Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Showing posts with label Renungan Harian. Show all posts
Showing posts with label Renungan Harian. Show all posts

Ketika Ta'aruf Berakhir Tragis

Written By mimin on Monday, March 17, 2014 | 7:06 AM

Surat Cinta (darussalaf.or.id)
Saat itu saya masih duduk di semester 2 Fakultas Tarbiyah. Melalui applikasi chatting yang baru saya kenal, saya bisa bergabung dengan sebuah room chat yang isinya mayoritas ikhwan dan akhwat.

Terkesan dengan para ikhwan dan akhwat, saya jadi semakin gandrung sama dunia maya. Namun dasar saya yang terlalu lugu sehingga saya sering menerima private chat dari ikhwan. Dari mulai sekedar perkenalan biasa sampai ada yang mengajak ta’aruf.

Tapi saya terlalu lugu untuk hal ini. Saya hanya merasakan senang, karena di dunia nyata saya sama sekali tidak punya teman ikhwan. Jangankan ngobrol, ketemu ikhwan saja gemetaran. Selain itu meski dulu ustadzah saya sudah sering menegaskan akan hubungan ikhwan dan akhwat tapi saya belum begitu paham bagaimana batasan hubungan seorang ikhwan dan akhwat dalam dunia maya. Karena setahu saya ikhtilath hanya ada di dunia nyata.

Sampai suatu saat sebuah rasa kagum timbul kepada seorang ikhwan. Ikhwan yang biasa saya panggil pak carik ini suka memberi “taushiah” di room. Karena rasa kagum itu kami lalu sering private chat dan group chat bersama salah seorang teman akhwat. Diantara kami berdua, saya yang paling muda.

Dari rasa kagum, kemudian menjelma menjadi rasa yang lain. Entahlah. Saya sempat cerita kepada mbak Sarah (bukan nama sebenarnya). Tapi mbak Sarah hanya menanggapinya dengan senyuman. Dan di balik itu saya mendengar dari teman yang lain, bahwa mbak Sarah sedang ta’aruf dengan pak carik. Saya tak mengerti seperti apa konsep ta’arufnya. Yang jelas ini pertama kali saya mengenal proses ta’aruf tanpa murobbi atau perantara.

Di awal Ramadhan intensitas komunikasi kami semakin meningkat. Bukan hanya chatting, tapi juga sms dan telepon. Bahkan pak carik mengusulkan untuk tadarus bareng lewat call friend. Akhirnya waktu sepertiga malam kami habiskan dengan tadarus dan ngobrol bareng yang biasanya berakhir menjelang waktu sahur. Ini Ramadhan yang menimbulkan penyesalan saya hingga kini.

Menjelang Idul Fitri ketika saya hendak mudik, mbak Sarah meminta saya untuk ke kosannya. Saat itu saya melihat mata mbak Sarah sembab. Suaranya serak. Sebuah tanda tanya besar bertengger di kepala saya. Ada apa dengan beliau? Alangkah kagetnya saya saat mendengar cerita beliau kalau pak carik ternyata sedang “pacaran” dengan “akhwat” yang tak lain adalah teman kami sendiri di saat mereka berdua sedang ta’aruf.

Sayapun tidak habis pikir dengan hal ini. Namun itulah yang terjadi, ta’aruf di dunia maya yang berakhir tragis. Padahal mereka sudah saling tahu banyak tentang masing-masing. Dan saya juga merasa beruntung karena tidak terlalu jauh. Karena bagi saya saat itu yang penting mereka bahagia. karena secara usia mereka sudah matang. Sudah sama-sama kerja.

Dulu saya memang terlalu polos untuk hal seperti ini. Namun pengalaman ini memberikan saya pelajaran berharga agar jangan sampai terjebak dengan dunia maya. Setidaknya saya jadi lebih berhati-hati lagi. Tidak mudah percaya dengan “kata-kata gombal” laki-laki yang mengaku ikhwan di dunia maya.

Saya kemudian juga menyadari, bahwa konsep ta’aruf yang benar harus ada perantara. Dialog di dunia maya, Chatting, bukanlah ta'aruf yang benar. Sekali lagi harus ada perantara! Syukur-syukur kalau langsung perantara orang tua.

Semoga bermanfaat… Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
7:06 AM | 0 comments

Dakwah Belum Menang, Perang Belum Usai!

Written By mimin on Sunday, March 16, 2014 | 7:25 AM

Futuhnya Makkah (film Arrisalah)
Satu diantara banyaknya hal yang harus kita ingat bersama. Dan, harus selalu disampaikan kepada semua kita; yang peduli dengan Islam dan kemenangannya di semua lini.

Bahwa, ketika aroma kemenangan sudah teramat menyengat, menabrak ke indra penciuman kita, ketika kita sudah melihat gelombang orang-orang masuk ke dalam kebaikan-kebaikan yang selama ini kita promosikan, maka satu hal yang mesti kita ingat, bahwa perasaan besar diri, seringkali menggelincirkan kita.

Bahwa, sebesar apapun, sedahsyat apapun gelombang yang berhasil diciptakan karena akumulasi kebaikan, harus terus diistighfari dan disikapi dengan rendah hati. Bahwa semua itu, hanya terjadi karena Allah, bukan karena upaya-upaya kita yang ala kadarnya itu.

Kita juga mesti ingat, bahwa ketergelinciran pasukan 'Uhud, terjadi karena merasa jumawah, kemudian silau dengan banyaknya ghonimah.

Kita juga mesti ingat baik-baik, ketika kemenangan Penaklukan Makkah, kemudian Rasulullah berkhutbah dalam Haji Wada', yang diturunakan justru surah tentang kemenangan, di dalamnya, kita diperintahkan untuk terus bertasbih dengan nama Allah, dan beristighfar; meminta ampun, barangkali dalam upaya kita yang sudah dilakukan selama ini, ada dosa-dosa yang dilakukan, sengaja atau tidak.

Closing ayat ini, "Sesungguhnya Dia Maha menerima taubat." Diriwayatkan, Abu Bakar yang mengerti makna ayat ini, justru menangis ketika sahabat yang lainnya tertawa. Karena beliau mengerti, bahwa Rasulullah akan segera 'pergi' meninggalkan jama'ah orang-orang pilihan itu.

Ini persis seperti yang dialami oleh Umar bin Khaththab, ketika negara Islam yang dipimpinnya selama 10 tahun, kemudian berhasil melakukan ekspansi ke berbagai penjuru bumi, Umar justru menangis dan berkata, "Aku khawatir, karena dulu, zamannya Rasulullah dan Abu Bakar, Islam tak melebar seluas ini."

Akhirnya, kita mesti melanjutkan menunduk dalam tafakkur yang dalam, di sepertiga malam terakhir kita. Ketika itu, hati kita tak bisa berbohong. Ketika itu, saatnya kita 'berdua' dan mengadukan semuanya kepada Allah.

Insya Allah, istighfar-istighfar itu, tasbih-tasbih itu, dan kerendahan hati kita untuk tetap membumi, adalah kunci paling tepat untuk menyikapi aroma kemenangan yang semakin menggejala. Sembari terus berbisik, "Perang belum usai, jalan masih panjang. Banyak hal yang harus terus dilakukan. Bukankah amal kita belum ada seujung kuku jika dibandingkan dengan amal para pendahulu kita itu?"

Robbi, terimalah tangis kami ini. Tangis yang lahir, karena haru. Bahwa, masih banyak orang yang menaruh harap pada kami. Masih banyak orang yang mencinta barisan ini.

Ya Robbi, bimbinglah kami.[]

Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

7:25 AM | 0 comments

Memenangkan Pertarungan Melawan Setan

Written By mimin on Thursday, March 13, 2014 | 6:30 PM

berdoa
Hidup yang tengah kita jalani ini didominasi oleh pertarungan sengit antara setan dan manusia. Pertarungan ini telah dan akan terus berlangsung hinga hari kiamat. Karena setan memang sudah diberi otoritas oleh Allah untuk mencari teman sebanyak-banyaknya dari golongan manusia. Oleh karena itu, sebagai manusia kita mesti tahu, trik apa yang sering digunakan oleh setan dan bagaimana cara menangulanginya.

Cara yang paling cepat untuk mengetahui hal itu semua adalah melalui al-Qur’an. Karena ia adalah petunjuk yang tak pernah usang. Petunjuk yang tak mungkin menyesatkan. Petunjuk yang sudah digaransi oleh Allah dan Rasulullah kevalidannya. Siapa yang mengikuti al-Qur’an, maka ia selamat. Begitupun sebaliknya. Asalkan, tidak salah tafsir!

Ada tiga poin utama terkait cara setan menggoda kita. Pertama adalah jenis godaan. Dikatakan bahwa setan itu membisikkan kejahatan secara tersembunyi. Kedua, terkait cara. Yaitu membisikkan godaan ke dalam hati manusia. Sedangkan yang ketiga terkait pelaku, dari golongan jin dan manusia.

 Dari ketiga poin ini, kita bisa memahami bahwa tipu daya setan ini sangatlah halus dan memperdayakan. Disamping dibisikkan secara sembunyi-sembunyi, ia juga langsung tertuju kepada hati yang tak kasat mata. Apalagi setelah mengetahui bahwa pelakunya berasal dari jenis jin yang tak terlihat juga dari manusia yang setiap saat berada di sekitar kita.

Ibarat peperangan, kita telah dikepung dengan sebuah strategi perang musuh yang sangat canggih. Jika ditembak dengan pistol atau rudal, kita pasti bisa menghindar. Karena mata kita bisa melihat dengan jelas alat itu. Jika diserang di kaki, kepala atau anggota tubuh lain, maka kita juga bisa menghindar karena mata bisa melihatnya. Begitupun jika yang melakukan serangan ‘hanya’ manusia saja. Sayangnya, serangan ini berasal dari berbagai sisi dari manusia yang tampak dan jin yang tak tampak. Maka, kemungkinan untuk menang perang itu sangatlah kecil.

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar bisa terhindar dari serangan dahsyat yang tersembunyi itu?

Sederhananya begini. Jika dalam sebuah perjalanan kita melewati sebuah rumah yang dijaga oleh anjing galak. Kemudian anjing tersebut menggongong ke arah kita dan hendak menyerang. Apa yang akan kita lakukan agar aman dari kejahatan anjing tersebut? Berlari cepat sambil mencari batu untuk melempar si anjing? Mencari pohon untuk dipanjat? Atau?

