Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Showing posts with label Gresia Divi. Show all posts
Showing posts with label Gresia Divi. Show all posts

Mengapa Anakku Sering Marah-marah dan Sulit Konsentrasi?

Written By mimin on Wednesday, December 11, 2013 | 4:30 PM

Ilustrasi anak marah (givinglifeonline.com)
Menjadi seorang guru kadang kala seperti menjadi seorang dokter. Terutama ketika rapotan, orang tua akan berkonsultasi dengan guru, begitu juga sebaliknya. Seorang guru juga akan mencari informasi sedetail-detailnya tentang perkembangan ananda baik di rumah atau pun di sekolah.

Beberapa keluhan yang sering saya dapatkan ketika konsultasi adalah ketika seorang anak usia dini mudah sekali marah-marah yang tak wajar sampai membanting apa saja yang ada di sekitarnya atau teriak kencang-kencang bahkan memukul. Dalam pengamatan saya mendapati beberapa anak didik yang memiliki kasus serupa, orang tua tidak perlu panik dengan hal ini. Anak usia dini, seusia play group atau TK berada pada masa penuntasan sensorial mereka terutama taktil (perabaan). Jika hal ini belum tuntas, tidak salah jika mereka memang sulit sekali untuk konsentrasi, membaca, apalagi menulis. Selain itu, emosi mereka juga sulit sekali terkontrol. Bagaimana bisa begitu?

Orang buta dan tuli masih bisa survive dengan perabaan mereka. Sedangkan orang yang tidak memiliki tangan dan kaki, mereka akan sulit melakukan banyak hal. Itulah mengapa perabaan anak harus dituntaskan terlebih dahulu karena penglihatan dan pendengaran dapat diwakili dengan perabaan. Selain itu, sistem pengendalian saraf pusat anak sedang dalam proses perkembangan agar dapat disimpan otak dalam jangka panjang. Aspek yang mempengaruhi perkembangan sistem saraf pusat salah satunya adalah taktil (perabaan) ini. Sulitnya membaca, menulis, dan emosi yang sulit dikendalikan kemungkinan besar karena taktil yang belum tuntas.

Itulah mengapa anak-anak yang belum tuntas sensorial perabaannya sangat senang sekali ketika melihat air atau pun pasir. Entah itu genangan air atau air di bak mandi sekali pun. Anda pasti juga sering melihat anak-anak yang senang sekali bermain pasir, tidak peduli itu membahayakan kesehatannya atau tidak. Semua itu alamiah bagi anak-anak. Bagi orang tua dan pedidik sudah seharusnyalah kita mengetahui akan hal ini agar kita tidak “mendzolimi”anak karena kebodohan kita sendiri. Ketika kita melarang anak bermain kotor, ketika itu pula kita melarang mereka untuk berkembang lebih baik. Pasti karena alasan kesehatan dan kerepotan.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menuntaskan taktil anak dengan tetap menjaga kesehatan mereka?

1. Berenang
Sebaiknya kita mengganti kesenangan anak bermain genangan air dengan berenang. Banyak hal yang bisa diajarkan ketika anak bermain air di kolam renang. Selain mengajarkan renang, kita juga bisa mengajarkan berwudhu kepada mereka.

2. Bermain Pasir Putih
Hal yang kita khawatirkan ketika anak bermain pasir adalah tentang kesehatan mereka. Kita bisa menggunakan pasir putih untuk memperkecil kemungkinan cacingan dan gangguan kesehatan lainnya.

3. Bermain plastisin, tanah liat, lem, dan sejenisnya.
Satu hal yang perlu diingat, ketika anak bermain kotor, ketika itu pula mereka belajar. Jika mereka kotor setelah bermain, kita bisa mengajarkan kebersihan dengan mengajak mereka membersihkan diri. Jika bisa dibersihkan, mengapa kita panik? Selamat mencoba!

Wallahua’lam bish showab. [Gresia Divi]


4:30 PM | 0 comments

Bijak Menyikapi Kesalahan Anak

Written By mimin on Monday, December 9, 2013 | 6:20 AM

Ayah dan anak (foto liputan6.com)
"Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa."

"Subhanallah, menakjubkan!" Itulah kalimat yang terlontar dari kami, para guru yang sedang mengikuti pelatihan siang itu. Pemateri kami, ustadz Setiawan Agung Wibowo menceritakan pengalaman temannya sebagai guru sekolah Jerman di Serpong untuk lebih membuka wawasan kami.

Berdasarkan kisah guru tersebut, beberapa waktu lalu seorang anak direktur salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di Indonesia menggunakan kosa kata baru yang tidak pantas dan mengandung unsur seksual yang vulgar. Beberapa guru di sana menduga anak ini telah mengakses website yang berisi konten dewasa yang tidak pantas.

Ketika pertama kali mendengar berita ini hampir kebanyakan orang pasti berfikir, anak orang kaya sih, terlalu dimanja, makanya aneh-aneh. Atau, paling-paling anaknya bodoh makanya buka-buka website porno. Bahkan kita mungkin berpikir, pasti ini anak kurang perhatian di rumah dan orangtuanya tidak pernah mendidiknya dengan baik. Kalau memang demikian, case closed. Kita tahu siapa kambing hitamnya.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Meskipun secara finansial berlimpah, anak ini tidak sombong atau sok pamer kekayaan. Pembawaannya sederhana, sopan, dan kemampuan sosialnya sangat baik. Selain itu, dia adalah salah satu murid yang memiliki kemampuan menonjol di bidang Fisika dan Matematika serta berkinerja sangat baik di bidang lain. Dia keukeuh bercita-cita untuk kuliah di bidang nuklir. Kemampuan akademisnya pun sangat menunjang. Kedua orangtuanya juga penuh perhatian dan dekat kepada anak ini sampai-sampai setiap kali bapaknya tugas ke luar negeri, anak dan istrinya dibawa supaya mereka selalu dekat.

Sebelum kepala sekolah memanggil orangtua anak ini, pihak sekolah menyampaikan kekhawatiran para guru kepadanya. Tanpa banyak tarik ulur, anak ini mengaku telah mengakses situs-situs porno dan merasa kalau dirinya kecanduan. Anak ini baru berusia 13 tahun dan duduk di kelas 7. Segera setelah itu pihak sekolah menghubungi kedua orangtua anak ini dan mereka serta merta datang hari itu juga.

Kedua orangtua ini begitu solid. Kalimat pertama yang mereka ucapkan ketika bertemu pihak sekolah adalah kalimat penuh terima kasih karena mereka telah diberitahu tentang hal buruk yang dilakukan anaknya. Setelah mendengar cerita tentang anak mereka, kedua orangtua anak ini langsung mengajak pihak sekolah berdiskusi mengenai solusinya. Tidak sekalipun mereka menyalahkan internet, gadget, pengaruh negatif teman-teman anaknya, sekolah yang terlalu bebas, guru-guru yang tidak mengkontrol, pendidikan agama yang kurang, masyarakat yang rusak, informasi yang terlalu terbuka, dll. Fokus mereka hanya mencari solusi terbaik untuk anaknya.

Setelah berdiskusi panjang lebar dan mencari solusi yang ramah terhadap anak, tanpa hukuman, yaitu melalui serangkaian pendidikan untuk menggugah kesadarannya yang dilakukan di sekolah dan di rumah, pihak sekolah mengakhiri pertemuan hari itu.

"Saya berkesempatan ngobrol lebih lanjut dengan kedua orangtua ini sembari jalan di hall sekolah. Terus terang saya kagum dengan mereka berdua dan saya ungkapkan rasa salut saya kepada mereka yang fokus mencari solusi daripada mencari kambing hitam," kata ustadz Agung menirukan cerita temannya.

"Dengan rendah hati dan tidak dibuat-buat, ayah anak ini bilang, 'Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa'," tambahnya lagi.

“Saya berharap ini jadi renungan para guru yang ada di sini,” ujarnya mengakhiri kisah ini. Saya pribadi berharap, ini bukan hanya menjadi renungan saya dan teman-teman saya tetapi juga seluruh pendidik dan orang tua. Jika orang tua dan pendidik memegang prinsip bahwa pendidikan adalah upaya perubahan maka mereka tidak akan langsung menghukum kesalahan anak.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]

6:20 AM | 0 comments

Ketika Akhwat Diuji dengan Suami

Written By mimin on Monday, December 2, 2013 | 5:45 AM

La Tahzan (gambar faniafnan.blogspot.com)
“Biarlah itu menjadi urusan suamiku dengan Allah, yang terpenting aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri.”

