk direbus, menumbuk aneka bahan sambal ataupun mempersiapkan bahan-bahan masakan. Yang tak kalah serunya, memboncengkan beliau ke pasar yang jauhnya sekitar sepuluh kilo meter dari ‘surga’ kami.

Di sepanjang jalan, ibu bercerita banyak hal. Tentang mimpinya, tentang kesehariannya jika saya tidak di rumah, tentang masjid, imam dan jama'ahnya, juga tentang siapa yang telah mati dan siapa yang nikah atau nikah lagi.

Nah, beberapa bulan yang lalu, saya diliputi perasaan bersalah lantaran merasa belum bisa membahagiakan ibu. Alhasil, saya menelpon beliau. Sedetik setelah mengucap salam, air mata saya tumpah. Beliau bingung. Saya hanya berucap, "Maafkan saya Bu. Saya belum bisa membahagiakan Ibu. Doakan agar kami menjadi anak sholih dan bisa membuat Ibu bahagia."

Beliau bingung. Namun beliau sangat memahami anak-anaknya. Beliau hanya menjawab lirih, penuh tenaga, "Gak apa-apa, Nak. Ibu tak akan pernah lelah dan tak akan pernah lupa mendoakan kalian semua. Terima kasih untuk baktimu selama ini."

Maka menangis, bagi saya adalah ekspresi jiwa. Bukan perlambang kelemahan. Tapi pekanya hati. Sebelum tangis syahdu itu, saya tunaikan witir. Dan setelahnya, saya tidur dengan sangat tenang.


Pagi hari, sebelum genap jam 7 pagi, ada sms masuk bahwa salah satu pembeli buku sudah melakukan transfer. Tak berselang lama, ada konfirmasi sejenis. Bahkan, ada satu transferan masuk yang belum konfirmasi sampai beberapa jam setelahnya.

Siang pun damai. Sudah menyelesaikan 2 tulisan. Satu sudah dimuat di website dan satunya dikirim ke media cetak. Semoga tulisan kedua menemukan takdir terbaiknya.

Ibu itu, bagi saya, orang tercantik di dunia ini. Jika kemarin ada yang bilang bahwa hanya doa ibu yang bisa mengalahkan Barcelona. Maka menurut saya, saat ini, hanya doa Ibu yang bisa mengalahkan Bayern Muenchen. :D

Ibu, adalah oase di tengah kegersangan dunia yang penuh makar. Mari, cintai Ibu, melebihi cinta kita kepada diri kita sendiri.

Aku Tresno Marang Slirahmu, Mae. []




Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



5:00 PM | 0 comments

Kontemplasi untuk Kesuksesan

Written By mimin on Thursday, November 14, 2013 | 5:10 PM

Ilustrasi munajat (foto dari islamdaniman.blogspot.com)
Satu dari sekian banyaknya hal yang menjadi penyakit kita adalah tentang kegamangan. Seringkali, untuk mengatasi itu, kita bertanya kepada banyak orang. Anehnya, yang ditanya tak lebih tahu dari yang bertanya. Jikapun dia tahu, maka dia hanya memberi jawaban. Karena pelaku, penanggungjawab, tetap diri kita sebagai pemain utama.

Maka, bijaklah dalam meminta pertimbangan, dari siapapun. Karena pada akhirnya, dirimulah yang paling bertanggungjawab atas masa depanmu. Bukan orang lain. Dalam setiap tahap ini, jangan lupa satu hal: sertakan Allah, karena kedekatan denganNya adalah pangkal kesuksesan.

Jika kegamangan menjadi masalah pertama, maka masalah kedua yang tak kalah parahnya dalam menjangkiti kita adalah kesalahan persepsi. Ini terjadi ketika kita mengukur diri sendiri dengan standar orang lain.

Ini konyol. Tapi sering terjadi. Mengapa konyol? Karena hal ini, tak ubahnya mengukur sepatu yang akan kita kenakan, tapi yang digunakan sebagai pengukur adalah kaki orang lain. Maka, benarlah. Dalam hal ini, jaka sembung pasti makan permen. Gak nyambung Men!

Maka, milikilah konsep diri yang jelas. Jangan salah persepsi terkait idola. Belum tentu yang kita idolakan sesuai dengan passion kita masing-masing. Kecuali yang kita idolakan adalah Rasulullah. Sehingga, yang terpenting adalah melakukan kontemplasi untuk menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Bukan ngekor, mbebek apalagi taqlid.

Dalam melakukan kontemplasi menemukan kesejatian diri ini, satu hal yang menjadi asasi adalah selalu membawa Allah. Dekati Dia, minta tolong padaNya. Dia Maha Baik. Dia tidak mungkin dholim. Dia pasti membimbing siapa saja yang bersungguh-sungguh. Semoga, kita tak pernah lupa. Bahwa kedekatan dengan Allah adalah jaminan kesuksean bagi kita di masa yang akan datang.

Rutinkan melakukan kontemplasi di tengah gemuruh dunia yang semakin memekakan telinga dan membuat risau hati kita. Karena kontemplasi, adalah satu diantara banyaknya jalan untuk mendekatkan diri denganNya. Bukankah, Muhammad muda sebelum diangkat menjadi Rasul rajin melakukan kontemplasi di Gua Hira’? Dan beliau, setelah menjadi Rasul, semakin rajin melakukan kontemplasi dengan perbanyak ibadah di sepertiga malam. Bahkan diriwayatkan, kaki beliau bengkak lantaran lamanya melakukan Tahajud.

Beliau juga sering diriwayatkan, menangis tersedu-sedu memikirkan umat, hingga subuh menjelang. Jika hidup kita selama ini biasa-biasa saja, bisa jadi lantaran kontemplasi yang yang sangat jarang kita lakukan. Tapi wajib diingat, kontemplasi dalam beribadah harus menjadikan ibadah kita mempunyai ruh. Bukan kontemplasi dengan puasa tanpa makan dan minum, atau menyendiri di tengah hutan atau laut dengan dalih mencari wangsit.