 Yang paling tepat adalah meminta kepada pemilik anjing agar meghindarkan anjingnya dari diri kita. Dengan demikian, kita tak perlu repot-repot berlari kencang atau mencari batu untuk menimpuki si anjing. Jadi, hanya dengan minta tolong ke pemilik anjing itulah, kita akan dengan mudah terbebas dari kejahatan anjing.

Begitupun. Jika anjing adalah setan. Maka yang harus kita lakukan adalah meminta perlindugan Allah sebagai pemilik dan pencipta segala sesuatu dari jahatnya setan dan tipu dayanya itu. Apalagi, Allah adalah Robb -Penguasa dan Pemelihara-, Malik atau Raja dan Ilah atau sesembahan. Hanya dengan meminta perlindungan Allahlah, kita bisa aman dari godaan setan yang sangat dahsyat itu.

Caranya? Dengan tiga hal pula. Pertama adalah Iman. Ia berfungsi sebagai perisai. Kedua adalah Dzikir sebagai bekal. Dan terakhir Isti’adzah (meminta perlindungan) sebagai senjata. Jika tiga hal ini dilakukan, insya Allah kita akan terbebas dari gangguan setan dalam berbagai jenisnya.

Rasul bersabda, “Setan itu berada dalam hati setiap anak adam. Jika mereka mengingat Allah Ta’ala, maka setan akan bersembunyi. Jika mereka melupakan Allah maka setan akan membisiki.”(HR Bukhari diriwayatkan secara Mu’allaq)

Ketika kita melakukan tiga hal tersebut, setan akan kabur dan kembali ke tempatnya semula. Maka yang terbaik adalah sellau mengingat Allah dengan meminta perlindungan diri. Karena mengingat Allah merupakan bentuk ketergantungan kita kepada Yang Maha Kuat. Dimana tak ada lagi kekuatan lain yang lebih kuat dariNya.

Sedangkan salah satu senjata isti’adzah adalah dengan senantiasa membaca dan mentadabburi surah an-Naas. Surah terakhir dalam al-Qur’an. Semoga bermnafaat. Semoga Allah melindungi kita dari setan dan bala tentaranya. Aamiin.[]

# Sebuah interpretasi dari Tafsir Surah an-Naas dalam Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthb.

Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com

6:30 PM | 0 comments

Mengirimkan Anak ke Surga?

Written By mimin on Wednesday, March 12, 2014 | 9:23 PM

ilustrasi pemakaman
Sebuas-buasnya binatang, ia tak mungkin memakan anaknya sendiri. Tapi nampaknya, kalimat itu tak lagi berlaku di zaman kita sekarang ini. Di zaman yang semakin senja ini, banya kita dapati perilaku manusia yang lebih buas dari binatang. Tentu, ini terjadi bukan tanpa sebab. Ada yang salah dari kehidupan kita. Baik sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Belum lama ini, terjadi sebuah kejadian yang membuat kita miris. Seorang ibu, membunuh anak kandungnya yang masih berumur dua setengah tahun. Karena himpitan hutang yang semakin menggunung dan meluas samudra, ibu ini nekat menenggelamkan anaknya ke dalam kolam air yang terletak di lantai dua rumahnya.

Si bungsu pun, langsung meregang nyawa. Tak puas, ibu ini akhirnya hendak melanjutkan aksi bejatnya. Anak keduanya, langsung diincar, dijadikan sasaran. Beruntung, bocah ini bisa lolos sebelum akhirnya diselamatkan oleh pihak keluarga.

Sang Ayah yang bekerja di luar kota, persis tak mengetahui kejadian ini. Anehnya, sebelum akhirnya pihak keluarga melaporkan aksi bejat ibu ini, dia sendiri justru mendatangi kantor polisi dan mengakui bahwa dirinyalah yang melakukan aksi pembunuhan terhadap anak kandungnya.

Anak yang dikandungnya dalam hitungan sembilan bulan lebih itu, kemudian dirawat dalam kurun tiga puluh bulan, dibunuh dengan sadis. Oleh tangan yang sama, tangan yang telah merawatnya selama ini, dengan cinta yang tak mungkin berbalas.

Sesampainya di kantor polisi, tersangka menceracau tak jelas arah. Ia menceritakan segala macam hal, persis seperti orang gila. Ketika pihak kepolisian bertanya tentang apa yang menyebabkan dirinya melakukan tindakan pembunuhan itu, dengan enteng, tegas, tanpa merasa bersalah, ibu itu berkata, “Saya hanya mengirimkan anak saya ke surga, Pak!”

Apa yang terjadi pada ibu ini, mungkin saja dialami oleh orang lain di luar sana. Bahkan, bisa jadi, kita sendiri menanggung beban hidup yang teramat berat. Bukan hanya terkait masalah rumah tangga yang sudah pasti ada, bahkan mungkin banyak. Termasuk juga permasalahan ekonomi yang menjangkiti hampir sebagian besar penduduk di negeri ini. Pertanyaannya, apakah membunuh anak adalah pilihan terbaik sebagai bentuk pelampiasan terakhir?

Tentu, kita tak mengerti apa yang ada di benak ibu itu. Jika terlalu banyak bercakap, bisa jadi, kita justru terjatuh pada tindakan sok tahu tak berdasar. Sehingga, yang terbaik saat ini, adalah melakukan introspeksi. Bisa jadi, apa yang menimpa ibu ini, bersebab kurangnya perhatian dari sekelilingnya. Baik dari suami, keluarga, ataupun tetangga kanan-kirinya. Maka, membunuh anak, dilakukan dengan dalih ‘mengirimkannya’ ke surga.

Selanjutnya, kita berdoa. Semoga yang menimpa ibu itu, tidak menimpa kepada diri, keluarga, sahabat, tetangga juga siapapun di dunia ini setelahnya. Semoga, istri-istri kita diberi kesabaran berlapis baja untuk menanggung beban hidup yang memang tak ringan ini.

Semoga, kita-kita ini, para suami, menyediakan banyak waktu untuk mendengar setiap keluh kesah dan ceritanya. Semoga, di setiap lelah yang menggelayut, kita –suaminya- masih mempunyai sedikit semangat untuk membantu pekerjaan rumah istri kita. Entah sebagiannya, atau seluruhnya.

Semoga, kita dan istri kita, diberi kekuatan untuk saling bersinergi. Dan terus mendekatkan diri kepada Allah. Karena, sebesar appaun masalah yang menimpa, ada Allah Yang Maha Besar dan menjadi sumber solusi atas semua masalah yang kita hadapi. Semoga, anak-anak kita kelak, mendapat pasangat hidup yang sholih, sehingga menjadi ibu yang baik. Ibu yang kuat, tegar, dan bisa melahirkan banyak pejuang kebaikan. Demi tertegak tingginya kalimat Allah di bumi ini.

Semoga Allah semakin menyayangi, menguatkan, memberkahi, mencintai, ibu-ibu kita dan seluruh ibu di muka bumi ini. Semoga, Allah yang maha Pengampun, mengampuni dosa-dosa ibu kita, menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita ketika kecil. Semoga kita, anak-anaknya, bisa memberikan yang terbaik demi kebahagiaan ibu-ibu kita.

Mari, ucapkan terima kasih tak terhingga untuk ibu-ibu kita, di manapun mereka berada. Karena, jika ibu kita melakukan aksi ekstrem sebagaimana ibu di dalam cerita ini, mungkin saja, kita tak lagi bisa menikmati hidup dan melakukan banyak hal demi kebaikan di bumi ini. Namun, jika ternyata, kita lebih banyak melakukan keburukan di sepanjang kehidupan ini, mestinya kita lebih wajib untuk meminta maaf kepada ibu-ibu kita. Karena bukan untuk itu kita dirawat hingga dewasa.

Bu, terimakasih. Karena kau, tak mengirimkanku ke surga sebagaimana yang telah dilakukan oleh ibu dalam kisah ini. []


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com



9:23 PM | 0 comments

Surga Masih Teramat Jauh

Perjalanan masih jauh (ilustrasi foto detik)
Satu di antara sekian banyaknya sebab yang menjadikan seseorang mengalami kegagalan dalam hidupnya adalah sikap menunda amal. Menunda ini terjadi karena suka beralasan dan terkadang, sibuk mencari pembenaran. Di mana pembenaran-pembenaran itu, kebanyakannya tidak benar sedikitpun. Sikap menunda amal inilah yang kini menjangkiti banyak orang. Tidak hanya terkait kehidupan duniawi, tetapi juga terkait kehidupan akhirat.

Ketika masih berada dalam masa muda, kelompok ini akan berseloroh santai, “Ngapain repot-repot beramal? Usia kita masih muda. Mati masih jauh. Gak usahlah menjadi orang yang sok sholih, sok baik, dan sok ‘alim.”

Lebih lanjut, golongan ini akan menambahkan, “Sekarang, waktunya kita bersenang-senang. Sebelum tua. Nanti ketika sudah puas, usia kita menginjak senja, barulah kita bertaubat. Rajin ke masjid, baca al-Qur’an, dan amal lainnya. Karena, ketika memasuki usia tua, mati semakin dekat.”

Sayangnya, omongan ini diingkari oleh pelakunya sendiri. Karena, kebanyakan mereka yang mengatakan seperti ini ketika mudanya, akan kembali beralasan selepas tua. Ketika kemudian mereka sudah bau tanah, dia akan kembali berkata, tak berdaya namun tetap pongah, “Umur saya tak banyak lagi. Berbuat baik juga percuma. Gak akan cukup. Mending pasrah saja. Kalian sajalah yang beramal sholih, karena kalian masih muda, tenaga masih penuh dan masih punya banyak masa depan.”

Padahal, jika kita melihat apa yang dialami oleh teladan kebaikan kita di masa lalu, generasi Rasulullah dan dua generasi setelahnya, kita akan mendapati hal yang berkebalikan.

‘Ali bin Abi Thalib adalah satu contoh pemuda yang menghabiskan waktunya dalam kebaikan. Hingga kemudian, dirinya dijamin masuk surga oleh Rasulullah yang mulia. Dari generasi tua, kita juga mendapati contoh yang sangat banyak. Satu diantaranya, adalah sahabat anshar yang bernama Amrul Ibnul Jamuh. Beliau, berhasil merawat iman dan tak kehilangan semangat beramal. Meskipun, usianya menjelang terbenam.