Begitu menohok ketika sebuah kalimat itu kudengar setelah rentetan kisahnya dalam mengarungi biduk rumah tangga. Dia adalah sosok yang begitu luar biasa di mataku. Bagaimana tidak, dalam kondisi harus bekerja untuk menghidupi keempat anaknya, ia tetap aktif berdakwah. Sementara suaminya, selain hanya bekerja serabutan, kondisinya jauh dari nilai-nilai dakwah yang ia bawa.

“Mengapa engkau mau menikah dengannya, bukankah ia perokok dan sama sekali tidak seiring dengan jalan juangmu?” tanyaku ketika itu.

“Begitulah yang namanya jodoh,” jawabnya, “Dulu pemahamanku tidak seperti sekarang. Aku terima saja lamarannya, toh tidak ada yang fatal dari dirinya, menurutku waktu itu. Dengan kefahamanku yang sekarang pun harusnya aku bisa lebih bijak. Tak pernah aku surut untuk mengajaknya melangkah bersama dalam kebaikan walau pun sungguh berat. Kalau pun masih banyak hal yang tidak sesuai dari dirinya, biarlah itu menjadi urusan suamiku dengan Allah, yang terpenting aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri. Itulah ladang dakwahku.”

Diriku yang nol sama sekali dari pengalaman mengarungi biduk rumah tangga hanya melongo mendengar jawabannya. Bukan lantaran kisah sedih hidupnya. Banyak kisah yang mungkin lebih tragis dari itu. Akan tetapi, fikiranku serasa menerawang, jikalau itu aku… bisakah aku berfikir sebijak itu…

Selama ini para bujanghidin (sebutan keren bagi yang belum menikah) sering kali hanya mempunyai teori-teori tentang pernikahan baik itu dari buku-buku yang dibaca atau pun pengalaman orang-orang di sekitarnya. Tapi jelas teori tidaklah cukup. Pun tidak ada percobaan menikah. Menikah adalah sebuah pilihan. Pembelajarannya dimulai pada saat menikah itu lah.

Selesai menerawang dengan segala fikiran yang bergelayutan, akhirnya kusimpulkan. Paling tidak, gambaran-gambaran yang kudapatkan selama ini tentang biduk pernikahan dapat membuatku memutuskan di saat itu, menjadi bijak atau menunggu keadaan yang membuatmu bijak.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]
5:45 AM | 0 comments

Awas! Ada Promosi Israel di SCTV

Written By mimin on Thursday, October 31, 2013 | 7:10 PM

Belanja di Tel Aviv (LIputan6)
Rabu (30/10) pukul 17.20 tepatnya, mataku langsung tertuju pada berita di televisi mengenai Israel. Yang aku herankan, tidak biasanya acara Liputan 6 menyiarkan berita Israel, apalagi bernada promosi.

"Belanja di Tel Aviv" demikian judul reportasenya. Ketika kusimak lebih seksama, siaran itu berisi promosi agar berbelanja ke Tel Aviv dan jaminan keamanan berbelanja di sana.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tanah milik Israel adalah hasil jajahan yang telah direbut dari Palestina, termasuk Tel Aviv yang kini menjadi ibukota Israel. Hingga saat ini pun Israel masih menjajah Palestina.

Mengapa promosi Israel ini menjadi tayangan SCTV? Adakah agenda tersembunyi di baliknya? Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia harusnya mendukung atas kemerdekaan Palestina. Tapi yang tergambar oleh pemberitaan di Liputan 6 justru seakan membiaskan hal itu. Seolah tidak terjadi apapun antara Israel dengan Palestina yang higga kini masih berjuang mempertahankan tanah mereka.

Sebagai stasiun televisi yang baik harusnya SCTV, khususnya Liputan 6 memberitakan hal-hal yang tidak terkesan pro pada Israel yang merupakan representasi penjajahan di milenium ketiga. Sejalan dengan aspirasi umat Islam di Indonesia, akan lebih baik stasiun TV di negeri ini mendukung Palestina..

Selain itu, kepekaan masyarakat muslim di Indonesia atas kepeduliannya dengan nasib saudaranya seiman yang ada di Palestina bisa terlihat dari respon atas tayangan seperti ini. Jika masyarakat menyambut baik ajakan Liputan 6, ini pertanda propaganda tersebut berhasil. Semoga saja masyarakat kita masih kritis sehingga melayangkan protes ke KPI atas tayangan tersebut. Sebagaimana Februari lalu umat Islam memprotes keras Metro TV yang menayangkan program Inside bertajuk "Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia". [Gresia Divi]

Cuplikan video bisa dilihat di bawah ini, sedangkan video lengkap bisa dilihat di http://video.liputan6.com/main/read/22/1162183/0/liputan6-petang-30-10-2013-3-kelangkaan-buku-nikah-jendela-dunia-belanja-di-tel-aviv?wp.vido



7:10 PM | 0 comments

Mengapa Anak-anak Lebih Mudah Menghafal dari Kita?

Written By mimin on Tuesday, October 8, 2013 | 12:00 AM

Anak membaca Qur'an (foto Isykarima.com)
“Itu karena anak-anak tidak memiliki tendensi apa-apa selain hanya ingin menghafal. Berbeda dengan kita yang masih tercampuri dengan harapan-harapan fatamorgana yang melenakan sekalipun niat kita menginginkan pahala.”

Kata-kata itu laksana beker yang otomatis mengingatkan saya ketika mengejar target-target hafalan. Seorang ustadzah di tempat saya mengajar yang anaknya ketika itu beliau titipkan di salah satu pondok tahfidz di Jawa Timur memutarkan video berkunjungnya di pondok tempat anaknya menuntut ilmu. Rasa haru langsung menyeruak ketika kami melihat betapa si anak yang dulu adalah anak yang paling pemalu dan rewel, kini sudah menghafal surat Al Fath, tiga pekan setelah ia khatam tilawah Al Qur’an.

Sang ibu sengaja membawanya ke tempat itu untuk memupuk kecintaan anaknya pada Al Qur’an selepas dari Taman Kanak-kanak, tidak langsung ke Sekolah Dasar seperti pada umumnya. Sang ibu yakin dengan ketercintaan si anak pada Al Qur’an dan Islam sebagai dasar, otomatis akan memudahkan si anak untuk mendalami ilmu-ilmu yang lain.

“Mungkin kita ini banyak dosa ya ustadzah sehingga tidak bisa sepertinya….”, kata-kata itu mengingatkan kita pada kisah Imam Syafi'i yang mengadukan hafalannya pada gurunya, Syaikh Waqi.

"Aku mengadukan buruknya hafalanku pada Syaikh Waqi'" kata Imam Syafi'I, "maka beliau berpesan agar aku menjauhi kemaksiatan".

“Anak-anak itu masih bersih hatinya, Us" lanjut sang ustazah menasehati kami, "Mereka menghafal bukan untuk apa-apa, mereka hanya ingin menghafal itu saja. Sedangkan kita, banyak tendensi yang kita gantungkan ketika menghafal. Mulai dari harapan mendapat pujian sampai mengharap pahala. Untuk yang terakhir tidak salah memang jika menghafal karena ingin mengharap pahala, tetapi tetap saja ada hal yang membuat kita belum berada pada derajat keikhlasan tertinggi. Sedangkan anak-anak, mereka menghafal murni karena kecintaan mereka pada Al Qur’an.”

Menghujam dan membuat kami kala itu serasa tertampar. Memang benar dan sungguh benar hal itu. Semua kami lakukan karena tendensi bermacam-macam bukan murni karena kecintaan kami pada Al Qur’an atau Islam karena tilawah pun masih butuh memaksa diri untuk melampaui sehari sejuz apalagi dengan menghafal.

Asraghfirullah… [Gresia Divi]
12:00 AM | 0 comments

Anak Tidak Mau Makan Sayur dan Buah?

Written By mimin on Monday, September 30, 2013 | 4:00 AM

Ilustrasi anak tidak mau makan sayur (foto kolomjualbeli.com)
Banyak anak-anak usia PAUD yang tidak mau makan sayur dan buah. Agar bayi Anda nantinya tidak seperti mereka, ada tips yang terbukti jitu.