Salam sepenuh cinta. []



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



5:10 PM | 0 comments

Kiat Mengatasi Kebosanan

Written By mimin on Thursday, November 7, 2013 | 5:00 PM

Akhwat sedih - ilustrasi bosan
Satu diantara sekian banyaknya hikmah mengapa Allah mensyaria'atkan berbagai macam jenis ibadah, adalah karena kita seringkali dihinggapi rasa bosan. Sehingga, dengan banyaknya jenis ibadah tersebut, kita diberi 'wewenang' untuk memilih. Memilih mana yang paling sesuai dengan kemampuan kita. Tentu, yang dipilih adalah yang jelas keshahihannya. Bukan memilih antara baik dan tidak baik. Tapi memilih diantara yang baik. Bukan pula memilih antara sunnah atau bid'ah, tapi memilih satu atau dua diantara banyaknya jenis sunnah.

Misalnya saja, puasa sunnah. Ada banyak ragamnya. Yang paling lazim, sunnah Senin dan Kamis. Puasa ini banyak sekali peminatnya. Disamping pahala yang berlimpah dan janji dicintai Allah bagi siapa yang merutinkan amalan sunnah, ritme pelaksanaannya relatif lebih ringan.

Dalam sepekan hanya ada dua hari. Diantara dua hari itu, ada jeda dua dan tiga hari. Pun, dalam sebulan. Bisa dilaksanakan terus menerus sebulan-delapan kali puasa. Atau, bisa selang seling sepekan puasa sepekan tidak, atau dua pekan puasa, sepekan tidak puasa, dua pekan puasa lagi.

Tentu, yang paling baik adalah yang rutin dilakukan meskipun jumlahnya sedikit.

Disamping sunnah Senin - Kamis, ada juga puasa enam hari di bulan Syawal. Setahun adanya cuma sekali. Hanya disyariatkan di bulan Syawal juga, tidak boleh di bulan lain. Namanya aja puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Dalam pelaksanaan puasa ini, ada banyak opsi.

Misal, langsung menjalankan sejak tanggal dua Syawal sampai tujuh Syawal. Bisa juga di pertengahan atau akhir, tetap secara berturut-turut. Bisa juga, dilaksanakan selang-seling. Baik sehari puasa sehari tidak, dilaksanakan ketiga hari Senin - Kamis, atau dengan variasi lain.

Dan masih banyak lagi jenis ibadah sunnah lain yang mempunyai opsi syar'i dimana kita bisa mensiasatinya, agar tetap bisa menjalankannya.

Maka, bagi mereka yang ketika lajang rutin mendawamkan puasa sunnah Daud, akan lebih baik jika terus mengistiqomahkan itu selepas nikah. Tentu, dengan tidak mengabaikan hak suami istri sesuai yang telah disyari’atkan. Jika karena satu dan lain hal tidak bisa dilaksanakan, maka jangan sampai 'lulus' puasa sunnah selepas nikah. Hanya karena alasan waktunya 'berbuka'. Apalagi alasan lain yang tidak syar'i. Bukankah puasa bisa meningkatkan vitalitas ruh, fikir dan juga fisik?

Hampir, tidak ada alasan untuk tidak mendawamkan puasa sunnah, kecuali lantaran kemalasan diri dan kemauan yang lemah untuk menjadi lebih baik. Semoga Allah menolong kita. Semoga Allah menguatkan kita untuk istiqomah menjalankan perintahNya dan sunnah NabiNya.

Terkait kehidupan duniawipun, kita bisa menyiasati. Agar kita tidak bosan, agar kereta yang kita pacu terus melaju mulus menuju stasiun kesuksesan. Jika lamanya perjalanan membuat kita bosan, maka berhentilah, rehatlah. Ambil air wudhu dengan sempurna, gelar sajadah dan munajatlah pada Allah yang Maha Membolak-balikan hati. Karena sejatinya, sukses adalah hak seorang muslim yang mukmin.

Salam sepenuh cinta.[]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



5:00 PM | 0 comments

3 Pilar Kesuksesan Sejati (3)

Written By mimin on Thursday, October 31, 2013 | 9:00 PM

Ilustrasi sukses (foto dari waspada.co.id)
3 langkah sukses yang kita bincangkan di muka adalah satu kesatuan. Jika ingin adalah bahan bakar, yakin adalah peta yang harus dilalui agar sampai pada tujuan seefektif mungkin, maka aksi -langkah ke 3- adalah kendaraan yang akan mengantarkan kita dalam mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Sehingga, 3 langkah ini adalah harga mati. Tidak bisa ditawar atau dipisah. Merupakan kesatuan utuh yang dengannya, mimpi akan menjadi fakta. Jika kita mencoba untuk mengabaikan satu diantaranya, maka gagal adalah jaminannya.

Kita sudah menyelesaikan Ingin. Jalannya ada 3 : banyak baca, banyak gaul, banyak jalan. Kemdudian Yakin. Pintunya juga ada 3 : tuliskan, susun langkah dan doa. Maka sehebat apapun ingin dan yakin kita, ketika tidak diiringi aksi nyata, maka ia bagaikan mimpi di siang bolong.


Aksi ibarat kendaraan. Seberapapun banyak bahan bakar yang kita miliki, seberapapun detail peta yang kita susun, jika kita tak punya kendaraan, apapun jenisnya, maka kita tak mungkin sampai di tujuan. Kendaraan ini banyak macamnya. Bisa punya kita sendiri, bisa juga dipinjami. Bisa pula meminta orang lain untuk menjalankan misi kita. Intinya, keberadaan kendaraan ini mutlak adanya.

Di langkah ini, kita juga memerlukan 3 hal : kesungguhan, kecerdasan dan kesabaran. Kesungguhan adalah sikap yang bisa membuat kita bersemangat. Tidak mudah menyerah dan melaksanakan semuanya sepenuh hati. Satu hal yang bisa ditempuh agar kita sungguh-sungguh adalah sadari manfaatnya.