Dalam sebuah panggilan jihad, lelaki ini bergegas. Padahal, lelaki ini berjalan dalam keadaan pincang. Lalu dia berpamit kepada anak-anaknya, “Anak-anakku, ijinkan ayah pergi ke medan jihad.” Anak-anak yang dipamitinya, menjawab dengan terkejut, seraya melarang, “Jangan ayah! Kau tak usah lagi berangkat berjihad. Fisik dan usiamu juga sudah tidak memungkinkan. Insya Allah, Allah dan Rasulnya mengetahui keadaanmu ini.” Maksud anak-anaknya adalah baik. Karena memang, dalam berjihad, dibutuhkan fisik prima.

Tak disangka, tak dinyana, lelaki surga ini menjawab dengan tegas, “Mengapa kalian menghalangiku untuk masuk surga?” Tak bisa menjawab pertanyaan bapaknya, akhirnya mereka mendatangi Rasulullah.

Sang bapak memulai kalamnya, “Ya Rasul, ijinkan aku untuk ikut berperang. Jika kelak aku mati syahid di medan perang, ijinkan aku masuk surga dalam keadaan pincang seperti sekarang ini.” Rasul mengangguk, dan berangkatlah kafilah jihad itu ke medan laga.

Seusainya, Rasul mendapat laporan bahwa Amrul Ibnul Jamuh al-Anshari syahid di medan perang. Seraya tersenyum, Nabi berkata, “Demi Allah, aku seolah melihat Amrul Ibnul Jamuh berlalu dengan baik meski kakinya pincang ke dalam surga.”

Allahu Akbar Walillahil Hamd. Menyeksamai kisah ini, kita menjadi semakin yakin, bahwa bagi kita, surga masih teramat sangat jauh. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


12:13 AM | 0 comments

Anda Pengangguran? Menikahlah!

Written By mimin on Monday, March 10, 2014 | 9:03 PM

Menikah - ilustrasi kompasiana
Jika masih ada yang benar-benar menganggur, atau merasa menjadi pengangguran, maka menikahlah. Insya Allah, selepas itu akan banyak kesibukan. Mulai dari mencari nafkah, antar-jemput istri, nemenin belanja, bersih-bersih rumah, membantu istri memasak, dan banyak lagi yang lainnya. Termasuk; ngobrol santai bersama mertua, mijitin mertua, ngaji bareng mertua, dan silaturahim ke keluarga baru kedua belah pihak.

Jika kesemua hal itu dilakukan di sepanjang hari saja, insya Allah tak ada waktu kosong. Bahkan mungkin, anda kekurangan waktu untuk melakukan itu semua. Belum cukup?

Silahkan dilanjutkan dengan ngaji bersama istri/suami, membaca buku bersama, menelaah kitab, menulis sambil berdiskusi, gantian membuatkan minuman, bercanda, musyawarah merencanakan masa depan cemerlang, mendiskusikan aneka hal yang terjadi di dunia Islam, juga membahas untuk kemajuan keluarga, masyarakat juga negeri dimana kita berpijak, dan seterusnya.

Insya Allah, semua kesibukan itu sangat berharga. Dan, bernilai surga.

Apalagi, pernikahan yang suci ini, akan merubah drastis semua tentang diri kita. Baik itu status, tanggung jawab, kewajiban, hak dan juga terkait apapun yang kita lakukan.

Bahkan, dari pernikahan yang disucikan ini, sesuatu yang awalnya dilarang, berdosa dan menimbulkan kerusakan, lantaran ijin Allah melalui ijab qobul, menjadi sesuatu yang halal, baik, dianjurkan dan menjadi sumber ketenangan diri juga masyarakat sekitar serta menjadi sarana untuk masuk surga.

Masih banyak hal lain yang bernilai ibadah selepas kita menikah. Termasuk di dalamnya, canda diantara suami-istri. Yang dalam sebuah hadits, perbuatan itu dikategorikan dalam bermain-main yang diajurkan dan diganjari pahala, setara dengan mempersiapkan kendaraan di medan perang. Lebih lanjut, jika pun bercanda ini dilakukan di malam hari, maka ia menjadi berpahala. Padahal, selain canda dengan istri dan berjaga di jalan Allah, menghabiskan waktu selepas isya’ masuk dalam kategori kesia-siaan.

Sehingga, selepas kita menggenapkan setengah din ini, akan banyak ibadah yang bisa dioptimalkan. Tentu, dengan tidak mengabaikan setengah yang lainnya, yakni taqwa kita kepada Allah subhanahu wa Ta’alaa.

Penting diingat. Selain berpotensi menghasilkan banyak amal berpahala, menikah juga bisa menjadi pemicu timbulnya banyak dosa. Bahkan, dosa baru yang diakumulasikan karena dilakukan oleh banyak orang.

Misalnya, ketika masih sendiri, kita bisa membuang sampah sembarangan di kamar, dosa dan kerugiannya pun untuk diri sendiri. Tapi selepas menikah, jika kebiasaan ini berlanjut, bisa ditiru oleh pasangan kita. Dan, ia bisa berdalih, “Kan, niru kamu!” Jika tetap tidak berubah, dan suami-istri berada dalam kebiasaan buruk serupa hingga kemudian memiliki anak, maka tak menutup kemungkinan, anak-anak yang lahir kelak, akan berkata dengan mudahnya, “Kan, niru abi dan umi?”

Sehingga, hal ini harus menjadi perhatian serius bagi kita yang sudah maupun akan mengambil langkah besar ini. Prinsipnya, tidak ada yang instan. Niatkan karena Allah, maka Dia akan memberikan jalan yang terbaik.

Tak kalah pentingnya, untuk saling melengkapi. Jadilah seperti toples dan tutupnya. Atau, ember dan airnya. Atau, pot dan bunganya. Jangan sebaliknya. Dengan demikian, kita akan selalu sibuk untuk berbuat baik. Termasuk di dalamnya, memperbaiki diri. Karena hal itu merupakan kesibukan yang tak akan pernah usai, hingga ajal menjelang.

Dengan menikah, kita tak akan lagi menjadi pengangguran. Tak percaya? Buktikan saja! []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

9:03 PM | 0 comments

Sedekah 40 Juta untuk Seorang Pelayan

Written By mimin on Sunday, March 9, 2014 | 9:00 PM

Musafir
Abdullah bin Mubarok adalah tabi'in yang lahir di tahun 118 Hijriyah. Seorang yang 'alim, waro', zuhud, ahli ibadah dan; kaya raya. Beliau juga masuk dalam kategori tabi’in yang; gila baca, terdepan dalam shaf jihad, dan aneka keutamaan lainnya.

Dikisahkan, beliau mempunyai pelayan langganan di penginapan tempat beliau bersinggah dalam travelling ibadah yang beliau lakukan. Saking akrabnya, tiap kali Abdullah bin Mubarok singgah, pastilah dilayani oleh pemuda ini.

Suatu ketika, sang pelayan tak terlihat batang hidungnya. Abdullah pun bertanya kepada pelayan penggantinya. Didapatilah jawaban, "Dia sedang dipenjara karena hutangnya." Abdullah kaget. Tapi, tak berhenti di sini. Dia langsung menyelidiki.

Selepas berlalu beberapa waktu, didapatilah info bahwa pelayan langganannya tersebut ditahan oleh si Fulan, di sebuah tempat, karena hutangnya. Tak tanggung-tanggung, lantaran keadaan ekonomi yang memang buruk, pelayan itu menanggung hutang sebanyak 1000 dirham.

Lantas, dipanggilah si penahan ini oleh Abdullah, "Ini ada 1000 dirham. Untuk menebus pemuda itu. Tolong, jangan sampaikan kepada siapapun tentang aku, kecuali setelah aku meninggal. Bebaskan pemuda itu pagi ini, sebelum matahari terbit."

Pagi menjelang, Abdullah sudah melanjutkan perjalanan dakwahnya tepat setelah melaksanakan shalat subuh. Sang pemuda kaget, dan dia tidak pernah mengetahui siapa penebusnya itu hingga kemudian Abdullah bin Mubarok wafat dan diceritakanlah hal ini oleh si penahannya.

Kisah ini bukan dongeng, tapi nyata. Sebagaimana sabda nabi, bahwa zaman nabi, sahabat, tabi’in dan tabit tabi’in, adalah zaman terbaik dengan kualitas manusia terbaik yang tidak ada tandingan setelahnya. Sehingga, sebagai kaum muslimin, jika menghendaki kebaikan tak bertepi, maka diri harus selalu rajin membaca ulang sejarah kehidupan mereka agar diri termotivasi untuk selalu mnjadi yang terdepan dalam kebaikan.

Dalam kisah ini, kita menemukan banyak hikmah. Diantaranya, lantaran merasa bersahabat, Abdullah bin Mubarok dengan mudahnya mengeluarkan 1000 dirham untuk menebus hutang sang pelayan. Tanpa meminta imbalan, bahkan identitasnya tidak mau diketahui. Padahal, hubungan keduanya hanya sebatas tamu dan pelayan dari sebuah penginapan. Hal inilah yang menjadi tafsir, bahwa mukmin adalah bersaudara. Jika satu tubuh sakit, maka bagian lainnya akan merasakan hal yang serupa.

Jika kemudian kita menghitung lebih kanjut, dengan menggunakan kurs 1 dirham = 40.000 rupiah (kurs saat ini, sekitar Rp 42.000, disesuaikan dengan jenis dirhamnya). Maka jumlah uang tebusan itu sekitar Rp 40.000.000. Ya, memberi 40 juta secara cuma-suma. Maaf, 'hanya' untuk membayar hutang seorang pelayan yang hanya ditemui di setiap kali dia singgah.

Beginilah. Jika Islam sudah melebur dalam tingkah laku pemeluknya, maka kita hanya bisa dibuat berdecak kagum karena pesonanya. Semoga, kisah-kisah seperti ini, tak hanya menjadi konsumsi. Tapi dengan sekuat tenaga kita tiru dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari perbuatan yang terkecil.

Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

9:00 PM | 0 comments

Nikah Muda? Mengapa Tidak

Nikah Muda
Melihat 'bocah-bocah' kemarin sore, yang dibilang masih 'bau kencur', dengan rentang usia antara 20-25 tahun, tapi mereka sudah berani jalan berdua dengan istri syahnya. Bahkan, diantara mereka sudah ada yang menggendong satu, dua atau tiga anaknya. Saya merasa, bahwa ini adalah kabar gembira bagi negeri yang mulai merajalela zina di dalamnya.

Bukan tanpa resiko, jika mereka memilih menikah di usia muda. Tapi, dengan keyakinan pada Allah dan Rasul yang memerintahkan mereka untuk menggenapkan separuh din-Nya itu, mereka mengambil lompatan besar di tengah kampanye mainstream yang tak lagi beralasan; menunda nikah hanya karena belum usia 25 tahun, atau cukup dengan dua anak saja sebagai wujud perencanaan keluarga yang matang.

