Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Wacana Capres dan Kualitas Aqidah Kita

Written By mimin on Monday, March 17, 2014 | 7:36 AM

ilustrasi kursi kekuasaan
Salah satu poin penting dalam aqidah itu, kita diminta menaruh keyakinan, hanya kepada Allah. Bukan pada selainNya. Salah satu poin sentral di dalamnya, bahwa tidak ada yang mengetahui esok hari, kecuali Allah saja.

Jangankan soal siapa presiden negeri ini yang akan dipilih beberapa bulan mendatang, tentang apa yang akan terjadi sedetik kemudian pun, kita tidak diberi bocoran.

Sayangnya, kita ini terlalu banyak disusupi pemikiran mistis, doktrin media, lembaga survei, dan sebagainya. Sehingga, sedikit banyak, kualitas aqidah kita ini, semakin hari bertambah rendah. Parahnya, dalam soal politik ini, sebagian kita lebih percaya kepada lembaga survei dan pemberitaan media, ketimbang menggantungkan kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa.

Masalah capres ini, tak ubahnya dengan rencana pernikahan kita, misalnya. Atau apapun rencana yang akan kita lakukan di hari yang akan datang. Dalam hal ini, ada tiga poin penting yang mesti kita seksamai.

Pertama, Presiden. Apakah yang dinyatakan menang dalam lembaga survei sebagai pemenang pilpres atau pileg pasti akan menjadi pemenang sungguhan? Bukankah dalam banyak cerita, kita sudah diberitahu bahwa survei itu bisa dipesan? Banyak cerita tetang ini. Poin berikutnya, antara hasil pemilu dengan hasil survei adalah dua hal yang berbeda. Seperti keinginan seorang pemuda yang berambisi menikahi artis cantik, kaya raya, seksi, namun akhirnya tak kunjung menikah lantaran keterusan bermimpi.

Kedua, apakah ada yang menjamin, bahwa yang dicalonkan itu akan hidup sampai pemilihan berlangsung hingga kemudian menang dan dilantik? Bukankah, kepastian kematian yang datang kapan saja, melebihi kepastian lembaga survei itu? Memangnya kita tahu, bahwa mereka yang dicalonkan itu akan hidup hingga masa pencoblosan dan kemudian menjabat setelah memenangi?

Ketiga, ini tentang suatu hal yang sulit dipercayai bagi mereka yang tak mengerti atau tak mau mengerti. Yakni, tentang ‘dalang’ di balik sebuah peristiwa. Nah, dalam kasus pencapresan atau pileg, di belakang mereka ada ‘dalang’ yang bebas memainkan skenario. Ini penting. Karena, ‘dalang-dalang’ itulah yang memiliki 'kuasa'. Sehingga, mau ngapain aja terserah mereka.

Bagi 'dalang-dalang' ini, orang yang awalnya dimajukan, bisa serta merta dimundurkan dengan cara yang keji. Atau, tetap dijadikan 'wayang' yang bisa disuruh ngapain aja, sesuai kebijakan 'dalang.'

Lantas, apa kaitannya dengan pernikahan? Persis; anda merencanakan menikah, tidak ada yang bisa menjamin bahwa anda akan benar-benar menikah sampai harinya tiba. Karena anda atau calon pasangan anda itu, bisa mati sebelum menikah, karena memang takdirnya begitu, atau misalnya, calon anda memilih berkhianat karena ada yang lebih bening, atau misalnya ada bencana yang tidak memungkinkan pelaksanaan pernikahan. Bisa pula, jadi menikah. Karena tak jodoh, satu diantara anda mati tepat sedetik setelah ijab qobul diucapkan!

Ingat, Allah bisa melakukan apa saja, sesuai kehendakNya. Dan Allahlah, sebaik-baik pembuat makar. [Pirman]
7:36 AM | 0 comments

Foto Ini Penampakan Wajah Seram di Atas Letusan Gunung Kelud atau Lafadz Allah? Awas Syirik!

Written By mimin on Friday, February 14, 2014 | 4:14 AM

Foto letusan Gunung Kelud (Detik.com)
Mungkin hanya di Indonesia, umat Islam mudah mengaitkan peristiwa dengan hal-hal mistis. Di hampir setiap kejadian besar, baik kematian tokoh maupun bencana, beredar keyakinan adanya penampakan “sesuatu”. Tidak terkecuali saat meletusnya Gunung Kelud.

Sejumlah pengguna internet, Jum’at (14/2), mengklaim foto ini adalah penampakan wajah angker di langit saat Gunung Kelud meletus. Foto yang sebenarnya hasil jepretan Alif, wartawan Detik, ini pun menjadi cukup populer di Kaskus, bahkan diposting beberapa kali oleh TS. Di Facebook, foto ini juga beredar dengan keterangan “penampakan.”