Kesungguhan tidaklah cukup tanpa kecerdasan di dalamnya. Cerdas adalah memahami medan. Sehingga bisa menempuh rute yang sama dalam waktu yang paling cepat dengan selamat pula. Jika kesungguhan tidak diikuti dengan kecerdasan, bisa mengarah pada kerja yang membabi buta. Termasuk di dalamnya buang waktu dan potensi.

Maka kesungguhan dan kecerdasan itu bukanlah hal yang instan. Harus dibumbui kesabaran agar bisa sampai dengan gemilang. Sabar adalah nutrisi yang bisa membuat kendaraan berjalan stabil. Sabar adalah jalan pintas menuju kesuksesan. Sabar bukanlah berpangku tangan dan menunggu durian runtuh. Melainkan upaya mencari yang terbaik diantara sekian banyak cara. Sabar juga merupakan upaya mengumpulkan seribu langkah dari hentakan pertama. Atau menabung 100 Kg emas batangan dengan mulai mengumpulkan rupiah untuk membelinya gram demi gram.

Sedikit contoh tentang minimnya aksi. Mungkin kita juga pernah mendapatinya. Sebut saja Fulan. Ia sahabat Penulis. Sering bercerita bahwa ia ingin menjadi penulis pula. Sering berdiskusi. Tentang kiat praktis juga hal-hal yang bersifat motivasi. Termasuk di dalamnya memberi contoh. Tapi apa mau dikata? Si Fulan ini membaca saja jarang. Baru 15 menit membuka buku, dia sudah pusing. Jika tidak pusing, dia tertidur. Pernah memang, tulisannya dimuat di media online. Tapi terlalu lama bergembira sehingga lupa menulis lagi. Sampai sekarang, tak ada satupun pemuatan berikutnya.

Ingin dan yakinnya tidak berlanjut pada aksi. Sehingga semuanya tinggal angan kosong. Maka, aksi adalah kendaraan yang akan membuat bahan bakar ingin kita bermanfaat sempurna dan membuat peta yakin kita ditepati dengan baik. Dan ketiga hal ini -ingin,yakin dan aksi- adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Memisahkan satu diantara ketiganya, adalah cara paling pasti menuju kegagagalan.

Jadi, ingat 3! Lakukan ketiganya. Bukan satu, dua atau satu dan dua. Melainkan 3. Itulah jalan sukses yang insya Allah akan membuat mimpi kita menjadi nyata. Oya, 3 hal tersebut seiiring sejalan. Saling melengkapi. Sehingga 3 langkah ini, tak bisa ditawar lagi. Ingat ya, 3!


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



9:00 PM | 0 comments

3 Pilar Kesuksesan Sejati (2)

Written By mimin on Thursday, October 24, 2013 | 7:00 PM

Ilustrasi sukses (foto dari waspada.co.id)
Setelah menginginkan sesuatu, apapun, maka jadikan ia hidup dalam imajinasi kita. Tersenyumlah setiap kita mengingatnya, dan katakan dengan mantap kepada dirimu sendiri, "Insya Allah, bukan mimpi. Melainkan fakta yang menunggu momen keberhasilannya."

Setelah ia benar-benar hidup dalam imajinasi kita, berikutnya yakini. Yakini bahwa semua yang kita ingini akan menjadikan kenyataan. Yakini bahwa Allah akan mendukung kita dengan Maha KuasaNya. Yakini bahwa semesta dan orang-orang yang kita mencintai akan mendukung semua yang kita ingini. Jika mereka bertolak belakang? Sajikan data, ceritakan dengan cinta. Maka yakinlah, bahwa mereka akan mendukung ingin kita. Bahkan, jika kita tulus, maka orang yang awalnya menolak akan beralih menjadi pendukung pertama dalam mewujudkan ingin itu.

Yakin haruslah berwujud pada rencana. Detail. Gamblang. Imajinasikan bahwa apa yang diingini benar-benar ada. Pertama, tuliskan. Kedua, susun langkah. Ketiga, bawa ia dalam tiap pinta kepada Sang Maha.

Tulis semua ingin agar kita tidak lupa. Tulis agar banyak orang yang membaca dan mengamini. Tulis agar mudah mengukur berhasil atau tertundanya. Tulis! Untuk menyempurnakan. Tulis di tempat yang mudah dilihat, tulis dimana kita mau. Di komputer, buku catatan, blog, web pribadi, kamar, dan seterusnya.

Setelah ditulis, dimanapun, lanjutkan dengan langkah kedua, susun langkah. Buat sedetail mungkin. Kapan? Dimana? Bagaimana? dan seterusnya. Hal ini akan menjadi lebih mudah untuk melakukan evaluasi. Detailnya langkah merupakan tanda kesungguhan kita.


Jika misalnya kita menginginkan surga. Maka, kapan sudah pasti terjawab : setelah mati. Lantas, Bagaimana caranya? Sederhana. Meski susah : lakukan amalan penghuni surga. Lakukan amalan agar Allah berikan rahmatNya sebagai tiket masuk surga, jauhi penyebab-penyabab yang memasukkan kita ke dalam neraka. Saya ulangi : sederhana. Tapi, susah.


Jika ingin kita terkait duniawi, misalnya, maka sama langkahnya. Dulu, ketika kecil saya sudah punya mimpi : menulis dan dimuat di media. Ingin tersebut benar-benar hidup dalam imajinasi saya. Sampai akhirnya saya masuk SMP, masuk ke dalam tim mading ( majalah dinding ). Meski tidak juara, kami berhasil mengikuti lomba mading tingkat kabupaten. Mimpi itu terus hidup. Sampai sekarang. Dan ia menjadi semakin jelas. Mau nulis apa? Dikirim kemana? Kriterianya apa? Karakter medianya bagaimana? Meski lebih sering gagal, tapi saya selalu ingat dengan petuah salah satu guru saya : teruslah menulis. kelak, tulisanmu akan menemukan takdirnya masing-masing. Iya. Tepat sekali. Tulisan kita punya takdirnya. Apakah hanya menjadi koleksi diary? Dinikmati sahabat fesbuk kita? Dimuat media online? Cetak? Menjadi buku dan tidak laku? Atau menjadi buku dan best seller?.