Bukan hal yang mudah pula, jika kemudian mereka menempuh jalan yang semakin menikung, terjal, tanjakan tajam dan juga turunan hebat. Karena mengatur diri saja sudah menjadi hal yang teramat susah, bagaimana dengan mengatur istri yang anaknya orang lain itu? Belum lagi aneka persoalan, mulai dari komunikasi, keuangan dan setumpuk masalah yang pasti hadir menghiasi romantika pasangan yang baru mekar itu?

Belum lagi, dengan rangkaian proses sosialisasi, baik terhadap masyarakat sekitar. Juga keluarga baru kedua belah pihak pasangan; bapak dan ibu mertua, kakak dan adik ipar, dan keluarga besar keduanya.

Tentu, ini hal yang sangat kompleks. Dan saya yakin, tak akan selesai dibahas dalam buku, setebal apapun, kecuali satu hal; keberanian untuk terjun di dalamnya.

Hal ini, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang benar keyakinannya kepada Allah. Bahwa Dialah yang memerintahkan menikah, maka Dia sudah barang tentu memiliki banyak solusi jika di tengah perjalanan terjadi onak dan badai.

Maka, untuk mereka, guru kehidupan yang mengambil lompatan langkah seribu dengan menikah di usia muda, saya ucap ta'dhim, "Barokallahu lakum, wa baroka 'alaikum. Wa jama'a bainakum fii khoir. Semoga Allah berkahi untuk kalian semua, semoga Allah berkahi atas kalian semua. Dan semoga kalian dikumpulkan dalam kebaikan. "

Kelak, dari mereka-mereka ini, setidaknya kita belajar tentang satu kaidah; Jika kita melakukan sesuatu karena Allah, maka yakinlah! Allah akan memberikan balasan terbaik atas apa yang kita lakukan.

Dari mereka pula, kita memahami, bahwa menanggung romantika, dinamika permasalah keluarga dalam bingkai kehalalan dan ibadah, adalah jauh lebih terhormat dibanding memperpanjang masa maksiat. Sementara diri, tak kunjung memperbaiki kualitasnya.

Tentu, kita sedang tidak menggeneralisir. Karena di luar sana, di negeri ini, banyak pula mal praktik nikah muda. Yakni mereka yang tak berilmu, kemudian nekat menjalankan ibadah itu. Karena banyak faktor;mengejar mahar yang banyak dari mempelai laki-laki, kecelakaan karena terlalu lama pacaran sehingga sudah mengandung ketika pesta pernikahan itu dilaksanakan dengan meriah, bertabur lagu oplosan di sepanjang peristiwa sakral itu. Dan, aneka perbuatan maksiat lainnya. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

4:57 AM | 0 comments

Berapakah Tarif untuk Masuk Surga?

Written By mimin on Tuesday, March 4, 2014 | 11:12 PM

Indahnya alam (islamicity.com)
Ibrahim bin ‘Adham adalah salah satu ‘alim yang banyak memberikan kita pelajaran kehidupan. Utamanya tentang perenungan-perenungan hidup guna bekal kita di kehidupan yang abadi, kelak di akhirat. Pemikiran-pemikiran dan hikmah yang dihasilkannya, selalu layak untuk dijadikan pelajaran, agar diri lebih arif dalam memaknai hidup yang sementara ini. Dan, sebagai sarana mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal untuk kehidupan selepas mati.

Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan, beliau hendak membuang hajat di toilet umum. Serta merta, beliau mendatangi petugas yang berjaga di dekat pintu masuk toilet. Lantaran terburu-buru, beliau dicegat oleh penjaga yang tidak mengenalinya itu, “Hai, Bapak Tua! Mau kemana? Bayar dulu sebelum masuk!” Tidak sopan. Tapi begitulah tabiat orang yang tidak mengerti namun sok tahu. Jangankan kepada ‘alim, kepada sesamanya saja kadang berlaku tak santun.

Dalam jenak, Ibrahim bin ‘Adham terdiam. Lalu, meneteskan air mata. Kemudian menangis. Penjaga yang pongah itu malah kebingungan. Ditagih uang masuk toilet, kok malah menangis? Begitu pikirnya. Lantas dengan bahasa yang tak kalah pongahnya, penjaga itu kembali melancarkan penghakimannya, “Oya, Pak Tua! Kau pasti tidak punya uang. Sehingga menangis ketika kutagih uang masuk toilet. Kalau begitu, masuk sajalah. Tak usah bayar. Kasihan.”

Belum selesai secara sempurna ucapan penjaga toilet yang pongah itu, Ibrahim kemudian menjawab, “Maaf, tuan. Aku menangis bukan lantaran tidak bisa membayar uang masuk toilet,” jawab ulama’ itu, santun. “Lantas, apa yang membuatmu menangis?” sambar sang penjaga. “Aku menangis karena mengingat satu hal; jika masuk toilet saja ada tarifnya, lalu berapa banyak tarif yang harus kubayarkan jika aku ingin masuk ke dalam surganya Allah?” Jawabnya santun. Tapi mengena. Si penjaga pongah itu hanya terdiam. Malu yang bertambah-tambah.

Pernahkah terlintas dalam benak kita pertanyaan sejenis itu? Jika masuk toilet saja harus membayar, berapakah tarif yang harus kita setorkan jika berhajat masuk ke dalam surga? Jikapun kemudian sempat terpikir, sudah berapa banyak ongkos yang kita kumpulkan agar benar-benar bisa masuk ke dalam tempat yang paling menyenangkan itu? Sebuah tempat penuh kenikmatan, yang luasnya seluas langit dan bumi. Bahkan, lebih luas lagi.

Surga adalah hadiah yang diupayakan. Tak mungkin diberikan jika kita tak layak untuknya. Layak atau tidak, adalah hak prerogatif Sang Pencipta. Kriterianya ada di dalam Al-Qur’an dan sunnah RasulNya. Maka surga, selamanya menjadi gaib dan sangat susah dipastikan. Bahkan, orang yang di dunia ini nampak ‘alim dan banyak beramal, belum tentu dimasukkan ke dalamnya. Pun, dengan orang yang ketika di dunia ini terlihat biasa-biasa saja, kemudian atas rahmat dari Allah orang tersebut mati dalam keadaan khusnul khotimah, justru orang tersebut yang dimasukkan ke dalam surga.

Persis seperti cerita seorang pelacur yang masuk surga ‘hanya’ karena memberikan minum untuk anjing yang kehausan. Atau, pembunuh 100 orang yang masuk surga, padahal mati di tengah perjalanan menuju tempat seorang ‘alim untuk meminta nasehat. Dari sudut pandang sebaliknya, kita justru dibuat terhenyak ketika membaca seorang ‘alim yang mempunyai banyak murid, kemudian menyombongkan diri, lalu tergoda oleh iblis hingga meminum arak, melakukan pemerkosaan, membunuh korbannya dan kemudian mati dalam keadaan menyembah iblis.

Kisah-kisah seperti ini, hendaknya membuat diri semakin mengerti. Bahwa surga memang dijaminkan oleh Allah untuk siapa yang bertaqwa. Pertanyaannya, seberapa bagus kualitas taqwa kita? Dan, cukupkah itu semua untuk ditukar dengan tarif untuk masuk surga? Bukankah Rasul sudah memberikan petunjuk, bahwa amal kita, sebanyak apapun, tak kan mungkin bisa memasukkan pelakunya ke dalam tempat penuh kenikmatan itu. Hanya lantaran rahmat Allah-lah, seseorang pantas dimasukkan ke dalam surga dan menikmati semua bonus atas ketaatan yang dijalankannya di sepanjang kehidupan dunia.

Tentu, hal itu bukan menjadi pembenaran bagi diri untuk bermalas-malasan dalam beramal. Karena dengan amal-amal tersebut, insya Allah, bisa menjadi penyebab bagi kita agar Allah memberikan rahmatNya. Dengan kesadaran seperti itu, insya Allah, kita akan semakin bersemangat dalam berlomba menimbun amal shalih, guna kebahagiaan di dunia dan akhirat kita kelak.

Lantaran tak tahu amalan mana yang diterima oleh Allah dan menjadi sebab diturunkannya rahmat sebagai tiket masuk surga, maka sudah selayaknya bagi kita untuk terus menerus melakukan yang terbaik, di sepanjang kehidupan kita. Karena surga dan ridhoNya, adalah balasan tertinggi bagi siapa yang beriman dan bertaqwa kepadaNya. “Ya Allah, sesungguhnya kami meminta ridho dan surgaMu. Dan kami berlindung kepadaMu dari dahsyatnya siksa neraka.” Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

11:12 PM | 0 comments

Sedekah Salah Alamat?

Written By mimin on Monday, March 3, 2014 | 8:57 PM

Sedekah - ilustrasi
Islam adalah agama yang mulia dan dihiasi dengan banyak teladan kemuliaan di dalamnya. Rasulullah Muhammad dan para sahabatnya, adalah generasi terbaik yang tidak mungkin ditandingi oleh generasi manapun selainnya. Hal ini terjadi lantaran dekatnya mereka dengan al-Qur’an dan mendapat bimbingan langsung dari manusia terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Mereka banyak memberikan teladan dalam amal. Baik amal yang harus kita siarkan sebagaimana Abu Bakar yang menginfaqkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad fi sabilillah, juga tentang amal-amal yang seharusnya disembunyikan demi menjaga keikhlasan hati pelakunya. Dua hal ini, dibolehkan dalam Islam. karena yang terpenting bukan disembunyikan atau disiarkan, tapi bagaimana amal itu bisa dilakukan dengan ikhlas, karena Allah saja.

Ada seorang sahabat Rasulullah yang tidak dikenal namanya. Karena ingin menjaga hati, beliau memutuskan untuk melakukan sedekah di malam hari. Dua tujuannya; agar tidak mengetahui siapa yang menerima sedekahnya dan agar tidak diketahui siapa pemberi sedekah itu. Tentu, niat besarnya adalah mengharapkan ridho dan surganya Allah.

Malam pertama berlangsung. Ketika keluar rumah membawa harta yang hendak disedekahkan, dia mendapati sesosok bayangan tubuh di depannya. Kemudian dihampiri, mengucap salam, lalu memberikan sedekahnya. Tanpa banyak kata, sahabat itu kemudian berlalu meninggalkan penerima sedekahnya itu.