Jika dipersepsikan membentuk wajah angker, dengan cara memutar gambar 30 derajat berlawanan arah jarum jam, memang akan didapatkan gambar yang agak mirip dengan wajah. Tentu saja, sangat tidak jelas dan harus dimirip-miripkan. Padahal, dalam satu gambar perpaduan warna hasil kombinasi kilatan petir, lava pijar dan kepulan abu vulkanik seperti ini, bisa saja dimirip-mirikan dengan bentuk yang lain. Misalnya, lafadz Allah. Yakni dengan memutar foto tersebut 60 derajat searah jarum jam. Tentu saja, sama dengan cara sebelumnya, tidak jelas dan harus dimirip-miripkan.
Bisa dimirip-miripkan dengan wajah angker. Bisa dimirip-miripkan dengan lafadz Allah. Awas, jangan syirik.

Yang juga perlu diketahui, satu detik peristiwa seperti letusan Gunung Kelud tersebut bisa menghasilkan ratusan foto yang berbeda. Sehingga, sangat mungkin dari ribuan foto yang berhasil dipotret akan didapati foto yang mirip dengan bentuk sesuatu.

Lebih dari itu, yang terpenting adalah mewaspadai adanya campur tangan syetan dalam memandang foto-foto tersebut. Jika “penampakan” dalam foto hanya dipandang sebagai sebuah “hiburan”, mungkin tidak masalah. Namun jika telah disertai dengan keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Islam atau mengaitkan peristiwa tersebut dengan hal-hal mistis, inilah yang perlu diwaspadai. Jangan sampai kita justru terjebak pada kesyirikan.

Keyakinan yang seharusnya tertanam adalah sebagaimana firman Allah:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid : 22)

[IK/bersamadakwah]

4:14 AM | 0 comments

Duka Negeri Ini, PKS Mengobati

Written By mimin on Sunday, January 26, 2014 | 10:07 PM

Relawan PKS bantu korban banjir Jakarta (Tribunnews)
Negeri ini kembali berduka. Rentetan bencana seakan menyambangi, silih berganti. Belum selesai satu bencana, timbul lagi bencana lain. Lagi, lagi dan lagi. Kejadian ini, mirip dengan peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Meskipun, jika mau jujur, semua yang terjadi merupakan akibat tangan kita sendiri. Karena Allah sudah mengingatkan, bahwa telah, dan akan terus nampak kerusakan di darat dan lautan bersebab ulah tangan manusia.

Sayangnya, dalam hal ini, sebagian kita menjadi seperti orang yang buta dan tuli. Tidak mau belajar dari kejadian masa lalu, sehingga terjerambab berulang kali dalam kesalahan yang sama. Tentu, ini hal yang sangat menyedihkan.

Belum usai duka Sinabung, bersambung ke derita banjir bandang Manado. Tak berselang lama, banjir menyapu sebagian wilayah negeri ini, tak terkecuali, jantung negeri ini, Jakarta, ikut terendam. Mulai kedalaman 10 hingga 300-an senti meter. Belum lagi, yang terjadi di Jawa Barat, Jawa tengah dan daerah lain.

Ekses dari banjir ini, selain kerugian triliunan rupiah, juga rusaknya banyak fasilitas. Baik milik pribadi, maupun milik umum. Sebagaimana terjadi di Subang, dimana jalan Pantura terputus sehingga menyebabkan macetnya kendaraan di sepanjang jalur itu. Tak tanggung-tanggung, kemacetan hingga 5 hari bahkan lebih. Di Ibu Kota, amblesnya jalan TB. Simatupang yang menghubungkan Jakarta dengan Tangerang menyebabkan kemacetan parah sehingga sepeda motor pun dianjurkan untuk masuk ke jalan tol.

Jika mau mendata secara detail, maka akan memerlukan berlembar-lembar kertas, bahkan berjilid-jilid buku. Dan tak mungkin selesai dalam bilangan hari.

Namun, di antara kumpulan bencana derita itu, kita masih harus tetap bersyukur. Karena bencana, adalah jalan lain untuk menunjukkan kepedulian. Banyak yang bertikai ketika aman, namun ketika bencana terjadi, karena kesamaan nasib, dan kesadaran hati, akhirnya berdamai dan saling gotong royong. Bersebab bencana, banyak pihak yang kemudian terketuk untuk mengulurkan tangan.

Entah itu atas nama pribadi, LSM, parpol, TNI, Polri, pemerintah-pemerintah daerah setempat juga pemerintah pusat.

Sebut saja misalnya, yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Partai nomor urut 3 dalam Pemilu 2014 ini, menjadi yang terdepan dalam aksi tanggap bancana. Kader-kadernya yang tersebar di segenap penjuru negeri, selalu terdepan dalam membantu korban bencana. Uniknya, merek tak hanya turun tangan ketika mendekati pemilu. Mereka seperti memiliki semangat panjang untuk terus peduli.

Sebut saja misalnya, ketika tahun 2014 ini banjir kembali menyapa warga Ibu Kota, puluhan Posko Tanggap Banjir didirikan. Bukan sekedar bendera atau baliho yang nangkring, tapi ribuan relawan diturunkan untuk menolong warga Jokowi ini. Aneh sebenarnya, karena para relawan itu, sejatinya adalah korban banjir juga. Rumah mereka juga tergenang banjir, pun dengan keluarga dan kerabat mereka. Inilah yang kemudian membuat masyarakat semakin simpati pada partai ini. Sebut saja misalnya, komentar salah seorang warga di Bidara Cina Jatinegara, "PKS adalah rumah kami. Ada musibah maupun tidak ada musibah, PKS selalu membantu dan melayani warga. Terima kasih, PKS.”