Setelah semuanya jelas. Berikutnya, bawa proposalnya ke langit. Adukan kepada Yang Maha Mengabulkan. Ceritakan segalanya. Meski Dia Maha Tahu, Dia Mengetahui yang tersirat dan yang tersurat. Sampaikan saja. Dan yakini, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik. Dia akan jadikan semua mimpi kita menjadi nyata.

Maka, tak jarang saya berdoa, "Ya Allah, saya ingin punya pesantren gratis untuk dhu'afa' di kampung saya. Bagaimanapun caranya, terserah Engkau. Ini proposalnya." Atau misalnya, "Ya Allah, kami butuh uang 100 juta untuk renovasi rumah. Bagaimanapun caranya, terserah Engkau. Kami sudah lakukan apa yang kami bisa."

Setelah doa itu terpanjatkan ke langit, iringi dengan dzikir. Menyebut, memuji, mengagungkan nama-nama Allah. Dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Yang penting dicatat, semua dzikir bermanfaat. Asal sesuai ajarang Kanjeng Nabi. Dan sebaik-baik dzikir adalah membaca al-Qur'an. Jangan lupa manfaatkan waktu-waktu mustajab ketika berdoa. Di kala fajar, setelah subuh, dhuha, setiap selesai sholat, seusai tilawah al-Qur'an, di sepertiga malam. Dan seterusnya. [Bersambung]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia





7:00 PM | 0 comments

3 Pilar Kesuksesan Sejati (1)

Written By mimin on Thursday, October 17, 2013 | 5:30 PM

Ilustrasi sukses (foto dari waspada.co.id)
Semua orang sukses di dunia ini, memulainya dari satu kata: ingin. Ingin sering pula disebut dengan mimpi. Mimpi inilah yang kemudian bertransformasi menjadi langkah nyata sehingga ujungnya sukses.

Ingin adanya dalam bayangan. Biasanya, banyak ingin karena seseorang banyak bergaul, banyak membaca dan banyak berjalan. Misalkan saja kita membaca buku tentang surga dan fenomena nikmatnya. Maka ruang bawah sadar kita, secara otomatis akan menginginkan surga. Begitupun misalnya kita membaca sebuah buku atau ayat tentang neraka, maka kita pasti akan menginginkan terbebas dari siksa neraka.

Berikutnya banyak bergaul. Jangan hanya bergaul dengan yang sebaya. Dalam sebuah kajian sederhana, setidaknya kita bergaul dengan 3 jenis orang. Pertama orang yang lebih tua dari kita. Manfaatnya, agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Termasuk mempelajari sebab-sebab kegagalan yang pasti mereka alami, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama.

Kedua, bergaul dengan yang sebaya. Ini sangat penting. Agar kita bisa mengaktualisasikan diri. Karena pengalaman relatif sama, kemampuan juga begitu. Sehingga kita bisa saling menerima masukan, termasuk saling narsis, dan seterusnya. Pendeknya, bergaul dengan yang sebaya ini membuat kita lebih free jika dibanding dengan orang pertama.

Ketiga, kita harus banyak bergaul dengan yang lebih muda dari kita. Secara fisik maupun psikis. Sederhana saja. Agar kita tidak perfeksionis. Agar kita menyadari bahwa kita yang sekarang, dulunya lemah juga, dulunya kecil juga. Ini merupakan komponen kebijakan pula. Di samping itu, bergaul dengan golongan ketiga akan membuat kita bisa merasa tua. Bersikap bijak dan menganggap golongan ketiga ini sebagai anak kita, adik kita atau kita di masa kecil dulu.

Terakhir, banyak berjalan. Ini mutlak diperlukan. Untuk menghibur diri, untuk mengasah imajinasi. Karena banyak yang akan kita temukan di tempat-tempat yang baru kita kunjungi. Termasuk di dalamnya, mengambil kebaikan di sebuah tempat untuk diaplikasikan di tempat lain.

Jika sudah banyak membaca, bergaul dan berjalan, insya Allah kita akan punya banyak ingin. Ingin punya perusahaan, pondok pesantren gratis untuk dhuafa', rumah baca, masjid, perpustakaan umum, kontrakan gratis untuk para penuntut ilmu, menulis buku best seller, punya rumah sakit, dan muaranya : masuk surga dan bertemu Allah. Aamiin. Jadi, apa yang sahabat sekalian inginkan? [Bersambung ke Pilar Kesuksesan Sejati (2)]


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



5:30 PM | 0 comments

Agar Rejeki Berlipat Ganda

Written By mimin on Thursday, October 10, 2013 | 8:10 PM

Foto ilustrasi dari science.lintas.me
Sedekah pada mulanya adalah berbagi. Apapun, asal kebaikan. Bahkan, mereka yang tidak mempunyai uang sekalipun, bisa bersedekah dengan senyum dan bermuka manis. Sabda Nabi, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Kejadian ini terjadi sekitar 3 bulan yang lalu, tepatnya setelah Shalat Ashar. Ketika itu, saya tengah mengulang-ulang bacaan Surah al-Waqi’ah, surah ke 56 dalam al-Qur’an. Bagi saya, surah tersebut merupakan kunci ‘kekayaan’. Bagaimana tidak? Dalam sajian singkat itu, terpampang pemandangan indah seputar surga dan pemandangan mengerikan terkait neraka. Sehingga, dua hal ini saja, jika dihayati, akan membuat kita berharap surga dan cemas ketika kelak dimasukkan ke dalam jurang neraka. Dan itulah kaya yang sebenarnya, ketika surga lebih kita harapkan melebihi apapun di dunia ini.

Sesaat kemudian, saya teringat kalau ada beberapa teman yang melaksanakan puasa sunnah Senin - Kamis. Maka, sayapun beranjak merogoh kantong. Niatnya, membelikan sedikit makanan untuk mereka ketika masa berbuka tiba. Teringatlah sebuah hadits, “Barangsiapa menyediakan hidangan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka orang tersebut akan diberikan ganjaran berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.”