Keesokan harinya, beredar kabar, “Semalam ada orang yang bersedekah. Tapi tidak tahu siapa pelakunya. Sayangnya, dia salah alamat. Yang diberinya sedekah adalah seorang pencuri.” Mendengar kabar itu, sahabat pemberi sedekah itu hanya diam dan membatin, “Ya Allah, mengapa sedekahku salah alamat?”

Malam kedua, beliau tetap menjalankan aksinya. Setelah berlalu beberapa jarak dari kediamannya, ditemuilah sesosok manusia di hadapannya. Dihampiri, lalu disampaikannya sesuatu untuk orang yang tak dikenalnya itu, “Ini ada rejeki, saya sedekahkan untuk kamu.” Tak lama, beliau langsung berpamit, sebelum diketahui identitasnya.

Sayangnya, kejadian pertama terulang kembali. Beredar kabar di masayarakat kala itu, bahwa semalam adalagi orang yang bersedekah. Dan, salah alamat lagi. Jika kemarin yang diberi sedekah adalah seorang pencuri, malam ini yang menerima sedekah adalah seorang pelacur.

Kaget, sahabat pemberi sedekah kemudian tertegun sembari terus memeriksa niatnya. Hingga kemudian, dia tak berhenti untuk melakukan amal tersembunyinya itu.

Malam berikutnya, sahabat ini kembali melancarkan niatnya. Ditemuilah orang tak dikenal di tengah jalan, lalu diberinya sedekah. Serupa, seperti dua malam berikutnya. Sesegera mungkin beliau berpamit, sebelum tercium identitasnya oleh penerima sedekah.

Pagi harinya, beredar kabar lagi. Bahwa malam tadi, ada orang yang memberikan sedekah. Tapi, lagi-lagi, salah alamat. Orang ketiga yang menerima sedekahnya adalah orang yang paling pelit di kampung itu.

Ia yang beramal shalih, kemudian berdoa, seraya memohon ampun, “Astaghfirullahal ‘adhiim… Ya Allah, ampunilah dosaku. Sungguh, aku berniat sedekah murni karenaMu. Bukan karena selainMu. Ya Allah, luruskanlah niat sedekah hambaMu ini.”

Doa yang tulus, perlambang niat. Beriring sesal dan tetes air mata, jika ternyata selama ini niatnya tak ikhlas, bukan karena Allah yang telah menciptakan dirinya. Hingga kemudian, berlakulah takdir yang sama sekali tidak pernah disangkakan dan menjadi bukti bahwa ketika niat seseorang tulus, maka Allah akan memberikan jalan terbaik untuk mewujudkan niatnya itu.

Pencuri yang menerima sedekah itu kemudian berfikir, “Ngapain saya mencuri? Jika masih ada orang baik hati yang memberikan sedekah? Bukankah harta yang diperoleh dari mencuri akan mempunyai kesudahan yang tidak baik?” Allah berkehendak, kemudian pencuri itu bertaubat dari aksi bejatnya, untuk selama-lamanya.

Di tempat lain, pelacur yang menerima sedekah itu, kemudian bergumam dalam hatinya, “Mengapa saya harus melacur terus-terusan? Bukankah ini perbuatan zina yang dilarang Allah dan RasulNya? Padahal, rejeki itu bisa datang darimana saja, termasuk dari sedekah yang saya peroleh malam itu dari orang yang sama sekali tidak saya kenal? Jika dalam keadaan melacur saja ada rejeki dari arah lain melalui sedekah, bukankah dengan ketaatan akan membuka banyak pintu lain sehinga saya bisa hidup dari sumber rejeki yang lebih baik?” Allah Maha Memberi Petunjuk, pelacur itu pun dikisahkan bertaubat.

Sementara orang yang paling pelit, sibuk berfikir, “Siapakah orang yang telah memberikan sedekah kepadaku malam itu? Bukankah aku ini orang kaya? Mengapa ada orang baik hati yang bersedekah kepada orang kaya raya sepertiku? Bukankah tidak menutup kemungkinan bahwa dia lebih miskin dari diriku? Jika dia yang miskin saja bersedekah, mengapa saya harus menjadi orang yang pelit? Bukankah harta yang akan bermanfaat adalah harta yang diberikan kepada sesama kita?” Allah Maha Kuasa, lantaran sedekah dari orang tak dikenal malam itu, orang terpelit di kampungnya itu akhirnya bertaubat.

Allahu akbar walillahil hamd. Sekilas, sang pemberi sedekah merasa bahwa dia telah salah alamat dalam memberikan sedekahnya. Tapi dalam penilaian Allah, tak pernah ada yang luput atau salah. Semua dinilai berdasarkan niat dan cara memperolehnya. Semoga kisah ini membuat kita untuk terus menerus beramal shalih. Karena kita tidak tahu, dari sedikit amal kita itu, mana yang bisa mengantarkan kita kepada surga dan ridhoNya. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

8:57 PM | 0 comments

3 Teladan Kesuksesan dari Perang Khandaq

Ilustrasi dari cover buku "Belajar dari Perang Khandaq" karya Hepi Andi Bastoni
Khandaq itu melegenda. Mulanya, muslimin akan dijepit oleh musuh dari dua kubu. Pasukan Ahzab yang terdiri dari kafir Quraisy dan kabilah-kabilah Ghatafan dari luar, serta Yahudi Madinah dari dalam. Dalam peta makar musuh, muslimin sudah pasti kalah. Muhammad mulia dan sahabat-sahabatnya akan hancur. Maka, monumentallah seorang Salman al-Farisi, sang pencari kebenaran dari Persia. Mulanya ia hanya penjaga api sesembahan, lantas berkelana hingga melewati Mosul, Asibin, Amuria dan sampailah di tanah diantara bebatuan hitam yang ditumbuhi kurma (Madinah).

Kemudian, Perang Parit (Khandaq) adalah bukti kecemerlangannya. Sebelum laga, ia mengelilingi kota bersama para mujahid lainnya. Hingga timbullah ide yang kemudian disampaikan kepada Nabi.

Nabi pun menerima usul brilian sang pencari kebenaran itu. Dibuatlah parit. sebuah strategi sangat baru yang belum pernah dijumpai dalam sejarah peperangan bangsa Quraisy. Maka, Salman, Nabi dan seluruh Mujahidin Madinah bersinergi padu dalam ketaqwaan guna mempertahankan tegak tingginya kalimat Allah di muka bumi.

Tentu, bukan hal yang mudah untuk menggali parit sedalam 3 sampai 4 meter dengan lebar 4 meter dan panjang 2000an meter di tengah terik kota Madinah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Syeikh Safiyurrahman al-Mubarokfuri bahwa kaum muslimin menahan lapar di siang hari itu. Banyak diantara mereka yang mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar. Bahkan, Rasulullah menggunakan dua batu untuk mengganjal perut beliau. Dalam pembuatan parit itu, setiap sepuluh sahabat (pasukan) ditugaskan untuk menggali parit sepanjang 40 hasta atau sekitar 18 meter lebih.

Dalam proses penggalian itu, ditemukan banyak tanda kenabian. Diantaranya, makanan sedikit yang bisa dinikmati oleh banyak kaum muslimin, dan kejadian itu terulang berkali-kali, juga ciri kekuatan yang dimiliki oleh Rasulullah dan sahabatnya. Sehingga, ketika ada batu besar yang menghalangi proses pembuatan parit, Rasulullah langsung turun tangan dan berhasil memecahkan batu itu dalam tiga kali pukulan. Dalam tiga kali itu pula, Rasulullah mengabarkan bahwa kelak, Islam akan menguasai Persi, Romawi dan negara-negara lainnya.

Terkait jumlah musuh dalam perang ini, ada perbedaan pendapat. Dalam kitab Rokhiqul Makhtum disebutkan bahwa jumlah pasukan musuh ada 10.000 pasukan yang terdiri dari 4.000 pasukan pimpinan Abu Sufyan dan 6.000 pasukan yang merupakan gabungan dari berbagai macam suku Quraisy. Sedangkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya 60 Karakteristik Sahabat Nabi, menerangkan bahwa jumlah musuh dalam perang itu ada 24.000 pasukan.

Di awal, musuh telah membuat makar, tapi mereka tidak tahu bahwa yang terbaik makarnya adalah Allah. Dalam berbulan-bulan pasukan penyerbu yang dikomandoi oleh Abu Sufyan itu tak bisa menembus Madinah. Mereka bertahan berbulan-bulan di padang pasir untuk mencari celah dan mengawasi kaum Muslimin. Sampai akhirnya, ketika keadaan mereka sudah payah yang bertambah-tambah, Allah menurunkan angin topan untuk meluluhlantakkan mereka.

Musuh pergi. Takbir bergemuruh. Kini, ketika masa itu telah berlalu lebih dari 1400 tahun lamanya, Salman masih abadi dalam ingatan para pecinta kebenaran.Salman dan paritnya adalah inspirasi bagi siapapun yang mau berpikir. Ia telah menghadirkan sebuah ide yang sangat kreatif yang belum pernah ada sebelumnya.

Bagi kita, kisah ini adalah sumber inspirasi untuk menggapai sukses, dunia dan terlebih lagi akhirat. Pertama, kreatif. Ini adalah barang langka. Tidak semua orang bisa memiliki sifat ini. Jikapun ada, tidak semua jenis kekreatifan diarahkan untuk kemajuan Islam. Dari sejarah Khandaq, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat kreatif yang dimiliki oleh Salman, didapat karena pengalamannya selama ini di Persia. Di mana intensitasnya dalam mengikuti peperangan, membuat dia mengetahui berbagai macam jenis strategi.

Pada Salman, kreatif ini juga didapat karena kedekatannya kepada Allah. Bukan sekedar ambisi pribadi untuk mengeruk rampasan perang, atau niat remeh lainnya. Salman, telah meluruskan niat. Dan Allah, tak mungkin mengingkari janji. Idenya cemerlang, terbukti keberhasilannya dan dikenang sejarah,hingga kini dan kelak sampai akhir zaman.

Kreatif ini pulalah yang mesti kita upayakan. Bukan sekedar menghasilkan pundi-pundi kekayaan duniawi, tetapi bisa digunakan untuk mengumpulkan pahala sebanyak mungkin guna kehidupan kita di akhirat kelak.

Kedua, kuat. Mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dan RasulNya dibanding mukmin yang lemah. Sehingga, dalam tarbiyah Rasulullah, bukan hanya melatih aspek ruh maupun fikir, tapi juga fisik. Karena fisik, adalah kendaraan bagi ruh dan fikir.