Tidak hanya di Jakarta, ketika lima kecamatan di Kudus terendam air bah pun, ketika relawan lain belum ada yang mengulurkan tangan bantuannya, relawan PKS sudah bersegera menaiki perahu kecil berdayung untuk memberikan bantuan kepada korban.

Bantuan-bantuan ini, tak hanya berbentuk makanan. Namun juga selimut, pengobatan gratis dan juga hiburan-hiburan untuk korban bencana. Para relawan-relawannya pun tidak hanya dari kader laki-laki yang kuat dan berotot, tapi juga kaum ibu-ibu dengan membawa serta anak-anaknya. Sebut saja satu contoh, di wilayah Jakarta Barat, ada lima orang wanita paruh baya yang tengah menenteng nasi bungkus untuk dibagikan kepada korban banjir di wilayah Wijaya Kusuma RW o5 Jakarta Barat ini.

Akhirnya, kita tak pernah mengharapkan bencana. Kita juga tidak menghendaki oknum yang memenfaatkan bencana untk kepentingan pribadi maupun golongannya. Maka, kehadiran PKS dengan cintanya, untuk terus bekerja mewujudkan harmoni, adalah sepenggal harap. Harap yang akan terus kita tiup, hingga tercapai Indonesia yang aman, damai dan berlimpah ampun dari Sang Maha Pengampun.

Negeri ini, memang tengah berduka. Namun, PKS telah berupaya sebisa mereka untuk mengobatinya. PKS, kami mencintaimu, sebagaimana kalian mencintai negeri ini. [Faris Usmani]
10:07 PM | 0 comments

Pemerintah Turki Erdogani Sedang Diuji

Written By mimin on Sunday, January 12, 2014 | 6:10 PM

Aksi Sejuta pendukung Erdogan
Turki Erdogani yang dimaksud adalah Turki pada masa kekuasaan Adelet ve Kalkinma Partisi (AKP) alias Partai Keadilan dan Pembangunan yang dipimpin oleh Recep Tayib Erdogan. Partai berhaluan Islam ini menang pemilu pada 2002. Kemenangan yang kemudian mengantarkan Erdogan menjadi perdana menteri dan Abdullah Gul jadi presiden. Selama 12 tahun kekuasaan duet Erdogan-Gul, Turki mengalami kemajuan sangat pesat dan menjadi kiblat negara dimokratis yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Kemajuan itu antara lain bisa dilihat pada data berikut. Pendapatan per kapita rakyat Turki yang 12 tahun lalu hanya 3.000 dolar AS, sekarang – dalam masa 12 tahun pemerintahan Erdogan – sudah mencapai lebih dari 14.000 dolar. Sebagai perbandingan, pada 2004 pendapatan per kapita Indonesia 1.100 dolar, lalu pada 2012 naik menjadi 3.592 dolar. Pada akhir 2014 diharapkan meningkat mendekati angka 5.000 dolar.

Pertumbuhan ekonomi Turki rata-rata di atas 6 persen/tahun dalam 12 tahun terakhir. Bandingkan dengan negara-negara Eropa yang pertumbuhan ekonominya rata-rata tidak mencapai 1 persen. Bahkan, Turki yang 12 tahun lalu dijuluki Barat sebagai negara sakit, kini sudah menjadi kekuatan ekonomi ketujuh di Eropa. Angka pengangguran juga sangat rendah. Itu sebabnya kini di jalan-jalan di Ankara dan Istanbul mudah ditemui orang-orang Eropa Timur yang mencari makan di Turki.

Dengan prestasi seperti itu tidak aneh bila kemudian AKP selalu memenangkan pemilu dalam 12 tahun terakhir. Pemilu di Turki diselenggarakan setiap empat tahun. Dalam tiga kali pemilu AKP selalu menang. Kemenangan yang terus meningkat di setiap pemilu. Dari hanya menang mayoritas hingga kemudian mayoritas mutlak.

Namun, menjelang pemilu lokal para Maret, tiba-tiba pada pertengahan Desember lalu dunia dikejutkan dengan berita penangkapan 52 orang dengan tuduhan korupsi. Yang jadi persoalan, mereka yang ditangkap polisi itu antara lain tiga anak menteri dan dua pengusaha ternama yang diketahui dekat dengan pemerintah Erdogan. Mereka dituduh terlibat suap untuk memenangkan tender pemerintah.

Berita penangkapan itu tentu saja mengejutkan lantaran selama ini Erdogan dekenal sebagai orang yang paling gencar memberantas korupsi, terutama terhadap orang-orang atau pimpinan AKP. Erdogan pun berang. Ia menyebut penyelidikan korupsi ini sebagai kampanye kotor, apalagi Turki akan menghadapi pemilu lokal. Pemilu yang akan menjadi ujian bagi populeritas Erdogan dan AKP sebelum pemilihan umum pada Agustus nanti. Ia menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan apa pun.