Niat pun tertunaikan dengan gemilang. Hanya Jus Sirsak dan sedikit makanan khas Indonesia, Gorengan. Nilai kesemua hidangan itu, hanya dua puluh lima ribu rupiah.

Sesaat sebelum maghrib, ‘rampasan perang’ tersebut saya bagikan kepada mereka yang telah saya jadikan target. Alhamdulillah, rasanya nikmat ketika bisa berbagi, meski ala kadarnya.

Tak lama kemudian, adzan berkumandang. Saya memilih menikmati teh tubruk buatan sendiri. Dan memakan gorengan rame-rame dengan teman-teman. Sekitar lima menit setelah adzan, ada Bos yang menghampiri. Teman-teman tengah mengambil lapaknya masing-masing. Beliau tiba-tiba menyodorkan lembaran rupiah berwarna biru, lima puluh ribu. Katanya, “Buat tambahan jajan.” Dengan tanpa basa basi, saya berucap, “Baik, Pak. Terima kasih ya.”

Sekitar lima menit berselang, Bos lain menghampiri. Kali ini, dia datang dari arah belakang. Tanpa saya perkirakan, beliau pun menyodorkan selembar uang rupiah berwarna merah, seratus ribu, dengan berucap, “Buat tambahan beli pulsa, Mas. Hadiah dari saya.” Tanpa koma, saya pun menerima hadiah tersebut dengan beriring senyum dan kalimat syukur, “Baik, Pak. Terima kasih ya. Alhamdulillah”

Setelah kedua Bos itu berlalu, saya baru berpikir. Ada dua rejeki beruntun. Jumlahnya pun lumayan bagi seorang karyawan pabrik seperti saya. Dalam jenak, saya berkesimpulan, “Mungkin, ini balasan dari Allah atas niat saya berbagi kepada teman-teman yang tengah berpuasa sunnah tadi. Sehingga uang dua puluh lima ribu, dibalas tunai dengan seratus lima puluh ribu. Enam kali lipat.”

Saya pun terdiam sembari bersyukur. Bahwa janji Allah itu benar. Ketika niat kita lurus, maka Allah akan membuktikan janjiNya. Sehingga, akhirnya kita harus sepakat, bahwa sedekah, jika dilakukan dengan ikhlas, hanya akan menghasilkan keberkahan bagi pelaku dan penerimanya.

Jikapun ia tidak berbalas saat itu, berarti Allah sedang mempersiapkan balasan lain, dengan jumlah yang lebih banyak, dan akan diberikan pada waktu yang paling tepat. Penundaan balasan itu, bisa juga untuk tabungan akhirat kita. Bukankah itu jauh lebih berharga dari nilai mata uang di dunia ini? Sebanyak apapun jumlahnya?

Semoga Allah menerima setiap sedekah kita. KarenaNya semata, bukan lantaran janji pelipatgandaan yang kadang tertunda pelaksanaannya. Karena prinsipnya, berbagi itu indah dan menyemangati. Maha benar Allah dengan firmanNya, “Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan serupa.” (Surah ar-Rahmaan [55] : 60)


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



8:10 PM | 0 comments

Di Titik Nadir, Kita Temukan Cahaya BenderangNya

Written By mimin on Friday, September 27, 2013 | 1:00 AM

Mendaki - ilustrasi foto liniberita
Karena dalam setiap keterbatasan ada rahasia-rahasia keajaiban. Bahkan sejarah mencatat dalam keterjepitan Rasulullah dan Abu Bakar saat dikejar kaum Qurais, ada tabir yang tersingkap. Rasulullah tahu bahwa mereka (kaum Qurais) masih saja terus mengejar. Tapi tidak ada raut wajah Rasulullah yang berlebihan. Hanya doa dan dzikir yang senantiasa membasahi lisan, fikir dan hatinya. Maka, Allah tolong pula dengan kekuasaanya. Lewat makhluk mungil bernama laba-laba. Lewat hewan mungil itu pula rekam jejaknya terhapus. Sekali lagi lewat makhluk mungil itu pula Allah balikkan hati kaum Qurais untuk menggagalkan rencana masuk gua tempat dua manusia pilihan itu bersembunyi.

Dititik nadir, seringkali orang menemukan apa yang selama ini menjadi pencariaannya. Sebagaimana seorang Umar bin Khaththab yang tiba-tiba mendapatkan hidayah saat adiknya sedang melantunkan kitab suci. Ada pertarungan yang membuncah pada diri Umar. Umar tahu bahwa sejatinya apa yang didengar adalah sebuah kebenaran. Tapi umar tidak langsung menerima kebenaran itu, bahkan amarahnya memuncak. Hingga akhirnya sentuhan kasar menghempas di pipi adiknya dan berdarahlah rayinya itu. Tapi di kemudian hari, justru kita menyaksikan bahwa Umarlah yang menjadi benteng kokoh dakwah Rasulullah.

Abdurrahman bin Auf orangnya. Yang kemudian kita kenal satu diantara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Allah. Yang menarik, dia tidak tergiur dengan tawaran harta dari seorang sahabat anshar saat dia hijrah. Abdurrahman tidak punya apa-apa kala itu. Hanya sehelai pakaian yang ia kenakan. Jika ia mau, sangat muda baginya untuk mendapatkan separuh harta sahabatnya itu. Bukan hanya harta, termasuk juga istri sahabatnya. Tapi, keduanya ditolak. Bukan karena dia menjaga gengsi ataupun keakuannya. Tapi dia ingin membuktikan bahwa di titik nadir, dia mampu bertransformasi. Dan dia mampu membuktikan bahwa di titik nadir itu pulalah kekuatan hidayah itu datang. Karena dia meyakini dalam setiap kesempitan selalu ada cara untuk bangkit. Dia meyakini kandungan surah Al Insirah. Bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Maka tidak ada kekawatiran dalam dirinya.