Kekuatan ini pula yang harus dimiliki oleh setiap kaum muslimin, karena mereka adalah pejuang Allah di muka bumi ini. Sehingga, dalam agenda masing-masing kita, ketika kesuksesan dunia dan akhirat adalah sesuatu yang diidamkan, maka sudah selayaknya setiap diri memerhatikan apa yang harus dilakukan untuk menggapai kekuatan ini. Karena sehat saja tidak cukup, harus disertai dengan kuat agar tugas-tugas dakwah bisa dilakukan dengan gemilang, tanpa banyak alasan sakit, lelah dan sejenisnya.

Ketiga, visioner. Inilah faktor ketiga yang merupakan kunci kesuksesan seseorang muslim. Visioner adalah meluruskan pandangan jauh ke akhirat. Sehingga, setiap amal yang dilakukan, tidak hanya berorientasi dunia, tapi lebih mengutamakan manfaat akhirat, dalam segala bidang.

Bagi seorang santri atau murid, ia tidak hanya belajar untuk mendapat nilai dari guru. Tapi diniati tulus sebagai ibadah, sungguh-sungguh agar berbuah surga, dan bermanfaat untuk umat meskipun dirinya kelak telah tiada.

Jika kemudian menjadi pengusaha muslim adalah menjadi impian, maka itu juga digunakan untuk menumpuk pundi-pundi amal shalih guna kehidupan selepas mati. Bukan sekedar bisnis untuk rupiah, atau asesoris dunia lainnya, tapi mengutamakan orientasi akhirat.Agar setiap rupiah yang dihasilkan bisa bermanfaat untuk umat, agar setiap transaksi dan kemanfaatan yang dihasilkan semakin mendekatkan dirinya dengan Allah, dan menjadi sarana baginya kelak untuk memasuki surga.

Akhirnya, Salman dan Khandaq memang kisah, yang bisa jadi, tak akan mungkin terulang secara detail. Karena sejarah, bukan sekedar catatan tentang angka atau tempat. Ia adalah sebuah cara agar kita bisa mengambil hikmah, agar kita bisa menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Jika Salman dan seluruh pasukan Khandaq adalah generasi terbaik, sehingga kita tak mungkin bisa menjadi lebih baik dari mereka, maka meneladani mereka sesuai batas kemampuan kita adalah hal yang paling mungkin untuk kita lakukan.

Semoga kita, tak akan lelah, hingga menyejarah. Semoga, kita tak akan puas untuk melakukan istirahat, hingga kelak menjejak surga. Aamiin. [Dimuat dalam buku Berkaca Pada Jiwa, Dar Insyirah, 2014]



Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

3:10 AM | 0 comments

Nasehat untuk Bujanghidin

Written By mimin on Tuesday, February 25, 2014 | 11:50 PM

Siluet pemuda - ilustrasi bujanghidin (poeticpoems.wordpress.com)
Jang, ini nasehat cinta. Serius. Bukan menggurui. Karena memang yang menyampaikan bukan seorang yang berilmu. Ini hanya sebuah tukar ilmu, karena kita sesama murid dalam sekolah kehidupan ini.

Begini, Jang. Tak ada salahnya, jika dirimu membayangkan pernikahan yang berlimpah sumringah dengan aneka hiasan mewah. Atau minimal, ada panggung, pakaian bak raja dan ratu, serta hiasan dan suguhan yang menimbulkan decak kagum seluruh hadirin.

Itu boleh, Jang. Hanya, kau perlu berpikir tentang satu hal : realitas.

Iya jika dirimu anak Presiden. Maka segala macam rupa kemewahan itu mudah bagi orang tuamu. Atau mungkin, kau anak pengusaha kaya raya. Sehingga 100-200 juta untuk pesta pernikahan itu bagaikan jajan anak jalanan yang senin-kamis itu. Bahkan, mereka bisa sekali pesta dengan kocek milyaran.

Nah, dirimu itu siapa, Jang?

Pun, jika kau kaya, apakah mereka yang bermewah-mewah itu layak diteladani? Bukankah kita punya sekian ribu teladan kebaikan. Bahkan mereka, sudah dijamin selamat dunia, akhirat dan kelak masuk surga. Bukankah teladan dari yang kedua ini lebih layak untuk kalian upayakan?

Siapa?

Para Rasul dan generasi terbaik setelahnya. Mereka sudah memberikan contoh terbaik tentang pernikahan yang disucikan langit, dan disebut sebagai ikatan yang berat dalam Kalam SuciNya. Pernikahan yang berlandaskan niat karenaNya, lalu dijalani sesuai dengan aturanNya. Pernikahan yang bukan saja menautkan dua fisik, tapi dua jiwa, hati dalam satu aqidah. Pernikahan yang darinya, diharapkan terlahir generasi-generasi yang kelak meninggikan klimah-kalimahNya di bumiNya ini.

Maka, mengapa tak menyederhanakan pernikahan ini layaknya Khadijah yang mengutus utusan untuk melamar Rasulullah? Atau, seperti Ali yang menikahi Fathimah bermodal keberanian, niat yang benar dan hanya sebuah cincin besi? Atau, selayak Umar yang meminta Ummu Kultsum bin 'Ali untuk dinikahinya? Atau, semisal Umar yang memerintahkan anak-anaknya untuk menikahi anak penjual susu yang baik aqidahnya?

Sungguh! Mereka ini memberikan teladan kesederhanaan bukan lantaran mereka miskin. Karena mereka tahu, jika teladan kesederhanaan saja banyak yang mempersulit diri dengan memaksakan kemewahan? Lantas bagaimana ketika mereka mencontohkan kemewahan?

Ingatlah, Jang. Misi suci itu, sesederhana apapun, akan terasa istimewa. Bahkan, lebih dan sangat istimewa jika kau mendatanginya dengan berani, lantas mengutarakan niatmu. Bahwa kalian, ingin mensucikan diri, menggenapkan separuh agama. Dan, ingin membersamainya dalam satu cinta kepada Yang Mahamenautkan hati.

Jang, apakah hanya komentar orang-orang yang kauharap? Bukankah kebenaran niat dan Ridho Allah, lebih baik dari sebanyak apapun pujian makhluk kepadamu?

Jang, semoga Allah segera menguatkan hatimu untuk menjalankan sunnah nabiNya ini. Jang, doaku bersamamu. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

11:50 PM | 0 comments

Masih Galau? Menikahlah!

Written By mimin on Sunday, February 23, 2014 | 5:30 AM

Menikah - ilustrasi
Ketika anda masih lajang, sering mengalami bingung. Sebut bahasa gaulnya, galau. Ini terjadi, satu diantaranya, karena anda seorang diri.

Memang, ada guru atau sahabat atau keluarga. Namun, jika pihak-pihak itu tak selalu ada di samping anda, maka peluang galau itu semakin menjadi-jadi.

Alhasil, kebanyakan dari bujanghidin ini, sering melakukan kegiatan 'ekstrem' yang kadang tak begitu jelas manfaat kebaikannya. Ingat kata 'kebanyakan', jadi tak semua bujanghidin berlaku seperti ini.

Nah, jika anda sudah mempunyai pendamping hidup. Dimana ia setia untuk mendukung setiap proyek kebaikan yang hendak anda eksekusi, maka peluang galau itu bisa diminimalisir, bahkan bisa dinolkan.

Karena, jika anda memilih istri yang tepat, maka dia siap mendukung anda, jika yang dilakukan adalah kebaikan yang disyari'atkan. Jadi, ibarat kasarnya, jikapun anda meminta agar ia menjadi jembatan penyeberangan bagi kesuksesan anda, dia akan menjalaninya karena sadar akan konsekuensi ketaatan dan selama itu tak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang kita anut.

Lanjut, istri yang pengertian ini, akan mengetahui titik kebaikan kita, sehingga dia selalu mendukung dan bahkan memberi usul kebaikan bagi kemajuan anda. Karena, dalam benaknya, kesuksesan anda adalah kebahagiaan tak terkira baginya.

Sedangkan, sebagaimana kita ketahui, puncak sukses itu, baru akan didapat jika seseorang melakukan pekerjaan sebagaimana passion-nya.

Sederhananya, seorang yang sehari-hari menikmati sentuhan keyboard dan tatapan manja monitor, tak akan cocok jika diminta bergelut di sawah berteman terik dengan peluh bercucuran.

Begitulah kira-kiranya.

Jadi, bagi yang masih bingung mau meledakkan potensi di bidang apa, sebaiknya anda meniatkan, merencanakan dan menjalankan misi suci bernama pernikahan. Ingat, cari wanita yang tepat! Kriterianya? Yang shalihah, baik perangainya, mau menaati Allah dan RasulNya, sebelum menaati anda sebagai suaminya. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

5:30 AM | 0 comments

Akhlak dalam Berpoligami

Written By mimin on Monday, February 17, 2014 | 2:20 AM

Poligami - desainkawanimut
Islam adalah agama sempurna yang memadukan antara ilmu dengan amal. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan. Ilmu tanpa amal, dalam Islam, akan menjadi sesuatu yang kosong tanpa makna. Atau, sebuah tumbuhan yang subur, namun tak berbuah. Sedangkan amal tanpa ilmu, tak ubahnya orang yang berjalan tanpa arah. Memang, langkahnya panjang, bisa jadi pula jarak yang ditempuh semakin jauh, tapi ketika ditanya : Mau kemana? Mengapa ke sana? Dan seterusnya, ia tak bisa menjawab lantaran tak memiliki ilmu.

Islam juga agama yang menyeluruh. Sebuah ajaran paripurna yang tak mungkin ada cacat di dalamnya. Karena Islam berasal dari Allah yang Maha Mengetahui aturan apa yang cocok bagi seluruh makhlukNya. Dalam tahap ini, pengamalan Islam, tak boleh dilakukan serampangan. Karena semua ajaran Islam, sudah selesai dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi-generasi terbaik setelahnya.

Islam, juga merupakan agama yang mengedepankan akhlak dalam setiap pelaksanaan ajarannya. Baik terhadap Allah, RasulNya, maupun kepada sesama. Karena memang, tugas utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah merupakan utusan yang mengarahkan manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman islamiyah.

Diantara pentingnya aspek akhlak dalam setiap pengamalan ibadah ini, salah satunya terdapat dalam praktek poligami. Satu ibadah ini, seringkali disalahmaknai. Sehingga, banyak kita dapati mall praktek poligami dalam keseharian. Hal ini pula yang menyebabkan Islam dipandang tidak adil dalam menempatkan wanita. Juga, menjadi cela bagi musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam, dengan amunisi banyaknya oknum yang asal poligami tanpa memiliki ilmu yang cukup, dan akhlak yang buruk dalam menjalankannya.