Pemerintahan Erdogan pun kemudian melakukan serentetan pembersihan di tubuh polisi. Pekan lalu 350 perwira polisi diberhentikan. Di antaranya kepala unit kejahatan keuangan, unit antipenyelundupan, dan unit kejahatan terorganisasi. Sebelumnya lima perwira tinggi kepolisian juga telah dipecat, termasuk kepala unit yang memimpin penyelidikan korupsi serta kepala kepolisian Istanbul. Hingga kini sudah 700 perwira polisi yang dipecat. Tindakan ini tampaknya sebagai upaya pemerintah meminimalisasi dampak penyeledikian korupsi.

Buntut dari skandal korupsi ini tiga menteri mengundurkan diri lantaran anak-anak mereka ikut ditangkap. PM Erdogan -- dan Presiden Gul -- lalu mengganti separuh anggota kabinetnya beberapa hari kemudian.

Erdogan menuduh ada sebuah konspirasi besar yang melibatkan pihak asing yang ingin memperburuk citra pemerintahannya dan AKP menjelang pemilihan lokal pada Maret mendatang. Konspirasi yang sengaja untuk menciptakan perpecahan di antara partai yang memerintah. Bahkan, katanya, mereka sudah seperti negara dalam negara.

Meskipun tak menyebut nama, namun sejumlah media menyebut apa yang dimaksud Erdogan dengan konspirasi itu melibatkan sebuah nama: Fathullah Gulen. Yang terakhir ini merupakan cendekiawan Muslim Turki yang kini mengasingkan diri di Pensylvania, Amerika Serikat.

Sebelum menetap di AS pada 1999 untuk berobat, pria kelahiran 27 April 1941 di Kota Erzurum, Turki Timur ini, aktif berdakwah. Ia sudah berkeliling di hampir seluruh daerah-daerah di Turki. Selain berkhutbah di masjid-masjid, memberi ceramah umum, dan mengajar, Gulen juga produktif menulis mengenai berbagai hal. Sejumlah karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. Di samping itu, Gulen pun banyak mendirikan lembaga-lembaga amal, sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Sebagai ulama Sunni, pandangan Gulen sangat moderat. Ia menjunjung tinggi toleransi beragama dan kemajemukan masyarakat. Ia pun menggalang terjadinya dialog antar-pemeluk agama dan kepercayaan (interfaith dialogue), guna menciptakan perdamaian dunia. Ia menentang kekerasan. Apalagi terorisme, dengan dalih apa pun.

Pengikut Gulen tersebar di seluruh Turki dan dari berbagai kalangan. Dari rakyat biasa, pengusaha hingga pejabat. Baik di pemerintahan, kepolisian, militer, maupun di lingkungan aparatur hukum. Peran mereka juga sangat besar memengkan AKP, partai berhaluan Islam, dalam pemilu 2002. Kemenangan yang kemudian mengantarkan Erdogan menjadi PM dan AKP sebagai partai penguasa.

Boleh dikata peran keduanya – Gulen dan Erdogan – sangat klop untuk memperjuangkan Islam di negara sekuler. Mereka saling melengkapi. Gulen mewakili 'Islam kultural' dan Erdogan mewakili 'Islam politik'. Sungguh kerja sama yang sangat apik yang kemudian menjadikan Turki sebagai negara maju dan terpandang. Negara sekuler dengan pemerintahan yang Islami.

Karena itu berita penangkapan orang-orang dekat Erdogan yang dibalas dengan pemecatan sekitar 700 perwira tinggi dan menengah kepolisian sangatlah mengagetkan. Apalagi di balik semua itu kemudian muncul berita mengenai pecahnya kongsi antara kubu Erdogan dan kubu Gulen. Menurut sejumlah pengamat, perpecahan ini merupakan ujian berat buat Erdogan dan AKP dan lebih bahaya daripada aksi-aksi demonstrasi yang digerakkan kaum sekuler-liberal pada Juni tahun lalu.

Belum diketahui dengan pasti apa yang sesungguhnya terjadi antar-kedua tokoh kharismatis ini. Namun, kita menyampaikan keprihatinan mendalam dengan apa yang terjadi di Turki kini. Apalagi perpecahan itu terjadi antara dua tokoh Islam yang bisa dipastikan akan memperlemah pemerintah yang berhaluan Islam ini. Kita khawatir akan muncul pameo bahwa umat Islam memang susah untuk bersatu.[]

Penulis : Ikhwanul Kiram Mashuri
Sumber : Republika Online

6:10 PM | 0 comments

Perselingkuhan KPK

Written By mimin on Wednesday, January 8, 2014 | 11:00 PM

KPK - Anas - Ibas (ilustrasi inilah.com)
Mengamati pemberitaan di negeri ini, membuat siapa yang tak arif menjadi bingung. Bahkan, dalam taraf yang parah bisa menjadi antipati. Apalagi, sebagian besar masyarakat kita masih menjadikan berita sebagai barang langka. Pasalnya, masalah perut masih mendominasi, ketimbang mengkonsumsi data, angka dan berita yang tak jelas juntrungnya.