Semangat itupulalah yang membangunkan para santri pesantren seantero negeri dalam sejarah bangsa kita. Mungkin mereka sama sekali tidak punya senjata modern. Mereka hanya punya keyakinan yang teramat. Bahwa hanya ada dua pilihan. Kemuliaan dan kemenangan. Kemuliaan dalam ajalnya sebagai syuhada’. Dan kemenangan sebagai bangsa yang mandiri. Yang bebas menetukan nasibnya sendiri. Maka semakin dekat lawan dengan kelengkapan senjatanya semakin kuat pula azzam yang membuncah di dalam dada mereka untuk mengusir para penjajah.

Di titik nadir seringkali kita mampu berfikir jernih. Mampu mengurai ruwetnya masalah. Yang jarang terselesaikan saat kelapangan situasi. Ada saja cara Allah membangunkan insting keberpikiran kita. Karena di saat titik nadir itu pula semesta mendukung. Dalam kesempitan spektrum itu pula seringkali kita mengalami lompatan-lompatan dalam berfikir. Out of the box. Inilah cara berfikir orang yang tangguh.

Namun terkadang, kita juga ragu untuk melangkah. Kala kebenaran-kebenaran itu hinggap dan bertamu dalam area hati kita. Hingga keragu-raguan itulah yang menjadikan sinar kecemerlangan itu lepas kembali dari area pandang kita. Akhirnya kita masih saja menunda dan curiga pada pancaran kebenaran-kebenaran yang datang. Jika pola kita masih linear, maka mari kita mendesain ulang mindset kita. Bahwa Allah memberi jalan keluar dengan caraNya. Bahkan dengan cara yang tidak pernah kita duga sekalipun. Mungkin juga Dia kirim sosok makhluk mungil sebagaimana saat Rasulullah dikejar-kejar kaum Quraisy. Bahkan mungkin juga lewat seorang pengemis yang kita memandang sebelah mata sekalipun. Maka tidak ada lagi alasan untuk tak berdaya. Dalam keterbatasan apapun.

Karena Allah ingin memperlihatkan kepada kita bahwa keterbatasan bukan alasan untuk diam dan tak memberi kontribusi. Karena para pahlawan itu juga lahir dari keterbatasan. Mereka ditempa dalam situasi yang sulit, tapi mereka mampu menjadi pionir dalam kebaikan, menerobos relung-relung kejumudan. Sebagaimana sebuah permata. Akan senantiasa berharga dimanapun ia berada. Maka di titik nadir, kita temukan cahaya benderangNya.[]

Penulis : Dhiyaa Uddin
seorang pendidik, tinggal di Bekasi
1:00 AM | 0 comments

Kunci Terbukanya Rejeki

Written By mimin on Thursday, September 26, 2013 | 5:30 PM

Kunci rejeki - ilustrasi (foto: facebook)
Rejeki itu misteri yang terjamin. Dijamin ketika kita masih hidup di dunia ini. Dan habis jaminan setelah kita mati. Meskipun rejeki tetap berlanjut selepas ajal. Berupa nikmat atau siksa. Tapi selepas ajal, lebih kepada akibat. Bukan pemberian murni.

Misteri rejeki, sama misterinya dengan jodoh dan mati. Jika dalam jodoh kita tidak tahu kapan akan menikah dan berpisah dengan pasangan karena cerai ataupun salah satunya mati terlebih dahulu, maka terkait rejeki kita tidak pernah tahu kapan rejeki itu Allah berikan, melalui apa dan berapa jumlahnya. Jika dalam membahas mati kita tidak tahu bagaimana kita kelak menjemput ajal, begitupun dalam rejeki: kita tidak pernah tahu dari arah mana dan bagaimana rejeki itu 'diantarkan' kepada kita.

Oleh karena misterinya itu, satu hal yang pasti: usaha. Menjemput rejeki, melayakkan diri terkait jodoh, dan menyiapkan bekal jika tiba-tiba Izrail bertamu. Jika satu hal ini luput kita upayakan dengan sungguh-sungguh, maka kelak kita akan menyesal.

Menyesal karena jatah rejeki kita disambar 'ayam', misalnya. Menyesal ketika jodoh tak kunjung bersanding karena tak kunjung melayakkan diri. Atau menyesal lantaran maut menjelang sementara bekal pas-pasan.

Sedikit cerita tentang rejeki dalam bentuk materi. Sebelumnya perlu kita sepakati bahwa rejeki bermakna sangat luas, berupa semua yang Allah berikan kepada kita. Kita sering menyebutnya dengan karunia. Maka sejatinya, bisanya kita bernafas, bergerak, beribadah dan seterusnya adalah bagian dari rejeki yang tidak terbilang. Maka dalam Qur'an dikatakan, "Jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tak akan bisa menghitungnya." Ayat ini, disebut dua kali dalam Qur'an dengan redaksi yang sama persis.

Nah, terkait rejeki ini, masih berhubungan dengan usaha sebagaimana saya sebutkan di atas, maka dimensi usaha ada dua jenis : ikhtiar dan doa.

Ikhtiar ini mutlak. Jika ikhtiar kita ala kadarnya, rejekipun ala kadarnya. Jangan pula berharap 3 milyar jika nilai ikhtiar kita hanya senilai 300 ribu rupiah, misalnya.

Ikhtiar ini, bisa dikatrol dengan doa. Doa ini semacam jalan tol. Jalannya bisa beragam : Tahajud, Dhuha, Dzikir, Tilawah, dst. Makanya, dalam Qur'an disebut pula, "Wafissama'i rizqukum, wa maa tuu'aduun." Dan di langitlah rejeki-rejekimu dan apa yang telah dijanjikan kepadamu.

Ayat inilah yang membuat seorang pencuri bertobat lantaran rumah yang dijadikan target oleh si pencuri sedang mendirikan tahajud dan membaca ayat ini. Maka pencuri yang pandai berbahasa Arab itu bertanya bingung, "Nah! Rezeki itu adanya di langit. Lalu mengapa saya mencarinya (dengan mencuri) di bumi?"

Pencuri yang penasaranpun menunggui tuan rumah selesai Tahajud. Kemudian bertanya tentang maksud ayat yang ia baca itu. Singkatnya, yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah, "Sebab-sebab dicurahkannya rejeki itu adanya di langit. Meskipun kalian harus tetap mencarinya di bumi."