Tips agar anak doyan makan sayur dan buah ini saya dapatkan dari salah seorang wali murid di tempat saya mengajar. Ketika itu kami terbengong mendapati si anak dengan lahapnya memakan sayur brokoli yang hanya direbus tanpa diberi bumbu apa pun. Begitu juga di hari-hari berikutnya, bekal yang dibawakan oleh orang tua tidak layaknya bekal yang dibawa teman-temannya. Jika anak-anak lain membawa jajanan sebagai bekal, ia justru membawa buah atau sayur yang direbus begitu saja. Anak itu tidak pernah memilih-milih makanan seperti kebanyakan temannya. Ia pun sudah tidak lagi minum banyak susu dalam sehari karena kebutuhan vitamin dan mineralnya sudah ia dapatkan pada makanan yang ia konsumsi.

Kami pun kemudian “berguru” dari sang ibu. Ternyata, ketika si anak menginjak masa pemberian makanan pendamping ASI, sang ibu tidak memberikan pisang kerik atau bubur instan seperti yang diberikan para orang tua umumnya. Akan tetapi sang ibu mengenalkan ananda dengan rasa buah dan sayur yang sesungguhnya pada anak.

Seminggu pertama, ananda diberikan satu jenis buah yang sudah dihaluskan tanpa diberi tambahan rasa apa pun, hanya air secukupnya saja. Di minggu berikutnya, sang ibu memberikan jenis buah yang lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar anak mengenal betul rasa dari setiap buah yang diberikan sang ibu. Biasanya kita mendapatkan tips untuk mencampur bubur dengan buah atau beberapa buah, padahal hal ini justru akan membuat si anak tidak bisa mengenali rasa sesungguhnya dari buah atau sayur tersebut. Itulah yang membuat anak tidak menyukai buah dan sayur atau bahkan pilih-pilih makanan karena mereka tidak familiar dengan rasa itu sejak kecil. Selain itu, pemberian secara bergantian selama seminggu juga akan memudahkan orang tua untuk mendeteksi apakah anak alergi terhadap makanan tertentu.

Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa untuk anak-anak yang masih dalam masa pemberian makanan pendamping asi, sebaiknya tidak diperkenalkan dengan berbagai macam makanan yang bercampur-campur rasanya karena itu adalah masa emas bagi anak untuk mengenal setiap rasa sehingga ketika anak sudah disapih dan mulai dengan makanan biasa, ia tidak akan pilih-pilih makanan lagi karena mudah dalam mendeteksi rasa setiap makanan.

Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]
4:00 AM | 0 comments

Mengapa Anakku Tak Peduli Saat Kupanggil?

Written By mimin on Tuesday, September 3, 2013 | 2:30 AM

Anak lari - foto uungferi.com
Apakah Anda pernah mendapati anak seusia 10-16 tahun (menginjak kelas 4-6 Sekolah Dasar) memiliki ‘cuek’ yang tinggi terhadap hal-hal di sekitarnya, seperti tak menoleh atau menyahut saat dipanggil, dimintai tolong, atau bahkan tak peduli ketika ada hal-hal di sekitarnya yang tak beres? Apakah anak itu yang seratus persen bersalah atau justru kita atau bahkan mungkin para orang tua sendiri yang telah melakukan ‘proses budekisasi’ (dalam bahasa Jawa budek berarti tuli)?

Seringkali orang-orang di sekitar anak menyepelekan hal-hal yang sebenarnya mendasar bagi mereka. Kita sering lupa bahwa mereka adalah imitate (peniru) yang handal terhadap hal-hal di sekitarnya. Ketika kita dalam kedaan payah sepulang kerja atau saat penat dengan bejibun aktivitas dan masalah, celoteh-celoteh ringan anak menjadi hal yang sambil lalu kita tanggapi. Bagaimana tidak, saat anak iseng menanyakan ini itu kepada orang dewasa, dengan ‘enteng’ kita jawab “ah ndak tahu lah”, “kapan-kapan saja ya jawabnya”, “jangan tanya terus”, “sudah diam”, dan berbagai kata-kata senada untuk membungkam celoteh si anak agar tak menambah lelah dan penat. Apakah Anda pernah melakukannya? Sepertinya masing-masing dari kita perlu mengoreksi diri karena hal-hal tersebut secara tidak sadar dapat membuat anak tumbuh menjadi anak yang terjangkit ‘proses budekisasi’ yang kita lakukan secara tidak sadar pada anak.

Seperti yang diungkap Dra. Sumarti Thohir dalam sebuah acara parenting, bahwa anak akan merasa percuma saja bertanya atau berbicara dengan orang dewasa, mereka juga tidak akan menjawab atau bahkan mereka akan berfikir bahwa diri mereka hanya pengganggu bagi orang dewasa. Sejak itu pun, anak tidak akan peduli pula dengan panggilan-panggilan yang datang padanya. Persis seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Lalu, jika sudah begini apakah salah si anak atau kah justru kita yang telah mendzoliminya?

Bagi hati-hati yang lembut dan masih putih itu, perhatian kecil untuk mereka merupakan suatu momen tersendiri yang akan menjadi pijakan mereka hingga dewasa kelak. Jika kita melihat anak yang baik atau pun buruk, itu pula lah gambaran kita, kita lah yang membuat mereka serupa itu. Jangan salahkan si anak, salah kan diri kita yang kurang siap dengan ilmu-ilmu untuk menumbuhkan mereka. Karena laksana mendidik anak seperti menanam pohon, anak-anak tumbuh sesuai kebutuhan dan pengalaman mereka.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS. Ibrahim : 24)

Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]
2:30 AM | 0 comments

Tips Agar Mereka Mematuhi Perkataanmu

Written By mimin on Saturday, August 24, 2013 | 5:00 PM

Sebagai seorang pendidik, orang tua, bahkan public figure sangat penting sekali bagaimana mengolah kata untuk menyampaikan sesuatu hal agar didengar, diikuti, dan dilaksanakan. Bahkan untuk hal ini banyak orang yang sekolah khusus untuk melatih retorika dan public speaking mereka. Sama sekali tidak salah memang, bahkan itu lebih baik. Akan tetapi ada satu pelajaran berharga yang nampaknya belum pernah saya dapatkan pun saat kuliah public speaking semasa muda dulu.

Berawal dari keluh kesah teman-teman seperjuangan mengajar dan para orang tua dengan anak-anak yang tak juga mengikuti nasihat mereka. Padahal banyak dari mereka yang tak kurang-kurang pengalaman mengajarnya bertahun-tahun bahkan para orang tua yang gelar sarjananya bertumpuk-tumpuk pun mengeluhkan hal itu. Tak perlu banyak waktu untuk peka dengan situasi saat itu, seorang ustadzah senior menguraikan kata demi katanya yang hanya membuat kita semua manggut-manggut di ruang rapat saat itu: “Amalan-amalanmu yang tidak terlihat oleh manusia itulah yang membuat setiap perkataanmu didengar, diikuti, dan dipatuhi.”

Hening sejenak membuat kita saat itu menerawang, meraba-raba, mengingat kembali apakah shalat malam sudah ditunaikan dengan setulus rindu pada-Nya, apakah tilawah sudah dilantunkan sepenuh rasa, apakah infaq yang keluar sudah lebih didahulukan daripada pulsa, dan apakah semua amalan sudah setulus jiwa hanya untuk-Nya, bukan untuk perkataan orang bahwa kita shalih…

Allah-lah yang menguasai hati-hati manusia dan Allah lah pula yang akan membolak-balikkannya. Seberapa lihai pun kita berorasi, beretorika, berceramah, tak kan mampu menundukkan hati tanpa kehendak-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu".(HR.Muslim)

Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]
5:00 PM | 0 comments

Resep Mengejar Target Tilawah

Written By mimin on Saturday, July 20, 2013 | 2:00 AM

Seribu satu kiat memenej waktu agar tercapai target tilawah sering kita temui di buku-buku bahkan di situs-situs keislaman. Tapi nampaknya ada satu resep sederhana selain resep-resep andalan lainnya yang patut dicoba dan sudah teruji.

Berawal dari pertemuan dengan seorang ustadzah dalam suasana buka bersama sore itu, dengan mulut yang komat-kamit dan buku tipis kecil di tangannya. Berbeda dengan pegangan teman yang lainnya ; handphone atau pun mushaf Al Qur’an. Selidik punya selidik, setelah introgasi sana sini termasuk pada beliau secara langsung, itu merupakan salah satu kiat beliau untuk tetap konsisten pada target tilawah hariannya dan bukan hanya saat Ramadhan.