Keadaan ini diperparah dengan adanya perselingkuhan pemilik media dengan konten berita. Sehingga, pemberitaan tak lagi obyektif. Semua konten, harus sesuai dengan kemauan pemilik modal. Sehingga, wartawan maupun reporter di lapangan, ‘dipaksa’ untuk mengikuti kemauan pemodal. Apa alasannya? Demi mengenyangkan perut, karena itu perintah kerja, dan seterusnya. Meskipun, kita mengakui, masih banyak awak media yang profesional. Namun, seprofesional apapun, jika konten yang mereka sajikan tak sesuai dengan pemilik modal, mau dipublis di mana? Siapa yang mau mempublis?

Mari, kita sedikit kilas balik. Mumpung masih di pekan pertama tahun 2014. Akhir 2013, semua media diisi dengan pemberitaan Pesta Tahun Baru yang diadakan di Ibu Kota. Mulai dari pendirian panggung, penutupan jalan, informasi transportasi yang dibuka 24 jam, hingga pemimpin tertinggi provinsi itu yang melakukan duet dengan ‘lawan’ politiknya sebelum naik menjadi Jakarta 1.

Pertanyaannya, apakah pentingnya pesta itu? Sebuah gelaran bertajuk ‘pesta rakyat’ di 12 titik panggung, dengan dana 1 milyar dan menghasilkan sampah 200 ton? Jika kita mau berpikir, yang untung siapa? Ya pemodal, ya pemilik panggung, yang makelar petasan, dan pemodal-pemodal lain, termasuk pemilik stasiun televisi dan artis-artis yang hobi cerai itu.

Penjual keliling? Ya, mereka memang untung, tapi hanya sekali dalam setahun. Padahal, seharusnya mereka bisa lebih diberdayakan. Bagi penonton yang berdalih dihibur? Tengok saja, jika perlu lakukan survei, dari sekian juta orang yang datang, berapa yang berhasil bangun Shubuh dan menjalankan dua rakaat tepat waktu?

Tepat setelah pesta tahun baru itu, kita disuguhi dengan Drama Terorisme adegan lama. Ceritanyapun klasik. Banyak kejanggalan. Anehnya, aneka kejanggalan ini tidak dipublikasikan oleh media-media televisi itu. Enam orang ditembak mati. Sementara satu diantara mereka, didapati tidak terdapat luka tembak. Melainkan luka pada salah satu bahu dengan mata yang tercongkel.

Apakah mereka sangat stres sehingga harus membunuh satu demi satu warga yang baru terduga sebagai teroris? Ataukah mereka ingin mendapatkan angpao tahun baru dari Bos Amerika? Yang penting untuk kita ingat, jika kemarin mereka yang ditembak, bukankah suatu ketika, siapapun kita bisa menjadi sasaran tembak juga? Apalagi selama ini sering terjadi ‘salah’ tembak dengan berbagai dalih? Anehnya, berita ini terus menerus diputar, dengan esensi yang tak jelas. Masayarakat awam yang hanya hobi menonton televisi, langsung beranggapan, bahwa mereka adalah teroris. Parahnya lagi, dikaitkan dengan Islam, jilbab, jenggot dan celana cingkrang. Puncak dari drama terorisme ini adalah pelarangan edar buku-buku tulisan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Jadi mirip rezim sekuler saja negeri kita ini. Masih ingat buku Gurita Cikeas? Ada yang tahu nasib buku ini?

Drama ini ternyata tak terlalu seksi. Terbukti, pemberitaan dialihkan ke isu Komersialisasi Doa. Ini lebih aneh. Yang mempunyai program sudah mengakui kesalahan, dan mencabut program itu. Tapi, beliaunya dipanggil terus. Mulai stasiun A, B, dan seterusnya. Pola pemanggilannyapun terus menerus. Mulai pagi, siang, sore hinga malam. Yang menggelikan, jenis pertanyaannya sama.

Berita komersialisasi doa ini tidak berlangsung lama. Karena Drama Terorisme masih sedikit cerita. Sayangnya, sutradara salah perhitungan. Drama ini tak begitu diminati, sehingga pemberitaan beralih ke Dagelan Kenaikan Harga Gas. Ini lebih garing, kawan!

Begini, sebelum menaikkan harga, Pertamina seharunya berkoordinasi dulu dengan Menteri BUMN dan Pak Presiden. Lantas, Pertamina baru mengumumkan kenaikan. Kenaikanpun diumumkan, dengan harga yang melangit. Lantas, di hari libur, Pak Presiden mengadakan Rapat Terbatas. Temanya, agar Pertamina meninjau kembali kenaikan harga gas lantaran memberatkan masyarakat. Bahasanya manis sekali, “Kemarin, Kami kurang koordinasi.” Sang Menteri pun mengangguk, dan hari berikutnya, harga LPG tetap naik meski tak semelambung sebelumnya.