Sudah kita fahami bersama, bahwa poligami yang dilakukan oleh Rasulullah, bukan karena nafsu, tapi murni karena melakukan perintah Allah. Sehingga beliau selalu dalam bimbingan wahyu dalam melakukan hal tersebut. Yang paling jelas, beliau adalah teladan yang terbaik terkait semua ibadah, juga dalam soal poligami ini. Diantaranya, beliau banyak menikahi janda, beliau berlaku adil, dan seterusnya.

Terkait akhlak dalam poligami ini, mari sejenak kita tengok contoh kekinian dari dua orang cendekiawan muslim di negeri ini.

Memang, dalam hal ini, seorang suami tidak diharuskan meminta ijin kepada istri, anak dan keluarganya ketika hendak berpoligami. Namun, jika hal ini dilakukan, maka dampaknya akan lebih baik, dan bisa dijadikan teladan bagi umat.

Sebut saja yang dilakukan oleh KH Muhammad Arifin Ilham. Pemimpin Majlis adz-Dzikra ini, menikah untuk kedua kalinya dengan wanita muslimah yang beliau temui dalam mimpi. Kemudian, beliau melakukan diskusi yang intens kepada keluarganya. Di dalamnya, beliau meminta pendapat orang tua, mertua dan juga istrinya. Ini mudah difahami, karena merekalah yang kelak mendapat dampak langsung dari apa yang dilakukan oleh ustadz muda ini. Dalam melakukan diskusi itu, ustadz kelahiran Banjarmasin ini menghabiskan waktu tak kurang dari empat tahun untuk kemudian mendapat ‘ijin’ dari seluruh pihak keluarganya.

Hendaknya, hal ini kita garis bawahi. Bahwa akhlak yang baik terkait suatu ibadah, akan menghasilkan dampak yang lebih baik, bukan hanya bagi pelakunya, tapi bagi orang sekitar dan umat Islam secara keseluruhan. Apalagi jika hal ini dilakukan oleh seorang panutan umat.

Contoh kedua, kita dapati poligami dari seorang ustadz muda pemimpin salah satu partai Islam di negeri ini, Anis Matta. Pria kelahiran Bone ini memutuskan untuk menikah kedua kalinya dengan mualaf asal Hongaria. Sebelas-dua belas dengan KH Muhammad Arifin Ilham, Anis melakukan hal serupa. Sebelum memutuskan untuk berpoligami, terlebih dahulu dia melakukan musyawarah dengan istri, orang tua, mertua dan anak-anaknya. Selepas pihak ini menyetujui, Anis juga meminta pendapat dari teman-teman di partai yang dia pimpin itu. Hingga akhirnya menemui kata sepakat, ketika mereka semua memberikan lampu hijau, penulis buku Momentum Kebangkitan ini menghabiskan waktu empat tahun untuk berdiskusi dan meyakinkan keluarganya akan jalan yang hendak ditempuhnya itu.

Harap digaris bawahi, bahwa seorang lelaki, sebagaimana kami sampaikan di depan, tak harus meminta ijin kepada istri dan keluarganya ketika hendak berpoligami. Namun, aspek akhlak baik seperti meminta ijin ini, hendaknya dipandang sebagai sebuah upaya kebaikan, agar sunnah tak dipandang sebagai masalah.

Karena, banyak kita temui fakta yang membuat kita miris. Misalnya saja, mereka yang poligami di bawah tangan, atau, sebagaimana penulis dapati, ada oknum yang mendatangi calon istri keduanya dengan mengaku sebagai bujangan. Padahal, dia sudah beranak dan beristri.

Semoga, siapapun yang berniat menjalankan sunnah ini, tidak terkotori dengan dominasi nafsu sehingga kemudian membungkusnya dengan dalih sunnah. Apalagi, berdasarkan survei yang dilakukan oleh penulis ternama di negeri ini dalam salah satu bukunya, bahwa sebagian besar lelaki yang menempuh jalan poligami, pasti ada motif ‘nafsu’ di dalamnya.

Tentu, tak baik jika kita menggenalisir. Apalagi, jika mengembalikan kepada hukum asalnya. Bahwa poligami merupakan perintah Islam yang tak mungkin diganti dengan hukum lain. Apalagi, dengan keyakinan penuh, bahwa semua hukum Allah, jika dilakukan dengan baik, maka hanya akan menghasilkan kebaikan pula.

Jika kemudian hukum Allah dilakukan, namun dampaknya mengkhawatirkan bahkan merusak, maka bukan salah hukumnya, melainkan kesalahan para pelakunya yang mengabaikan berbagai aspek dalam hukum-hukum tersebut, sebagian atau seluruhnya.

Kita percaya, bahwa hanya orang-orang kuatlah yang mampu berpoligami dengan baik. Sehingga, sangat layak diingat, agar tidak hanya menyukai membahas sunnah poligami dan bersemangat melakukannya jika sunnah-sunnah yang lain belum dilakukan dengan baik. Jika shalat berjama’ah saja masih bolong-bolong, jika shalat tahajjud saja masih sebulan sekali, jika baca al-Qur’an saja tak khatam-khatam, jika hafalan juz 30 saja masih belang-belang, jika silaturahim saja masih enggan, apalagi infaq dengan seluruh harta yang dimiliki, maka sejatinya, poligami masih jauh dari pribadi-pribadi itu semua.

Ah, nampaknya indah sekali, apa yang disampaikan oleh Ustadz Cahyadi Takariawan, “Bahagiakan diri dengan satu istri.” Atau, seperti yang disampaikan oleh KH Muhammad Arifin Ilham, “Dua istri yang rukun itu lebih baik jika dibandingkan satu istri yang rebut terus-terusan.” []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

2:20 AM | 0 comments

Menikah Lantaran Bersin

Written By mimin on Sunday, February 16, 2014 | 2:12 AM

ilustrasi menikah
Menikah selalu menjadi tema menarik untuk diperbincangkan di berbagai situasi. Karena menikah merupakan satu dari sekian banyak ekspresi cinta dalam beribadah kepada Sang Maha Menciptakan. Di mana semua kisah tentang cinta, akan selalu hangat jika dibahas dari sudut pandang manapun.

Sederhananya, silahkan bertanya kepada bapak atau ibu anda tentang awal mula mereka berkenalan, hingga kemudan memutuskan menikah. Yang ditanya, pasti berbinar sumringah ketika hendak memulai kisahnya. Jangan berhenti, lanjutkan pertanyaan tentang alasan apa yang menguatkan bapak anda sehingga meminang calon istrinya yang kini menjadi ibu bagi anda. Lalu, tanyakan pula kepada ibu, apa yang menjadi alasan bagi ibu sehingga dengan mantap menerima pinangan bapak anda.

Jika bapak atau ibu kita dahulu, tidak terlalu berbelit dan banyak kriteria terhadap calon istrinya, pun dengan ibu anda yang tak muluk-muluk mengharapkan pangeran dambaan jiwanya, maka di zaman kita ini, hal-hal seperti itu sangat jarang dijumpai.

Entah dari mana mulanya, banyak diantara kita yang banyak menerapkan syarat-syarat aneh tak berdalil dalam mematok calon pasangan hidup kita. Misalnya saja, seorang ibu yang mensyaratkan agar anak laki-lakinya mencari istri yang tinggi badannya, minimal sama dengan tinggi badan anaknya yang 170 cm. Ini mau memilih menantu atau pasukan pengibar bendera?

Atau misalnya, seorang pemuda yang selalu menjadikan wajah sebagai satu-satunya acuan dalam meminang. Jika putih, mengkilap dan mirip artis, barulah diterima. Padahal, agamanya tak menjamin keshalihannya. Namun, ketika yang disodorkan adalah wanita sholihah, dengan jilbab terjuntai, paras teduh bekas wudhu dan menunduk ketika memandang, juga sekian banyak kebaikan yang ia miliki, hanya karena wajah yang agak hitam lantaran rajin melakukan jaulah dakwah, serta merta, wanita sholikhah ini ditolak sebelum dilirik.

Mari, sedikit bernostalgia. Kembali ke tahun 90-an. Di mana ketika itu, dakwah mulai menggeliat di negeri kita ini. Di zaman itu, keshalihan menjadi sangat langka namun dibanggakan oleh penganutnya. Sehingga, keshalihan itu terwujud dalam tiap jenak. Baik itu fisik, pakaian, maupun laku. Hal ini dilengkapi dengan munculnya sosok-sosok berani yang bersemangat dalam menyempurnakan Islam sebagai agamanya. Tanpa berbelit, tanpa banyak alasan, dan sedikit syarat kecuali sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah yang mulia.

Ini kisah nyata, sebut saja namanya Andri. Dalam sebuah perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang menggunakan kereta api, dia ditakdirkan berhadapan tempat duduknya dengan seorang akhwat bernama Andriyani (bukan nama sebenarnya).

Menjelang sampai di Kota Lumpia itu, Andri ditakdirkan oleh Allah untuk bersin, “Haccccciiii...” Serta merta, lantaran gemblengan Islam yang selama ini ia peroleh dan semangat untuk mengamalkannya, lelaki muda ini berucap, “Alhamdulillah..” sebagaimana disunnahkan oleh Nabi. Tak disangka, tak dinyana, perempuan di hadapannya itu menyahut, sebagaimana disunnahkan oleh Nabi ketika mendengarkan orang yang bersin, “yarhamukallah.” Keduanya kemudian saling melirik sebelum akhirnya menundukkan pandangannya masing-masing. Dengan rasa yang tak biasa, Andri kembali menjawab doa yang dilantunkan wanita itu, “yahdikumullah.”

Peristiwa pengamalan sunnah ini terjadi begitu saja. Hingga akhirnya, mereka sampai di stasiun pemberhentian terakhir. Entah apa yang mendorong Andri, ia kemudian memberanikan dirinya untuk menanyakan nama bapak dan alamat perempuan yang menjawab bersinnya dengan doa yang disunnahkan nabi itu.

Bukankah ini hal yang aneh? Jika muda-mudi zaman sekarang, yang ditanya pasti nama, nomor hand phone, akun jejeraing sosial, dan seterusnya. Namun, Andri justru menanyakan nama bapak dan alamatnya.