Ternyata, menurut beliau dengan menggunakan mushaf yang sudah terbagi-bagi menjadi per juz akan lebih memicu kita untuk menuntaskan target tilawah dalam sehari itu. Semisal, jika beliau mentargetkan khatam Al Qur’an tiga kali dalam sebulan, maka tiga buah buku mushaf per juz yang akan ia bawa ke mana-mana dan menjadi patokannya untuk sesegera mungkin menuntaskan segala amanah dan mencari-cari waktu senggang untuk menghabiskan ketiganya. Jika belum maka beliau tidak akan tidur terlebih dahulu.

Hal ini memang saya rasakan berbeda ketika sempat meminjam handphone teman yang terdapat mushaf digitalnya atau pun dengan menggunakan mushaf biasanya. Kita akan termindset bahwa banyak sekali lembar juz yang masih harus ditempuh yang secara psikologis sering kali pula membuat kita enggan melanjutkan melahap habis ayat demi ayat. Selain itu, sulit untuk mengukur capaian kita, naik turunnya semangat, dan tentu saja kurang praktis.

Nampaknya, hal sesepele ini perlu kita cermati dan praktikkan, termasuk saya yang selama ini menggunakan mushaf pada umumnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga ada trik tersendiri bagi setiap orang untuk menuntaskan target tilawahnya. Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

2:00 AM | 0 comments

Resep Sabar di Bulan Ramadhan

Written By mimin on Monday, July 15, 2013 | 6:30 AM

Kalau kita dengar kata ‘resep’ tentu yang ada di pikiran kita adalah makanan, apalagi di bulan Ramadhan. Tapi kali ini resep yang akan saya sajikan adalah resep sabar di bulan Ramadhan. Rugi kan rasanya kalau bulan yang memiliki banyak bonus ini kita lalui dengan kemarahan-kemarahan baik besar atau pun kecil yang seringkali juga kita lakukan di bulan-bulan lainnya. Nah, resep sabar kali ini adalah resep sabar ala chef ternama di ranah politik beberapa tahun silam. Beliau adalah almarhumah Yoyoh Yusroh yang beberapa tahun silam telah berpulang ke Rahmatullah.

Dalam salah satu buku yang disusun oleh Tim GIP, tertuang resep beliau untuk menanggulangi sabar dalam segala situasi. Resep itu muncul dari nasihat salah satu ustadz yaitu ustadz Abu Ridho, “Apabila mau marah kepada anak, lebih baik marah kepada Yahudi saja. Apabila dihadapkan dalam banyak masalah keluarga, dan lain-lain, ketahui dan sadari, bahwa ada masalah yang jauh lebih besar yaitu Yahudi”.

Ketika di satu titik beliau ingin sekali marah entah karena urusan keluarga, pekerjaan, atau yang lainnya, beliau selalu mengingat bahwa masih banyak hal yang layak kita beri kemarahan kita. Contohnya saja kaum muslimin di belahan Barat, banyak sekali yang sedang mengalami nasib yang sangat tragis. Agama kita diijnjak-injak di sana. Saudara-saudara kita sesama muslim pun banyak sekali yang didzolimi dengan sangat. Pengetahuan tentang berita-berita terbaru seputar Islam baik di dalam negeri maupun di luar negeri itu lah yang membuat beliau berpikir seribu kali jika ingin meluapkan kemarahan pada masalah-masalah yang sebenarnya bisa dibuat simple. Tidak usahlah kita buang-buang energi hanya untuk marah-marah apalagi marah yang tidak jelas yang hanya akan menambah beban dosa kita. Alangkah baiknya jika marah itu untuk orang-orang kafir yang mendzolimi saudara-saudara kita seiman di belahan bumi mana pun. Hal itu jauh lebih berpahala.

Satu hal lagi, resep yang tak kalah jitu adalah resep dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada banyak sekali hadits dan ayat Al Qur’an yang menganjurkan kita untuk tidak marah. Salah satunya ini mungkin bisa membuat kita untuk tidak marah karena ada bingkisan yang indah dari Allah bagi orang-orang yang menahan amarahnya.

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” Hasan, HR.Ahmad (III/440), Abu Dawud (no.4777), at-Tirmdzi (no.2021), dan Ibnu Majah (no.4286) dari Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir (no.6522)

Setidaknya, jika masalah-masalah saudara-saudara kita seiman yang terdzolimi di belahan bumi yang lain dan iming-iming yang diberikan Allah tidak sanggup meredam amarah kita, betapa meruginya kita. Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]
6:30 AM | 0 comments

Awal Ramadhan Kita Berbeda

Written By mimin on Monday, July 8, 2013 | 6:30 AM

Bersumber dari Pak Cahyadi Takariawan dalam sebuah forum, penentuan awal Ramadhan biasa dikenal menggunakan metode ru’yatul hilal dan metode hisab. Untuk mengetahui apakah tanggal 1 Ramadhan 1434 = 9 Juli 2013, kita harus melihat keadaan atau posisi bulan dan matahari menjelang Maghrib 8 Juli 2013.

Dari hasil tayangan Software Stellarium, hilal sudah wujud namun akan mustahil tampak di nusantara, sebab posisi hilal sangat dekat dengan matahari yang jauh lebih terang daripada bulan sabitnya.

Dari lampiran hisab Moonsighting, dapat diketahui bahwa pada 8 Juli 2013 daerah yang mungkin tampak hilal adalah Amerika Selatan. Sedangkan pada saat itu di nusantara sudah melampaui waktu Isya’. Artinya untuk Amerika Selatan tanggal 1 Ramadhan = 9 Juli namun mulai dari Fiji dan Australia, 1 Ramadhan = 10 Juli, berdasarkan metode ru’yatul hilal.

Kesimpulannya, pertama, bagi yang memilih 1 Ramadhan = 9 Juli, memulai puasa pada saat bulan belum tampak di Indonesia. Kriteria yang digunakan adalah “wujudul hilal”, yaitu hilal wujud namun tidak tampak. Ini yang digunakan dasarnya oleh Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal.

Kesimpulan kedua, bagi yang memilih 1 Ramadhan = 10 Juli, memulai puasa setelah bulan sabit pertama benar-benar bisa dilihat. Ini yang menjadi landasan NU dengan ru’yatul hilal.

Kesimpulan ketiga, perbedaan ini adalah persoalan ijtihadiyah. Hendaklah semua pihak bisa bertoleransi atas perbedaan yang ada dan tidak melunturkan semangat kita menyambut bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]
6:30 AM | 0 comments

Mengapa Harus Kaya?

Written By mimin on Saturday, June 29, 2013 | 4:00 PM

Kawan, coba kalian jawab apakah kalian setuju dengan 10 pernyataan berikut ini.

- Uang adalah akar dari segala kejahatan
- Uang bukan segalanya
- Uang tidak bisa membeli cinta
- Uang tidak menyelesaikan masalah
- Easy come easy go
- Orang harus pelit baru bisa jadi kaya
- Orang mati tidak membawa uang, maka tidak perlu cari banyak uang
- Orang kaya seringkali hidupnya tidak bahagia
- Orang yang uangnya banyak kurang spiritual
- Orang kaya dekat kesombongan

Setelah menjawab, apakah masih ingin menjadi kaya?

Pada suatu kesempatan, saya dipertemukan dengan Pak Rusli. Dari pertemuan dengan pengusaha sukses asal Gresik itu, saya semakin mantap untuk berusaha menjadi muslimah kaya.

Seperti yang dipaparkan beliau, ada beberapa hal mengapa sebaiknya orang Islam itu kaya. Pertama, harta merupakan tulang punggung kehidupan. Bagaimana tidak, terlepas dari faktor bahwa semua rezeki kita adalah anugerah Allah, sejak mulai bangun sampai tidur lagi kita selalu berhubungan dengan uang. Semisal, ketika bangun pagi kita harus bersih diri mulai dari mandi, pakai baju, sampai dandan. Tentu saja setiap hal itu memerlukan materi, memerlukan uang untuk memperolehnya terutama di daerah perkotaan yang air saja harus membayar. Belum lagi saat kita sarapan, berangkat kerja atau sekolah dan bejibun aktivitas lainnya tidak lepas dari kebutuhan duniawi kita yaitu uang. Nah, dari sini mungkin banyak yang mengiyakan tapi juga banyak yang masih kontra dengan hal ini.