Jika kita mau mengamati sedikit lebih seksama, nampaknya strategi yang dijalankan sangat kentara maksudnya. Ada yang bilang pencitraan di pemilu mendatang, ada yang bilang menaikkan pamor partai pemimpin, dan seterusnya. Jika saya boleh memilih, maka saya memilih mengamini pendapat Glen Fredly dalam Mata Najwa Rabu malam kemarin, “Keberhasilan Presiden dalam dua periode ini ya bikin album.” Tentu, kita tidak menafikan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan, dan semoga menjadi kontribusi bagi bangsa ini.

Selanjutnya, yang paling baru, adalah Humor Perselingkuhan KPK. Ini berita juga menyedot media-media televisi untuk meliputnya. Saya ingin mengatakan, sebelum anda menghakimi, bahwa saya tidak sedang melawan KPK, saya malah menginginkan agar KPK lebih profesional dan tidak tebang pilih. Karena, dalam pandangan saya yang tak pandai ini, banyak kejanggalan yang kemudian dibela oleh banyak pihak.

Begini, Nazaruddin diburu sampai Kolombia. Ada yang tahu berapa dana yang digunakan dalam perburuan itu? Dari Nazaruddin disampaikan pengakuan bahwa Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum terlibat. KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka. Anehnya, kenapa Andi dan Anas tidak dijemput untuk ditahan? Apakah dana untuk menjemput keduanya lebih besar dibanding dana yang digunakan untuk menjemput Nazaruddin di Kolombia? Apakah keberadaan keduanya lebih tersembunyi dibanding keberadaan Gayus Tambunan yang sempat jalan ke mana-mana sebelum akhirnya ditangkap?

Hingga kini, Andi sudah ditangkap. Tapi, Anas masih berkeliaran. Sudah dua kali dipanggil, dan Anas selalu menolak hadir. Banyak pihak yang kemudian meminta agar Anas kooperatif, ada juga yang mendukung agar Anas ‘melawan’ ketidakadilan KPK. Pemberitaan ini semakin gelap ketika ada yang mengatakan bahwa sebelumnya, salah satu ketua KPK mendatangi Cikeas dengan Wamen Dani Idrayana.

Humor ala KPK ini, semakin menunjukkan bahwa KPK tidak mempunyai prosedur yang jelas. Salah satunya, ada perbedaan perlakuan. Sama-sama dinyatakan tersangka oleh KPK, tapi beda perlakuan. Ada yang dijemput paksa, padahal baru terduga. Ada yang dicari hingga keliling dunia, ada yang dibiarkan di rumahnya bahkan sampai membuat organisasi baru, ada yang diperiksa di rumahnya karena punya jabatan dekat dengan pemimpin, dan seterusnya.

Lantas, mereka juga terkutat dalam kasus-kasus yang bukan esensi. Lebih asyik kepada kasus kecil. Sedangkan kasus besar yang menyeret pejabat negara, mantan menteri, dan pejabat lain, seakan tidak disentuh. Aneka dalih diberikan, aneka alasan disampaikan. Baik yang logis maupun tidak. Parahnya, sisi tendensius KPK ini semakin terasa.

Sebut saja satu contoh, ketika Ridwan Hakim akan diperiksa sebagai saksi. Anehnya, Ridwan Hakim diberitakan sebagai anaknya siapa, bapaknya dari partai apa. Padahal, tak ada kaitannya. Belakangan, ketika Ridwan Hakim bersaksi bahwa dia belajar bisnis dengan Bunda Putri ataupun Seng Man, KPK mandeg. Padahal, menurut banyak sumber Bunda Putri dan Seng Man ini dekat dengan Cikeas.

Sebelum itu, ketika Ridwan Hakim akan diperiksa, dia sudah dimasukkan dalam daftar orang yang tidak diijinkan pergi ke luar negeri. Sementara itu, Menteri Sri Mulyani yang nyata ‘kontribusi’nya dalam Mega Skandal Century, tidak dicekal ketika akan pergi ke Amerika dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu direktur IMF. Sampai sekarang, KPK juga terkesan tidak menyentuh Sri Mulyani, mungkin karena bukan muhrim. Karena sentuhan dengan bukan muhrim, termasuk dalam dosa.

Akhirnya, ini hanyalah oret-oretan sederhana. Jika benar, silahkan diambil. Kalau salah, mohon dimaafkan. Yang ingin kami sampaikan, jangan sibuk dengan pemberitaan media yang tidak jelas keberpihakan dan latar belakangnya. Lebih baik, mulai sekarang, kita berupaya untuk mengikuti apa yang disarankan oleh Sayyid Quthb agar kita menjadi media bagi diri kita masing-masing. Jangan lupa juga, One Day One Juz.
Salam sepenuh cinta, semoga kita tetap bahagia. [Pirman]

11:00 PM | 0 comments

Masyarakat Baru Indonesia

Written By mimin on Thursday, December 19, 2013 | 5:20 PM

Anis Matta
Ada perubahan yang sedang terjadi diam-diam di tengah semua kegaduhan politik hari ini yaitu perubahan komposisi demografi dan karakteristik masyarakat yang pada gilirannya nanti akan mempengaruhi lanskap politik pada Pemilu 2014.