Dalam ayat lain juga dijelaskan, surah Thoha. Surah ke-20. Disebutkan, "Wa'mur Ahlaka Bish-sholati wasthobir Alaiha. Nahnu Narzuquk." Secara bebas, ayat itu bermakna, "Perintahkan keluargamu untuk menjalankan shalat. Kamilah yang akan memberikan rezeki padamu."

Jadi, perintahkan keluarga untuk sholat, maka rezeki akan tercurah.

Nah, doa inilah yang kelak bisa membuat ikhtiar kita menemukan pintunya. Sehingga rejeki yang diimpikan segera terwujud.

Yang parah, ketika ikhtiar minim, doa dan ibadah juga minim. Masih untung jika golongan ini tetap bermimpi untuk dianugerahi banyak rejeki. Jika kemudian mereka tak mempunyai mimpi, maka celakalah mereka dan kita berlindung dari golongan ini.

Terakhir, jalani bisnis. Apapun, sekecil apapun, asal halal dan baik. Karena bisnis inilah yang akan membuat rejeki mengalir deras. Bahkan sangat deras.

Dan yang terpenting, yakin akan Kekuasaan Allah, karena itulah pangkal dari segalanya. Karena Allah Maha Kaya, maka Dia bisa menjadikan kita kaya dalam hitungan kedipan mata, bahkan bisa lebih cepat dari itu. Jika kita menghendaki rejeki, kemudian kita menjauhi Sang Maha Pemberi Rejeki, maka bisa itulah pangkal kebodohan kita sebagai seorang hamba. Semoga Allah limpahkan keberkahan atas rejeki kita, sehingga yang Allah berikan, bisa kita optimalkan di JalanNya

Semangat Jum’at, semoga kita semakin bahagia. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com, Owner Toko Buku Bahagia



5:30 PM | 0 comments

Doa Istri Shalihah Antar Sukses Bisnis Suami

Written By mimin on Monday, July 15, 2013 | 7:30 AM

5 Juli 2013 menjadi sebuah catatan spesial bagi saya dan 120 peserta seminar Bisnis Muslim pada Jumat malam itu. Diantara motivasi yang “membakar” semangat kami untuk berbisnis tanpa riba adalah kisah doa istri shalihah.

Dr Aan, pembicara utama pada malam hari itu mengisahkan bahwa istrinya telah meninggal setahun yang lalu. “Insya Allah syahid, karena meninggal dalam kondisi hamil,” tuturnya. Ya, istrinya dipanggil Allah saat hendak melahirkan sang anak.

Istrinya itulah yang berperan mengantarkannya menuju kesuksesan bisnis seperti yang diraihnya sekarang.

Bagaimana seorang istri bisa menjadi faktor utama dalam keberhasilan suaminya? Ternyata rahasianya adalah doa seorang istri shalihah yang didengarkan oleh Allah dan diijabahi. Istri Dr Aan yang sebelumnya adalah seorang fotomodel telah bertranformasi menjadi wanita yang berhijab dan shalihah. Seiring dengan itu, bisnisnya menghasilkan jauh lebih banyak dari profesinya sebagai dokter. Jika dulu ia punya banyak hutang dan hampir di semua bank di Indonesia, sekarang sudah sukses dan banyak berbagi dengan orang lain.

Banyak hal lain yang kami dapatkan dari seminar yang dilanjutkan workshop esuk harinya. Diantaranya, jika ingin sukses bisnis tanpa riba, kita tidak perlu berhubungan dengan bank –terutama bank konvesional- tetapi dekatilah orang yang sukses yang punya modal tetapi masih bingung untuk menjalankan usahanya. Caranya, presentasikan bisnis kita dan bagaimana cara bagi hasil seadil-adilnya. Dan jangan lupa, mintalah istri dan anak-anak mendoakan. Bisa jadi, keshalihahan istri dan kebersihan jiwa anak-anak kita-lah yang mengetuk pintu rezeki-Nya hingga tercurah deras untuk kita. [Danil S]
7:30 AM | 0 comments

Mengapa Harus Kaya?

Written By mimin on Saturday, June 29, 2013 | 4:00 PM

Kawan, coba kalian jawab apakah kalian setuju dengan 10 pernyataan berikut ini.

- Uang adalah akar dari segala kejahatan
- Uang bukan segalanya
- Uang tidak bisa membeli cinta
- Uang tidak menyelesaikan masalah
- Easy come easy go
- Orang harus pelit baru bisa jadi kaya
- Orang mati tidak membawa uang, maka tidak perlu cari banyak uang
- Orang kaya seringkali hidupnya tidak bahagia
- Orang yang uangnya banyak kurang spiritual
- Orang kaya dekat kesombongan

Setelah menjawab, apakah masih ingin menjadi kaya?

Pada suatu kesempatan, saya dipertemukan dengan Pak Rusli. Dari pertemuan dengan pengusaha sukses asal Gresik itu, saya semakin mantap untuk berusaha menjadi muslimah kaya.

Seperti yang dipaparkan beliau, ada beberapa hal mengapa sebaiknya orang Islam itu kaya. Pertama, harta merupakan tulang punggung kehidupan. Bagaimana tidak, terlepas dari faktor bahwa semua rezeki kita adalah anugerah Allah, sejak mulai bangun sampai tidur lagi kita selalu berhubungan dengan uang. Semisal, ketika bangun pagi kita harus bersih diri mulai dari mandi, pakai baju, sampai dandan. Tentu saja setiap hal itu memerlukan materi, memerlukan uang untuk memperolehnya terutama di daerah perkotaan yang air saja harus membayar. Belum lagi saat kita sarapan, berangkat kerja atau sekolah dan bejibun aktivitas lainnya tidak lepas dari kebutuhan duniawi kita yaitu uang. Nah, dari sini mungkin banyak yang mengiyakan tapi juga banyak yang masih kontra dengan hal ini.