Kedua, uang bukanlah indikator keshalihan/keburukan, tetapi sikap terhadap uang menunjukkan kualitas keshalihan seseorang. Ada sahabat Nabi yang kaya, ada pula yang tidak banyak uang. Tetapi, dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, mayoritas adalah orang-orang kaya. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa seringkali uang membuat seseorang menjadi kalap dan khilaf melakukan hal-hal yang dilarang oleh norma-norma agama untuk memenuhi kebutuhan di balik himpitan biaya yang memaksa mereka untuk melakukannya, hingga ada maqolah: "kaadal faqru an yakuuna kufran" (hampir-hampir saja, kefakiran menjerumuskan ke dalam kekafiran). Uang menjadi alasan sekian banyak orang untuk melakukan kejahatan (mencuri, dan sebagainya) dan menganiaya dirinya sendiri (menjual diri, dan sebagainya). Sebaliknya, betapa banyak pula orang seperti Qarun yang menjadi sombong, gemar bermaksiat dan jauh dari Allah setelah memiliki banyak uang. Berbeda dengan orang yang kokoh imannya, saat bertambah uangnya, bertambah pula syukurnya.

Ketiga, banyak perintah syariah yang pelaksanaannya memerlukan uang. Contoh yang paling mudah adalah tentang haji. Ibadah satu ini jelas, tidak mungkin tidak, pasti memerlukan uang dan tidak sedikit. Walau memang ada banyak kisah tentang seseorang yang naik haji mendadak karena memang sudah jalannya Allah mengatur mudah tanpa biaya. Belum lagi ibadah lainnya seperti zakat, infaq, shodaqoh yang salah satu bentuknya adalah uang. Selain itu, permisalan seperti “jika cukup hanya dengan shodaqoh senyum, apa iya jika masjid roboh kita hanya shodaqoh senyum terus selesai begitu saja?” Tentu kita butuh uang juga untuk hal itu.

Hal yang keempat, harta itu adalah hal-hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Tidak menafikan bahwa seseorang memang akan lebih dihormati ketika memiliki kedudukan terutama dalam strata sosial. Akan lebih mudah pula bagi seorang juru dakwah jika ia dihormati dan disegani, walaupun memang bukan hanya karena kedudukan yang dapat membuat seseorang dihormati dan disegani akan tetapi hal itu merupakan keniscayaan dalam masyarakat. Apalagi jika sudah membahas mengenai kekuasaan. Banyak orang yang sangat memandang buruk akan kekuasaan. Padahal di sisi lain jika kita tilik lagi, dengan kekuasaan logikanya seseorang itu akan dengan mudah melakukan berbagai kebijakan dalam pengambilan keputusan. Coba dibayangkan manakala penguasa itu seorang yang zholim, dengan mudah ia akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Begitu juga sebaliknya jika penguasa tersebut seorang yang adil, maka banyak kebijakan yang menguntungkan masyarakat.

Hal terakhir, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang bisa bahagia di dunia. Dalam hal ini perlu digarisbawahi kata ‘salah satu’, harta adalah salah satu sebab seseorang bahagia hidup di dunia. Hal ini juga tak dapat dipungkiri dan impian semua orang jika mendapatkan kebahagiaan di dunia juga di akhirat dan hal yang perlu diingat juga bahwa :

:لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d : 11)

Nah kawan, sekarang sepakat kan jika memang sebaiknya kita kaya, tentu tidak ada orang yang tidak mau. Untuk itu perlu ada usaha untuk menjadi kaya. Bukan hanya kerja keras tapi kerja cerdas. Bukan hanya mau tapi melakukan sesuatu. Untuk langkah-langkah selanjutnya menjadi kaya (masih dari nara sumber yang sama) akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam bisshowab. [Gresia Divi]
4:00 PM | 0 comments

6 Ayat Jihad Pembangkit Semangat

Written By mimin on Saturday, May 11, 2013 | 1:30 AM


Sebagaimana iman bisa naik dan turun, semangat jihad pun kadang menguat dan kadang melemah. Semakin kencangnya arus rekayasa musuh dakwah, bagi sebagian kader akan semakin menguatkan militansinya dalam berjuang; tetapi, ada pula yang kemudian ghirahnya mengendor dan memudar.

Di saat-saat seperti ini, taujih Rabbani sangat kita perlukan. Ayat-ayat jihad menjadi penawar, sekaligus penguat semangat. Seperti yang saya alami, diidznillah. Saat dipaparkan 6 ayat jihad dalam majelis ukhuwah bersama saudari-saudari tercinta, semangat ‘jihad’ kembali menyala.

Ayat pertama,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. At Taubah : 36)

Dalam ayat ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang musyrik, sebagaimana mereka telah memerangi orang-orang yang beriman. Ayat ini sebagai awal pemanasan semangat jihad kita sekaligus mengingatkan kita kembali bahwa berjihad –dalam arti luas- adalah tabiat jalan dakwah kita. Al Jihad sabiluna.

Ayat kedua,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah : 216)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa perang adalah hal yang dibenci oleh umat muslim, akan tetapi karena hal tersebut merupakan perintah wajib dari Allah untuk berperang maka wajib pula kita lakukan. Dijelaskan pula bahwa bisa jadi itu (perang) adalah hal yang sangat kita benci tapi itu adalah baik bagi kita dalam pandangan Allah.

Jika kita implikasikan pada realitas kehidupan kita saat ini, bisa jadi saat ini kita tidak berperang mengangkat senjata, akan tetapi perang pemikiran dan politik terus berlangsung setiap saat. Dan musuh-musuh Islam senantiasa mengarahkan amunisinya kepada kita. Tentu kita merasa lebih nyaman berdakwah sekedar amar ma’ruf, masyarakat mempersilakan dengan wajah manis, tanpa memusuhi. Tapi tidak begitu sejarah Nabi. Tersebab dakwahnya mengguncang sendi-sendi ekonomi, politik dan kekuasaan kaum jahiliyah, mereka pun memusuhi dakwah. Perang tak terhindarkan. Dan umat Islam harus siap jihad, meski ia tidak disukai. Tapi yakinlah, dalam ketidaksukaan itu ada banyak kebaikan. Jihad fi sabilillah hanya melahirkan dua hal; menang dengan membawa ghanimah dan kekuasaan atau mati syahid beroleh surga.

Ayat ketiga,

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. At Taubah : 41)

Dalam ayat ini dikuatkan kepada kita bahwa dalam keadaan apapun; berat-ringan, mudah-susah, ada dana-atau tidak, jihad harus tetap berlanjut dengan harta dan jiwa kita. Kata-kata ini bukan perintah dari orang tua kita atau perintah dari bos kita atau perintah dari manusia yang serba kekurangan tapi ini adalah perintah dari Zat Yang Menggenggam jiwa-jiwa kita, lalu apalagi yang kita tunggu...

Ayat keempat,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah : 111)

Ayat ini jelas dan sudah sering dibahas tentang betapa tak pantasnya kita sesungguhnya, Allah membeli jiwa dan harta kita dan dibayar dengan surga, padahal apa yang kita usahakan tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan surga. Jika ada obsesi ridha Allah dan surga, insya Allah yang kita rasa sulit akan lebih ringan bagi kita.

Wahai diriku, wahai ikhwah... camkan ayat ini jika militansi kita melemah. Jihad kita untuk kita. Kita akan dibayar dengan surga oleh Allah. Maka jika musuh dakwah yang mengharapkan keuntungan materi dan kekuasaan begitu bersemangat menyerang dakwah, tidakkah kita lebih bersemangat lagi dengan janji Allah berupa surga?

Ayat kelima,

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar," (QS. An Nisa' : 95)

دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
(yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa' : 96)

Dari ayat ini apakah kita tidak ingin menjadi mukmin yang mendapat pahala yang besar itu –beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat ? Akan tetapi pada kenyataannya memang denganberbagai alasan terkadang ada sebagian dari kita yang menjadi bagian dari mukmin yang duduk-duduk. Lalu bagaimana kita bisa mendapat pahala yang besar tersebut, yang sama dengan pahala orang yang berjihad? Pada artikel yang pernah saya tulis sebelumnya –Belajar Menghapus Gelisah dari Seorang Shohabiyah – ada hadits yang cocok menjawab pertanyaan tersebut :

”Barangsiapa yang memberangkatkan seorang prajurit di jalan Allah maka ia pun dianggap ikut bertempur di jalan Allah. Barangsiapa yang mengurus urusan orang yang berperang di jalan Allah dengan baik, maka ia pun dianggap ikut bertempur.” (HR. Bukhari Muslim)

Maka, dari sini kita maksimakan apa pun yang kita miliki dan segala kemampuan kita sebab kita berurusan dengan Allah. Kita berjuang karena Allah.