Komposisi penduduk mulai condong ke usia muda, bahkan didominasi oleh penduduk berusia 45 tahun ke bawah. Proyeksi demografis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2014 ini angka usia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 65%. Penduduk berusia muda ini memiliki tingkat pendidikan dan penghasilan yang cukup tinggi. Tentu saja, Indonesia telah masuk ke ambang pendapatan per kapita USD3.000 sejak 2011. Karakter lain dari kelompok ini koneksi ke dunia luar melalui internet (well connected). Diperkirakan kurang-lebih 60 juta orang Indonesia terhubung dengan social media. Angka itu sama dengan hampir 25% dari penduduk Indonesia.

Native Democracy
Karakter lain yang khas di Indonesia dewasa ini adalah kelompok yang saya sebut sebagai “native democracy”. Mereka adalah generasi muda yang hanya merasakan demokrasi sejak dewasa. Mereka tumbuh remaja dengan menyaksikan pemilihan presiden langsung, iklan politik di media, dan kebebasan berpendapat hampir di mana saja. Mereka tidak memiliki referensi kehidupan dalam suasana otoriter Orde Baru, di mana pers dibungkam, partai politik dibonsai, serta pemilu yang semata menjadi “pesta” bagi penguasa, bukan pesta demokrasi yang sebenarnya.

Kelompok “native democracy” ini berbeda dengan “kakaknya” yang lahir pada awal Orde Baru (akhir 1960-an atau awal 1970- an) yang menyaksikan runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet ketika remaja. Sebagian dari anak sulung Orde Baru ini menjadi pelaku ketika gerakan Reformasi bergulir karena mereka sedang berada pada usia pemuda atau mahasiswa. Mereka merekam suasana otoriter masa lalu dan melihat situasi demokratis sekarang sebagai suatu pencapaian, sementara adiknya melihat kebebasan hari ini adalah sesuatu yang terberi (given).

Orientasi yang Berubah
Dari perjalanan sejarah, kita mencatat bahwa pencapaian terbesar para pendiri bangsa dan pemerintahan pasca kemerdekaan di bawah Bung Karno adalah pembentukan konstitusi Indonesia sebagai negara-bangsamodern. Namun, paradigma “politik sebagai panglima” di era ini menyebabkan negara tidak punya perhatian dan kemampuan untuk melakukan pembangunan sosial dan ekonomi. Orde Baru yang datang sebagai anti tesis Orde Lama menempatkan pembangunan ekonomi, dalam arti peraihan kesejahteraan material, sebagai fokus dan basis legitimasi.

Namun, karena stabilitas politik merupakan premis bagi pembangunan ekonomi, proses penguatan lembaga negara dilakukan dengan menjadikan militer sebagai “brain and backbone” negara, sementara kekuatan sipil terpinggirkan, khususnya partai politik. Era Reformasi mengalihkan perhatian kita dari politik dan ekonomi ke masyarakat (society). Yang terjadi selama 15 tahun belakangan ini adalah penguatan masyarakat sipil dengan empat pranata utama: kampus, media, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan partai politik.

Inilah yang kemudian menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan antara negara, pasar dan masyarakat sipil. Bersamaan dengan beralihnya pusat perhatian kita pada society, yang berdampak pada penguatan masyarakat sipil, kita mendapatkan berkah dari Tuhan berupa “bonus demografi” di mana komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Rasio ketergantungan (dependency ratio) menurun karena orang tidak produktif (orang tua dan anak-anak) yang harus ditanggung oleh penduduk produktif semakin kecil sampai titik tertentu.

Proyeksi demografis BPS menunjukkan bahwa dividen ini mencapai puncaknya pada 2020, ketika penduduk berusia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 70% dari populasi. Dampak paling besar akibat pergerakan dari politik ke ekonomi ke masyarakat ini adalah berubahnya tujuan pertanggungjawaban politik dan ekonomi. Di era ini masyarakat akan menjadi “panglima” bagi politik dan ekonomi. Karena itu, negara sebagai integrator bagi semua aktivitas politik dan pasar sebagai integrator bagi semua aktivitas ekonomi bukan hanya dituntut untuk lebih terbuka dan transparan, melainkan juga dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial.

Masyarakat menjadi faktor pembentuk nilai utama bagi negara dan pasar. Jargon era ini adalah: society first! Pertanyaan yang berkembang, apa orientasi hidup masyarakat baru ini? Ternyata jawabnya adalah kualitas hidup. Kesejahteraan adalah impian, tapi ia tak lagi sendiri. Kesejahteraan bergeser dari tujuan menjadi salah satu faktor pembentuk kualitas hidup. Itulah yang kita baca dari perubahan lanskap nilai dan moral masyarakat baru tersebut.