Keduanya pun berpisah. Dengan tetap saling menundukkan pandangan untuk menguasai hatinya masing-masing. Hingga akhirnya, waktu berjalan beberapa bulan kemudian.

Andri membawa orang tuanya untuk mencari alamat orang tua perempuan yang berhasil menarik hatinya itu. Berbekal nama dan alamat yang diberikan, meski dengan sedikit kesulitan, akhirnya ditemukanlah apa yang mereka cari.

Yang ditamui, kaget bukan kepalang. Seperti ketiban durian runtuh. Disilaturahimi keluarga asing yang langsung mengenalkan diri dengan penuh keakraban. Kebahagiaan bertambah ketika orang tua Andri berkata, “Jadi, maksud kedatangan kami adalah untuk menjalin silaturahim.” Yang punya rumah mengangguk bahagia, dengan senym sumringah.

Tamu yang baru dikenal itu, kemudian melanjutkan penyampaian misinya, “Di samping itu, kami hendak melamar anak bapak untuk anak kami,” sembari menunjuk ke arah anaknya, Andri. Tuan rumah, langsung tercekat. Bingung, haru, bercampur bahagia tak terlukis.

Perbincanganpun kemudian berlanjut dengan kisah cinta yang bersemi di kereta api Jakarta-Semarang bersebab bersinnya Andri. Kedua keluarga itu akhirnya terlibat dalam perbincangan seru, penuh kehangatan dan sarat makna. Yang tak kalah mengejutkan, perempuan shalihah berjilbab rapi itu langsung menerima lamaran lelaki yang datang secara kstaria bersama keluarganya itu.

Akhirnya, keduanya mengikat tali suci bernama pernikahan. Hingga saat ini, keduanya bahagia dengan pilihannya. Bahwa mereka memilih menjaga kesucian dengan menikah. Dengan cara seksama, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Andri, memutuskan memilih Andriyani lantaran ciri keshalihan yang dia temui pada diri wanita itu saat berjumpa di kereta api, pada pertemuan yang hanya sekali itu. Dan Andriyani, menerima lamaran lelaki itu, lantaran ia mengucap hamdalah saat bersin, dan itu satu diantara sekian banyaknya ciri keshalihan. Di samping itu, keberanian diri Andri bersama keluarganya untuk langsung datang ke rumah orang tuanya, merupakan bukti keshalihan lain yang bermakna keseriusan. Andri berani memutuskan untuk memilih demi menjaga kesucian hati, berani melangkah untuk menggapai barokah walimah.

Semoga, Allah hadirkan di zaman kita ini, laki-laki shalih semacam Andri, juga wanita-wanita baik hati semacam Andriyani. Bahkan, lebih baik dari keduanya. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

2:12 AM | 0 comments

Ayahku, Guru Kehidupanku

Written By mimin on Friday, February 14, 2014 | 8:34 PM

Ayah guru kehidupan - ilustrasi
"Aku itu ndak bisa ngomong, Ayah. Bagaimana aku bisa menjadi guru," ujarku di penghujung masa SMA.

Ayah yang kuajak bicara, menjawab santai, sambil berkelakar, "Makanya kamu kuliah di jurusan Keguruan. Di sana kamu akan diajari bagaimana menjadi guru. "

Akhirnya, selepas SMA, saya memilih Fakultas Tarbiyah sebagai pilihan pertama dalam jalur PMDK di sebuah Universitas. Dan ‘nahasnya’ saya diterima di jurusan itu. Saya sempat bingung dan tidak punya tujuan di sana.

Setiap ada kesusahan pada saat praktek mengajar, saya selalu berdalih bahwa saya tidak mesti harus menjadi guru. Saya bisa menjadi penerjemah dengan bekal ilmu terjemah yang saya dapat. Saya juga bisa menjadi praktisi pendidikan dan beberapa alasan lain, demi menenangkan hati saya. Meski itu, hanya sementara.

Namun lain lagi ketika saya mengeluh pada ayah, “Kalau kamu gak bisa, ya belajar!” Satu kalimat penuh makna dari ayah ini, begitu membekas di hati saya. Tidak ada hal yang tidak bisa kita lakukan, asal kita mau belajar. Sampai akhirnya saya lulus dan menjadi alumni Fakultas Tabiyah.

Beberapa bulan setelah wisuda, saya diterima mengajar di sebuah SMP di Kota kelahiran saya. Di sana, saya diamanahi untuk mengajar mata pelajaran IPS. Sebuah pelajaran yang jauh dengan jurusan saya di Pendidikan Bahasa Arab. Mau tidak mau, Saya harus flash back, membaca ulang buku-buku SMP dan SMA, juga belajar dari banyak sumber.

Uniknya, ketika saya mengadu kepada ayah bahwa saya diamanahi mengajar IPS, lelaki hebat itu hanya tersenyum dan berkata, santai, “Terima saja. Dan, jangan lupa belajar! Apalagi, itu bukan bidangmu.” Lagi-lagi, ayah menyuruh saya untuk belajar.

Satu semester berlalu, tapi saya masih kesulitan menghadapi anak-anak dengan berbagai karakternya. Belum lagi adaptasi dengan mata pelajaran baru yang saya pegang, PKN. Anehnya meski tanpa cerita kepada ayah, beliau sudah bisa menangkap gelagat saya. Tiba-tiba, beliau berkata, “Belajarlah mengontrol emosimu. Karena yang kamu hadapi itu anak-anak”

Lagi, lagi dan lagi, ayah menyuruh saya untuk belajar. Aah….. ayah, engkau benar-benar ingin menumbuhkan mental pembelajar bagi anakmu ini. Meski kadang, aku tak bisa menangkap pesan yang engkau sembunyikan di balik kata-kata bijakmu itu.

Lambat laun, saya mulai berpikir mengapa ayah meminta saya menjadi guru. Bukan lantaran cita-cita beliau menjadi guru tak sampai. Tapi, ayah menginginkan agar saya mempunyai mental pembelajar! Dan mental itu, salah satunya, bisa dimiliki dengan menjadi guru.

Karena sudah seyogyanya seorang guru tampil elegan dan berwibawa dengan kemuliaan akhlak dan keluhuran budi pekertinya di depan anak didiknya. Sudah seyogyanya, seorang guru bersahaja dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dan, sudah seyogyanya pula, seorang guru terus melatih dirinya dengan beragam disiplin ilmu pengetahuan.

Karena seorang guru, adalah seorang pembelajar sejati yang mempunyai mental baja. Guru adalah seseorang pembelajar sejati yang tak pernah letih untuk berbenah. Guru, adalah seorang pembelajar sejati yang tak pernah mati dalam berkreasi. Ia, adalah pembelajar sejati yang tak pernah berhenti belajar, sampai mati. Because teacher is never die, because study is never die. []

Penulis : Ukhtu Emil
Tim bersamadakwah.com

8:34 PM | 0 comments

Menimbun Amal untuk Akhirat

Pergi ke masjid (cover buku Motivasi Dakwah)
Sukses tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia juga tak semudah mengucap sim salabim dalam sebuah pertunjukkan sulap. Sukses, adalah pencapaian panjang. Tumpukan keberhasilan kecil dalam waktu yang tak terhingga, itulah kesuksesan.

Sebut saja sukses Rasulullah dalam berdakwah. Bukan dalam hitungan hari, tapi puluhan tahun. Belum lagi dakwah yang dilanjutkan oleh pengikut-pengikut beliau, jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan tahun hingga zaman kita ini.

Terkait duniawi pun, sukses merupakan capaian panjang. Sebelum akhirnya menemukan lampu, Thomas Alfa Edison sudah melakukan ratusan percobaan. Bahkan, dalam sebuah sumber dikatakan bahwa percobaan sukses yang dia lakukan itu, mencapai angka ribuan. Senada dengan Edison, Wright bersaudara sang penemu pesawat terbang pun bernasib sama. Para suksesor itu, telah menginvestasikan tumpukan modal. Baik waktu, dana, dan seterusnya. Maka, sukses, hanya milik mereka yang bermental baja. Yang tak lekang lantaran terik mentari, dan tahan gigil ketika dingin menyergap.

Dalam sebuah kisah kuno, tersebutlah Semut dan Belalang. Dua makhluk Allah ini hendak memberikan kita pelajaran berharga tentang sukses, dan cara menggapainya.

Di kalau tiba musim panas, Belalang asyik menikmati dedaunan dan segala ihwal makanan. Mereka menikmati musim ini dengan berpesta pora. Dalam angan mereka, musim panas merupakan kesempatan berpesta, karena ketika musim dingin menyapa, mereka tidak bisa leluasa melakukan hal ini. Alhasil, di sepanjang musim itu, mereka habiskan waktunya untuk makan, main dan tidur belaka.

Ketika mereka melihat kawanan Semut yang sibuk mengumpulkan sisa-sisa dedaunan yang mereka makan untuk ditimbun di sarangnya, mereka memicingkan mata dan berkata pongah, “Mut, ini musim panas. Saatnya berpesta pora. Mengapa kalian masih saja bekerja keras menimbun makanan di sarang kalian?” Semut dan kawanannya, hanya melirik dan tak menghiraukan ocehan Belalang-belalang itu.

Waktu berjalan. Musim pun berganti. Panas berpamit, dingin serta merta menyergap. Tanpa permisi. Alhasil, kawanan Belalang yang baru saja menikmati pesta pora musim panas, merasa kebingungan. Mereka belum mempersiapkan apapun untuk kehidupan di musim dingin. Sementara itu, ketika musim dingin, mereka harus banyak berlindung di dalam tanah untuk menghindari sergapan dingin yang bisa dengan mudah merenggut nyawa mereka.

Di tempat lain, Semut-semut yang telah mengumpulkan aneka bekal untuk musim dingin itu, tengah menikmati kehangatan di sarang mereka dengan persediaan makanan yang sangat cukup. Sembari menghangatkan tubuh dan menyantap sajian-sajian itu, mereka asyik bercanda dan bertegur sapa dengan sesamanya.

Jika terkait hal duniawi berlaku demikian, maka terkait ukhrowi jauh lebih kompleks. Sehingga, siapapun kita, harus menjadi semut. Semut yang sabar mengumpulkan bekal untuk kehidupan selepas mati, Semut yang tak terlalu menggubris ejekan Belalang yang mengajak agar mereka menikmati pesta pora sementara itu. Dengan meneladani Semut dalam fable ini, insya Allah hidup kita akan lebih sukses, bahagia dunia dan akhirat. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

5:38 AM | 0 comments
Khutbah Jumat
Hadits Shahih Bukhari