Ayat keenam,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?" (QS. Ash Saff : 10)

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Ash Saff : 11)

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ´Adn. Itulah keberuntungan yang besar” (QS. Ash Saff : 12)

Menegaskan kembali apa yang telah tertulis di atas, jihad fi sabilillah hanya melahirkan dua hal; menang dengan membawa ghanimah dan kekuasaan atau mati syahid beroleh surga. Dan betapa bahagianya jika ayat dalam surat Ash Shaf tersebut dianugerahkan kepada kita. Kita berjuang, kita berjihad, dan Allah memberikan pertolonganNya sehingga kita menang dalam waktu yang tidak lama lagi. Dan pahala jihad tetap terjaga rapi hingga kita mati nanti, lalu Allah membukanya untuk kita; mudah di alam barzah, cepat saat dihisab, mulia beroleh ridha dan jannahNya.

Maka mari kuatkan kembali semangat ‘jihad’ dengan kembali kepada ayat-ayatNya. Kita niatkan segala langkah perjuangan kita sebagai bagian dari amar ma'ruf nahi munkar dan menolong agama Allah. Insya Allah 'nasrumminallah' (pertolongan Allah) itu akan datang. [Gresia Divi]
1:30 AM | 0 comments

Untukmu yang Sedang Dalam Penantian

Written By mimin on Wednesday, May 1, 2013 | 7:30 AM

Kepada para wanita yang belum menikah, penantian adalah hal yang pasti dilalui, entah itu lama atau sebentar. Dalam masa penantian itu, ada banyak hal yang mencuat dalam benak dan perjalanannya. Kebosanan, putus asa, atau bahkan kesabaran dan tawakal yang mengiringi setiap detiknya. Jenuh, kadang itu yang terlontar, pun tak ingin pula jika moment penentu masa depan kita itu juga kita lalui dengan sembarangan orang walaupun terkadang banyak faktor yang membuat kita harus terburu-buru untuk segera menikah. Tuntutan umur, keluarga, atau bahkan “intimidasi” adat dan tradisi. Akhirnya, tidak sedikit muslimah yang terpaksa menikah dengan orang yang tidak diinginkan, entah karena akhlaknya atau alasan lainnya.

Tentang penantian, sepertinya ada sebuah lirik seorang penyair yang bisa kita toleh, bisa menjadi masukan... Ebiet G.A.D. Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan dalam masa penantian: menoreh manfaat atau merugikan diri.

Menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan, banyak waktu kita miliki untuk berfikir
Sendiri seringkali sangat kita perlukan, meneropong masa silam yang telah terlewat
Mungkin ada apa yang kita cari, masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
Mungkin ada apa yang kita kejar, justru tak terjamah saat kita melintas


Jika kita manfaatkan masa-masa penantian itu dengan positif, banyak hal yang bisa kita lakukan, entah untuk muhasabah atau pun meng-upgrade diri agar lebih berkualitas. Begitu pun sebaliknya, seperti pada syair selanjutnya.

Menunggu lebih terasa beban yang membosankan, banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
Sendiri seringkali sangat menyakitkan, meneropong masa depan dari sisi yang gelap
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita


Jika kita manfaat waktu penantian itu dengan hal yang negatif, bisa jadi kita justru terkalahkan oleh waktu itu sendiri.

Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
Bermain dalam dada, setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini


Di akhir lirik tersebut ada pesan terakhir yang diselipkan tentang semangat masa silam yang mengantarkan kita menjadi seperti sekarang, untuk tak membuang semangat itu sehingga kita tetap bertahan menjadi lebih baik hingga hari ini.

Bait syair Ebit mungkin memberi inspirasi bagi kita. Namun ada inspirasi yang jauh lebih hebat untuk menjadi pegangan kita dalam penantian. Inspirasi itu tidak lain adalah surat cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-hambaNya yang beriman :

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49)

Dalam ayat tersebut, Allah mengarahkan Rasulullah dan kaum mukminin untuk bersabar. “Yakni bersabarlah terhadap gangguan mereka (orang-orang jahiliyah, kafir quraisy)” terang Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an merinci lebih luas: “bersabar dalam menghadapi kesulitan, pendustaan dan cacian. Juga bersabar di jalan dakwah yang berat lagi panjang seraya menyerahkan persoalan kepada keputusan Allah”

Kata-kata Sayyid Quthb pada kalimat terakhir itulah yang perlu digarisbawahi dalam mengambil inspirasi penantian dari ayat ini: bersabarlah seraya menyerahkan persoalan kepada Allah. Sabar dan tawakal.

Langkah penantian seperti itulah yang dicontohkan Fatimah. Sebenarnya, Fatimah mencintai Ali. Tetapi ia diam. Ia tak pernah mengatakannya, juga tak pernah menjadikan alasan itu untuk menolak lelaki shalih yang lebih dulu datang melamarnya. Sebab ia tak tahu ketentuan Allah kelak seperti apa.

Jika kemudian Abu Bakar melamar Fatimah dan ditolak, Umar melamar juga ditolak, yang menolak adalah Rasulullah, bukan Fatimah. Sampai kemudian ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah menyetujuinya: ahlan wa sahlan.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” kata Fatimah kepada Ali setelah keduanya menjadi suami istri.
“Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Ali balik bertanya. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari istri tercinta.
“Ya, karena pemuda itu adalah dirimu” jawab Fatimah sambil tersenyum.

Bisakah kita seperti Fatimah? Merangkai 3 hal dalam masa penantian, seperti petunjuk Allah dalam ayat di atas: bersabar, bertasbih, dan shalat malam. [Gresia Divi]
7:30 AM | 0 comments

Catatan Terakhir Buku Harian Uje

Written By mimin on Saturday, April 27, 2013 | 6:00 AM


Sebelum wafat, Jum’at (26/4) dini hari, Ustadz Jefri Al Buchori meninggalkan catatan terakhir di buku hariannya. Dalam catatan penuh hikmah itu tersirat keinginan Uje untuk segera bertemu Rasulullah. Istri Uje, Pipik Dian Irawati, menuturkan isi catatan terakhir di buku harian itu.

“Beliau menuliskan dalam buku hariannya bahwa siapa sebenarnya Rasulullah itu... ‘ya Allah sampai membuat aku begitu rindu padanya. Berikan hamba kesempatan sebentar saja untuk bertemu dengannya walau hanya dalam mimpi,” tutur Pipik dalam tayangan live di Kabar Petang TV One Sabtu (27/4) malam.

Selain itu, Pipik juga menceritakan kisah Uje ketika mengunjungi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Uje serasa tertarik seperti magnet di pemakaman Rasulullah dan menangis tiada hentinya. Kecintaannya pada Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam begitu memuncak pada detik-detik sebelum kepergiannya dari dunia ini.

Cukup banyak kisah-kisah ustadz Jefri yang kita dengar baik dari penuturan istri beliau atau pun para sahabatnya yang memotivasi kita, terutama saya pribadi untuk bisa seperti beliau, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, husnul khotimah. Kebermanfaatan seseorang tentulah akan lebih terlihat ketika seseorang telah tiada. Seberapa kehilangankah orang-orang di sekitar kita dan apa saja yang sudah kita torehkan di hati-hati orang yang kita kenal atau yang mengenal kita.

Kiranya, wafatnya beliau cukup membangkitkan semangat kita untuk berbuat lebih baik, untuk menjadi orang yang lebih baik, penoreh kebaikan, minimal bagi orang-orang di sekitar kita dan karena Allah tentunya. Wallahua'lam bisshowab. [Gresia Divi]
6:00 AM | 0 comments

Kristenisasi Merambah Anak TK

Written By mimin on Thursday, April 25, 2013 | 6:00 AM


Hampir setiap hari selalu ada berita tentang mualaf. Sebaliknya, kita juga sering mendengar berita tentang kristenisasi yang semakin marak dengan berbagai macam model. Bahkan, kristenisasi sekarang sudah mengincar anak-anak TK. Seperti yang kudapati pada seorang anak didikku...

Hari itu, di tengah keasyikannya bermain dengan teman-temannya, aku terkaget-kaget melihat stiker yang tiba-tiba dikeluarkan dan dengan bangga ditunjukkan padaku dan teman-temannya. Betapa kagetnya diriku, seluruh sticker yang ia bawa adalah gambar-gambar Kristiani seperti salib, gereja, bunda Maria, dan sejenisnya. Tempat didik kami yang notabene adalah berbasis keislaman jelas sangat bertentangan dengan hal itu.