Kedua, uang bukanlah indikator keshalihan/keburukan, tetapi sikap terhadap uang menunjukkan kualitas keshalihan seseorang. Ada sahabat Nabi yang kaya, ada pula yang tidak banyak uang. Tetapi, dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, mayoritas adalah orang-orang kaya. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa seringkali uang membuat seseorang menjadi kalap dan khilaf melakukan hal-hal yang dilarang oleh norma-norma agama untuk memenuhi kebutuhan di balik himpitan biaya yang memaksa mereka untuk melakukannya, hingga ada maqolah: "kaadal faqru an yakuuna kufran" (hampir-hampir saja, kefakiran menjerumuskan ke dalam kekafiran). Uang menjadi alasan sekian banyak orang untuk melakukan kejahatan (mencuri, dan sebagainya) dan menganiaya dirinya sendiri (menjual diri, dan sebagainya). Sebaliknya, betapa banyak pula orang seperti Qarun yang menjadi sombong, gemar bermaksiat dan jauh dari Allah setelah memiliki banyak uang. Berbeda dengan orang yang kokoh imannya, saat bertambah uangnya, bertambah pula syukurnya.

Ketiga, banyak perintah syariah yang pelaksanaannya memerlukan uang. Contoh yang paling mudah adalah tentang haji. Ibadah satu ini jelas, tidak mungkin tidak, pasti memerlukan uang dan tidak sedikit. Walau memang ada banyak kisah tentang seseorang yang naik haji mendadak karena memang sudah jalannya Allah mengatur mudah tanpa biaya. Belum lagi ibadah lainnya seperti zakat, infaq, shodaqoh yang salah satu bentuknya adalah uang. Selain itu, permisalan seperti “jika cukup hanya dengan shodaqoh senyum, apa iya jika masjid roboh kita hanya shodaqoh senyum terus selesai begitu saja?” Tentu kita butuh uang juga untuk hal itu.

Hal yang keempat, harta itu adalah hal-hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Tidak menafikan bahwa seseorang memang akan lebih dihormati ketika memiliki kedudukan terutama dalam strata sosial. Akan lebih mudah pula bagi seorang juru dakwah jika ia dihormati dan disegani, walaupun memang bukan hanya karena kedudukan yang dapat membuat seseorang dihormati dan disegani akan tetapi hal itu merupakan keniscayaan dalam masyarakat. Apalagi jika sudah membahas mengenai kekuasaan. Banyak orang yang sangat memandang buruk akan kekuasaan. Padahal di sisi lain jika kita tilik lagi, dengan kekuasaan logikanya seseorang itu akan dengan mudah melakukan berbagai kebijakan dalam pengambilan keputusan. Coba dibayangkan manakala penguasa itu seorang yang zholim, dengan mudah ia akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Begitu juga sebaliknya jika penguasa tersebut seorang yang adil, maka banyak kebijakan yang menguntungkan masyarakat.

Hal terakhir, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang bisa bahagia di dunia. Dalam hal ini perlu digarisbawahi kata ‘salah satu’, harta adalah salah satu sebab seseorang bahagia hidup di dunia. Hal ini juga tak dapat dipungkiri dan impian semua orang jika mendapatkan kebahagiaan di dunia juga di akhirat dan hal yang perlu diingat juga bahwa :

:لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d : 11)

Nah kawan, sekarang sepakat kan jika memang sebaiknya kita kaya, tentu tidak ada orang yang tidak mau. Untuk itu perlu ada usaha untuk menjadi kaya. Bukan hanya kerja keras tapi kerja cerdas. Bukan hanya mau tapi melakukan sesuatu. Untuk langkah-langkah selanjutnya menjadi kaya (masih dari nara sumber yang sama) akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam bisshowab. [Gresia Divi]
4:00 PM | 0 comments

7 Wasiat Agar Menjadi Orang yang Bahagia

Written By mimin on Thursday, June 27, 2013 | 2:00 PM

Kebahagiaan adalah impian semua orang. Betapa banyak orang yang melakukan segalanya agar menjadi bahagia. Betapa banyak orang yang mengejar kebahagiaan tetapi tak jua mendapatkannya. Bahkan, tak sedikit orang yang justru mendapatkan kebalikannya; jiwanya galau, hatinya selalu menderita.

Bagaimana kiat agar menjadi orang yang bahagia? Berikut ini 7 wasiat yang ditulis Karim Abdul Ghaffar dalam bukunya Tafriij al-Hamm (Seni Bergembira; Cara Nabi Meredam Gelisah Hati):

1. Tersenyumlah walau hanya berpura-pura. Berikutnya, senyuman itu akan menjadi senyum yang sesungguhnya.

2. Tersenyumlah langsung ketika Anda tertimpa musibah. Allah dan malaikat-Nya mengawasi reaksi Anda sedangkan Iblis menantikan kekafiran Anda.

3. Ekspresi wajah berperan besar dalam memberi bobot kegelisahan. Karena itu, perintahkanlah diri Anda supaya tersenyum.

4. Jangan tersenyum ketika saudara meninggal karena dengan begitu Anda tampil bodoh. Tersenyumlah di dalam hati Anda untuk memberitahukan keridhaan Anda kepada Allah.

5. Jangan mengharapkan sesuatu dari akhirnya, tapi harapkanlah dari awalnya. Awal sesuatu sudah termaktub dalam kitab Allah (lauh mahfudz). Jika ia merupakan milik Anda, Anda pasti mendapatkannya walau harus menunggu lama. Jika bukan, berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengampuni Anda karena mengharapkan sesuatu yang bukan milik Anda.

6. Ingatlah baik-baik bahwa pena Allah (qalam) telah diangkat dan lembarannya pun telah mengering, supaya Anda tidak hidup dalam lamunan dan banyak berangan-angan kepada Allah.

7. Perhitungkan umur Anda. Umur hanyalah soal waktu. Betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena membayangkan masa lalu yang menyedihkan atau merisaukan masa depan yang belum jelas.

[sumber: Seni Bergembira; Cara Nabi Meredam Gelisah Hati karya Karim Abdul Ghaffar]
2:00 PM | 0 comments