Sekonyong-konyong aku langsung memutar otak di saat yang mendesak itu untuk mencari cara menjelaskan pada anak-anak dengan cara yang sebijak mungkin karena teman-temannya yang lain sudah antusias dengan stiker tersebut. Alhamdulillah, dengan penjelasan dan diskusi ringan dengan mereka, akhirnya mereka bisa mengerti dan stiker itu pun mereka serahkan padaku. Sebagai gantinya, aku kemudian membelikan mereka stiker yang bernuansa Islam. Pyuhfffff... anak-anakku...

Selidik punya selidik, ternyata stiker tersebut ia dapat dari neneknya. Agar lebih jelas, aku segera mengklarifikasi orang tuanya. Dari mereka, aku mendapatkan penjelasan bahwa saat ia jalan-jalan bersama neneknya suatu waktu, anak didikku itu meminta dibelikan stiker tersebut. Si nenek tanpa pikir panjang membelikannya tanpa melihat apakah itu sesuai atau tidak untuk cucunya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian tersebut baik oleh pihak orang tua maupun aku sendiri sebagai seorang pendidik. Bagi orang tua, tidak terkecuali nenek kakek atau saudara, hendaklah benar-benar selektif dalam memberikan mainan ataupun permainan (game) pada anak karena anak-anak adalah 'imitate' yang handal dan sangat mudah untuk didoktrin. Jadi apa mereka kelak, itu pun sangat tergantung pada pembentukan kita terhadap mereka sejak dini, di masa usia dini yang merupakan 'golden age' mereka.

Untuk para pendidik, pemberian informasi yang ringan dan logis bagi anak tentang adanya bermacam-macam agama, ciri-ciri, kebiasaan, dan alasan mengapa ada banyak agama juga sangat penting bagi mereka. Jika kita hanya menanamkan pada mereka untuk cinta Islam tapi tidak memberikan gambaran yang lain bahwa ada agama lain selain Islam hanya akan membuat mereka tidak tahu dan iya-iya saja saat menerima hal baru apalagi menarik bagi mereka. Bahkan, yang dikhawatirkan jika kita memaksa anak untuk cinta Islam dengan mencekoki mereka dengan apa itu syahadat, rukun Islam, rukun iman, shalat, dan lain-lain tanpa mereka tahu mengapa harus melakukannya, bahkan yang lebih parah jika mereka tidak mengerti apa sih Islam itu.

Tanpa kita sadar seringkali kita (para guru dan orang tua) mengajari mereka tentang Islam dan seabrek yang lainnya dan kita sudah puas jika mereka mau melakukannya. Tapi bisa jadi mereka mau melakukannya karena 'imitate' yang tinggi pada mereka atau “takut”. Mereka belum tentu tahu alasan mengapa harus melakukan semua itu.

Tapi, apapun itu bentuknya yang paling penting adalah jangan panik, karena kepanikan kita terkadang justru membuat kita terlalu keras pada mereka hingga memberikan putusan yang mereka tidak mengerti, 'nurut' begitu saja. Semua perubahan dan perkembangan yang terjadi pada anak itu wajar dan itulah proses. Tergantung bagaimana kita –guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar mereka– menyikapi setiap perkembangan mereka. [Gresia Divi]
6:00 AM | 0 comments

Mengkambing Hitamkan Waktu untuk Menghafal Al Qur'an

Written By mimin on Friday, April 19, 2013 | 7:00 PM


Membicarakan tentang Al Quran memang tiada habisnya, apalagi jika kita mengulas tentang trik-trik jitu menghafal Al Quran. Tapi, ada hal menarik yang saya tangkap saat beberapa minggu lalu ketika bertemu dengan pendiri Pesantren Utrujah, Dr. Sarmini. Dalam acara sharing di Sekolah Islam Terpadu tempat saya membaktikan diri sebagai pendidik, seorang teman menanyakan tentang seringnya kita mengkambing hitamkan waktu untuk menghafal Al Quran. Hmmm... betul sekali. Waktu selalu jadi seribu satu alasan kita tidak rampung-rampung 30 juz atau bahkan juz 30. Astaghfirullah.

Ujung-ujungnya orang akan bertanya pada para hafidz, “Bagaimana sih cara mengatur waktu biar bisa baca Quran?” dan jawaban umumnya akan banyak kita dengar, tentang manajemen waktu lah, niat lah, dan lain-lain. Absolutely, tidak salah semua jawaban itu. Akan tetapi ada ilmu baru yang saya dapatkan dari Dr. Sarmini yang membuat saya hanya 'melongo' dan tertakjub-takjub sambil sedikit cekikikan dengan pemaparan beliau.

Jawabannya singkat, jelas, padat dan sarat makna. “Semua orang diberi waktu yang sama dalam sehari tergantung mana yang kita prioritaskan. Jika memasak adalah prioritas kita, maka waktu kita akan habis hanya dengan membaca resep, mencari resep-resep baru dengan berbagai cara, dan seterusnya. Begitu pula sebaliknya, jika menghafal Al Quran kita jadikan sebagai prioritas utama waktu kita, bahkan mungkin sekalipun ada parabola di rumah, satu bulan juga tidak akan terpakai,” tutur Dr. Sarmini waktu itu. Seperti yang terjadi pada keluarga beliau, hampir seluruh waktu keluarga beliau ditumpahkan dan difokuskan pada menghafal. Lalu pertanyaan yang muncul, bagaimana dengan urusan mencari nafkah, makan, dan lain-lain yang memang menjadi kebutuhan fitrah kita sebagai manusia. Sekali lagi, itu semua kembali pada apa yang kita prioritaskan.

Jika menghafal adalah prioritas utama kita, maka banyak hal yang memang bisa kita delegasikan kita delegasikan pada yang lain. Misalkan, makan tidak harus memasak sendiri dengan wajib nikmat dan penataan yang sedemikian rupa tapi cukuplah makan sekedar memenuhi hak badan kita. Jika anak juga kita biasakan dengan hal ini, tidak membiasakan anak dengan jajanan-jajanan yang berlebihan dalam sehari atau kegiatan sepele yang tidak terlalu berarti, insya Allah anak akan bisa dan terbiasa dengan hal itu pula. Karena mimpi besar kita bukan hanya orang tua yang menjadi hafidz tapi juga keluarga-keluarga penghafal Al Quran.

Begitu pula dengan yang lain, jika memang dengan aktivitas kita yang bejibun ada yang bisa kita delegasikan, delegasikanlah dan lebih baik tidak membuatnya jadi prioritasmu hingga menggeser jatah waktumu untuk menghafal Al Quran. Bukan berarti juga kita tidak makan makanan yang enak dan melakukan hal-hal santai lainnya. Hanya saja catatannya di sini ialah, pikirkanlah kembali setiap kali kita melakukan aktivitas keseharian kita, prioritas keberapakah kegiatan itu dan jagalah jangan sampai menggeser perhatian dan menyita waktu kita untuk menghafal Al Quran. Wallahua'lam bis shawab. [Gresia Divi]
7:00 PM | 0 comments

Terapi Galau dari Al Qur'an

Written By mimin on Wednesday, April 17, 2013 | 10:00 PM


Masa muda adalah masa-masa mengukir prestasi. Namun, masa muda juga identik dengan kelabilan emosi sehingga kita sering menjumpai remaja dan pemuda yang dilanda galau. Bahkan mereka mendemonstrasikan kegalauannya melalui media sosial, terlihat dari status-status mereka di facebook, misalnya.

Tapi sepertinya bukan hanya kaum remaja yang kelabilan emosinya menonjol, orang dewasa yang harusnya menjadi panutan pun sering kali mengalami desperate yang bukan hanya merugikan dirinya tapi juga orang lain. Tuntutan hidup seringkali membuat orang semakin bejibun dengan problematika yang penuh konflik dan tantangan.

Ketika aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku juga mengalami masa yang sangat desperate. Saat itu lingkungan super duper tidak mendukung perjalananku beranjak gede hingga hal yang sering kita dengar bagi remaja yang frustasi –'suicide'– menghinggapi.

Untunglah aku kemudian mendapatkan obat untuk galau yang menimpaku. Di saat itu Allah menunjukkan hal lain yang kini aku teringat dan ingin kubagi pada siapapun, khususnya mereka yang mengalami "galau" sedang ada pada ranking teratas perasaan hati.

Jawaban galau itu tidak lain adalah Al-Qur'an. Waktu itu kutemukan artikel pada sebuah web, yang saat ini sudah tidak ada lagi. Syukurlah aku telah menulisnya dan simaklah kawan...

Kenapa Aku Diuji ?
QS. Al Ankabut : 2-3

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-idamkan?
QS. Al Baqarah : 216)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Kenapa Ujian Seberat Ini ?
QS. Al Baqarah : 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Bagaimana Menyikapi Rasa Frustasi ?
QS. Ali Imran : 139

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِي

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Sungguh, Aku Tak Dapat Bertahan Lagi …. !!!
QS. Yusuf : 87

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Bagaimana Aku Harus Menghadapi Persoalan Hidup ?
QS. Ali Imran : 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Apa Solusinya ?
QS. Al Baqarah : 45-46

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´,”

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Siapa Yang Menolong Dan Melindungiku?
QS. Ali Imran : 173

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".

Kepada Siapa Aku Berharap?
QS. At Taubah : 129

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ´Arsy yang agung".

Apa Balasan Atau Hikmah Dari Semua Ini?
QS. At Taubah : 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Kawan... kapanpun galau mendatangimu, kembalilah kepada Al-Qur'an. Dan temukan jawaban serta solusinya di sana. [Gresia Divi]
10:00 PM | 0 comments

Belajar Menghapus Gelisah dari Seorang Shahabiyah

Written By mimin on Friday, April 12, 2013 | 11:00 PM

“Sungguh surga yang memang mahal itu bisa membalikkan 100% kegalauan, tinggal pilihan kita saja; mau atau tidak.” Akhir ulasan singkat tentang seorang shahabiyah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dipaparkan murobbiyah tercinta sore itu cukup membuat saya terhenyak. Sekelas Mario Teguh, motivasi yang bersumber dari kisah sahabat pun bisa menjadi pemantik jitu yang tak usah membayar berjuta-juta asal kita tahu darimana sumbernya.

Sebuah kunci solusi galau, gundah, merana yang bukan hanya isapan jempol atau gombal dari kisah shahabiyah Ummu Haritsah bin Suraqah. Kisah yang mungkin banyak orang sudah sering membaca di kitab-kitab sirah dan sejenisnya tapi kali ini melalui murabbiyah tercinta, ada hikmah lain yang mungkin terlewat untuk direnungi.

Kisah seorang wanita tua renta yang sangat ingin anaknya mati syahid. Anak yang sangat ia cintai itu bukan ia manja, namun ia harapkan gugur sebagai syahid. Dengan cara inilah ia mencintai sang anak. Subhanallah. Eits...tapi bukan itu yang hendak saya unggulkan.

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rabi‘ binti Barra’ –yaitu ibu dari Haritsah bin Suraqah—datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau beritahu aku tentang keadaan Haritsah (yang terbunuh dalam perang Badar)? Jika ia di surga maka aku bersabar, tetapi jika tidak maka aku akan menangis menyedihkan kepergiannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Ummu Haritsah, sungguh ada beberapa surga di dalam surga, dan sesungguhnya puteramu mendapatkan surga Firdaus yang tertinggi.” (HR. Bukhori)

Bagi seorang ibu, kesedihan akan bencana anaknya atau bahkan kematian akan anaknya sama saja dengan bencana bagi seluruh hidupnya. Paling tidak begitulah gambaran hati seorang ibu akan kasih sayangnya pada anaknya yang bahkan rela menukar nyawanya demi keselamatan dan kebahagiaan anaknya. Begitu pun dengan Ummu Haritsah bin Suraqah. Namun, semua kegundahan akan kematian anaknya dalam perang bisa ia balik 100% menjadi sebuah kebahagiaan penuh harap akan surga tertinggi yang Allah janjikan bagi seorang yang syahid.

Dalam sebuah riwayat :
“Barangsiapa yang memberangkatkan seorang prajurit di jalan Allah maka ia pun dianggap ikut bertempur di jalan Allah. Barangsiapa yang mengurus urusan orang yang berperang di jalan Allah dengan baik, maka ia pun dianggap ikut bertempur.” (HR. Bukhari Muslim)

Secercah hikmah tersemburat dari kisah tersebut yang tak kalah ampuh dibandingkan kata-kata motivator yang bernilai jutaan. Tentang bagaimana kekuatan surga itu bisa membalikkan 100% galau, gundah, merana yang tercecer mengotori hati. Harap-harapnya pada janji-janji Allah yang tak mungkin teringkari membuat wanita tua itu tak bersedih lagi setelah mengetahui bahwa anaknya berada pada surga tertinggi.

Lalu, bagaimana dengan kita? Cukupkah surga membuat setiap perih yang kita rasa dalam perjalanan hidup ini kita ubah menjadi keikhlasan dan harapan tertinggi pada surga-Nya kelak? Sejauh itukah iman kita menguatkan harapan kita tentang surga? Atau separuh iman saja yang ragu akankah surga itu sungguh balasannya? Tanyakan pada hati. [Gresia Divi]
11:00 PM | 0 comments

3 Amal Pendongkrak Melewati Keterbatasan

Written By mimin on Saturday, April 6, 2013 | 3:00 AM

“Di antara banyak orang, hanya sedikit yang beriman. Di antara yang beriman itu hanya sedikit yang beramal. Di antara yang beramal itu hanya sedikit yang berdakwah, dan di antara yang berdakwah itu hanya sedikit yang mampu mencapai tujuan yaitu ridho Allah.”

Bak hujan di siang bolong, kata-kata Syaikh Hasan Al Banna yang dikutip ustadzah tercintaku saat rapat rutin di tempat kerjaku saat itu membuat hati serasa 'melek' kembali. Tersadar dari buaian rutinitas yang seringkali melenakan hati dan tanpa sadar sedikit demi sedikit menggerus keikhlasan dalam setiap langkah dakwah.

Kehidupan manusia diibaratkan seperti orang yang sedang mendaki puncak gunung. Semakin tinggi kita melangkah, maka akan semakin berat pula anginnya dan semakin sedikit pula oksigen yang tersedia. Begitu pula dengan perjalanan hidup kita, banyak godaan yang datang bagi sang pendaki dan hanya sedikit yang mencapai puncaknya.

Lalu bagaimana caranya untuk meraih puncak itu dengan segala keterbatasan yang kita miliki? Hal itu tidak lain adalah bagaimana hubungan kita dengan Allah, sudah maksimalkah kita atau hanya terpaksa saja. Jika kita merenung, sudah berapa banyak karunia yang Allah berikan kepada kita, akan tetapi sudah seimbangkah amalan kita yang kita persembahkan untuk Allah. Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Untuk mengukur hal tersebut kita dapat melihat minimal 3 amalan yang kita miliki yaitu hubungan kita dengan Al Qur'an, perhatian kita dengan shalat kita, dan dzikir kita kepada Allah. Sejauh mana 3 amalan kita tersebut, sejauh itu pula hubungan kita dengan Allah. Jika perhatian kita terhadap Al Qur'an hanya sesempatnya saja –jika ada waktu longgar ya tilawah, jika tidak ya tidak tilawah– sebatas itu pula kesungguhan kita. Begitu pula dengan shalat kita apakah hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja ataukah karena kecintaan dan kepatuhan kita pada Allah yang membuat kita melakukan shalat. Apakah shalat-shalat fardhu saja ataukah juga shalat-shalat sunnah yang juga begitu dicintai oleh Allah, sejauh itulah kesungguhan kita. Setiap langkah, peristiwa, dan gerak-gerik kita sudahkah didasari dengan kalimat thayibah sebagai bukti kesungguhan kita mengingat Rabb kita ataukah hanya dzikir-dzikir paketan setelah shalat fardhu saja yang telah kita lakukan, sejauh itulah kesungguhan kita.

Sebagaimana ayat Al Qur'an surat Hud ayat 112 :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Jika setiap amalan yang kita niatkan untuk mencapai ridha Allah itu benar-benar kita azzamkan untuk sesuai target dan berusaha berkomitmen memenuhi target itu, insya Allah sepenuh itulah kesungguhan kita terhadap Allah. Dan hendaklah kita beramai-ramai dengan kesungguhan yang mantap untuk istiqomah kita termasuk menjadi bagian dari yang sedikit itu. Amin. [Gresia Divi]
3:00 AM | 0 comments
Khutbah Jumat
Hadits Shahih Bukhari