Di samping nilai-nilai lama yang masih kuat bertahan, yaitu agama dan gotong-royong, muncul nilai baru yang menyertai dan mengimbangi kedua nilai tersebut yaitu tendensi pada kekuasaan (power) dan prestasi (achievement). Agama memberi orientasi hidup, menjadi sumber moral sementara pengetahuan memberi mereka kapasitas dan sumber produktivitas. Kesejahteraan adalah output dari kedua hal tersebut yang berfungsi sebagai pembentuk kualitas hidup secara keseluruhan.

Implikasi
Implikasi dari lahirnya masyarakat baru ini adalah kebutuhan hadirnya representasi politik yang melampaui polarisasi politik lama. Cara pandang dikotomis Islam vs nasionalis —kemudian Islam masih dibelah lagi menjadi tradisionalis vs modernis—menjadi usang dan tidak relevan. Pada masyarakat baru ini, agama adalah identitas, bukan ideologi. Kehidupan mereka relatif lebih religius, tetapi tidak otomatis berkorelasi dengan pilihan-pilihan politis-ideologis.

Kita harus mencari ide tentang “the next Indonesia” yang benar-benar mewakili ruh zaman, mewakili orang-orang yang berumur di bawah 45 tahun. Karena itu, seperti sudah saya sampaikan dalam banyak kesempatan, Pemilu 2014 bukan hanya menjadi momentum politik demokrasi, berupa peralihan kekuasaan, melainkan momentum peralihan gelombang sejarah Indonesia. Partai politik harus menyiapkan strategi komunikasi baru karena nantinya hubungan antara pemerintah (yang merupakan hasil kontestasi pemilu) dan publik akan berlangsung pada kesepakatan tingkatan layanan (service level agreement) dari kedua pihak;

Layanan apa yang diminta publik dan kewajiban apa (seperti partisipasi atau pajak) yang harus diserahkan publik untuk mendapat layanan itu. Partai politik harus menyiapkan dan menyampaikan draf kontrak layanan itu. Pada skala yang lebih besar, tugas negara bagi masyarakat baru tersebut adalah memfasilitasi masyarakat bertumbuh secara maksimal dengan semua potensi mereka. Fungsi fasilitator pertumbuhan sosial itulah yang akan mencegah terjadi ketegangan diametral antara negara dan masyarakat sipil yang banyak terjadi di negaranegara demokrasi baru.

Semua berkah yang diberikan Tuhan itu, seperti sumber daya alam dan bonus demografi, hanya akan punya makna jika dikelola secara baik. Jika tidak, berkah itu akan hilang percuma dan kita kehilangan momentum untuk membuat lompatan menjadi negara yang sejahtera. Perubahan ini yang akan membuat Pemilu 2014 menjadi menarik dan menantang bagi partai politik. Mudah-mudahan lebih menarik dari Piala Dunia FIFA yang digelar di Brasil! []

Penulis: M ANIS MATTA
Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Sumber: Sindo, 20 Desember 2013

5:20 PM | 0 comments

Polling BeritaSatu, PKS Partai Paling Bersih Korupsi

Written By mimin on Sunday, November 24, 2013 | 10:00 PM

Berita Satu
Perhelatan Pesta Demokrasi di Negeri ini sudah memasuki era ‘perang’ terbuka. Partai-partai politik sudah semakin gencar melakukan aneka manuver politiknya. Baik berupa pemasangan spanduk, baliho, iklan di media cetak, online maupun elektronik lainnya.

Diantara alat kampanye yang sering digunakan itu, adalah survei terhadap elektabilitas masing-masing partai. Sebut saja yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Menurut sejumlah pengamatan, elektabilitas partai berlambang bulan sabit kembar ini tengah mengalami penurunan drastis imbas dari kasus suap impor daging sapi yang tak jelas juntrungnya. Namun, dalam sebuah polling yang dilakukan oleh laman Berita Satu (www.beritasatu.com) terkait Partai Bersih Korupsi, PKS justru memenangi polling ini.

Hingga berita ini diturunkan, dengan peserta polling 3344 orang, berikut kami lampirkan peringkat 3 besar polling :
1. Partai Keadilan Sejahtera (87.4% )
2. Partai Bulan Bintang (3.4%)
3. Partai Kebangkitan Bangsa (2.4%)
Berdasarkan pengamatan kami di kolom komentar, tak sedikit komentar yang bernada positif terhadap PKS sebagai pemenang polling. Meskipun, banyak pula komentar negatif terhadap partai yang dipimpin oleh Anis Matta ini.

Diantara pengamatan kami, ada beberapa komentar yang menurut kami pantas untuk disimak :

1. Komentar dari Muaz pada 25 November:
Sepertinya PKS partai terbersih, kalalupun ada kasus impor sapi, itu cuma buat black campaign aja. Soalnya gak terbukti, cuma si AF (Ahmad Fathanah) yang emang malingnya, tapi dia kan bukan pengurus (juga bukan kader –red) PKS.

2. Komentar dari Sari pada 24 November 2013
Dari dulu saya suka sama partai ini. Kader2nya soleh dan solehah. Adem lihatnya. Kerjanya nyata, saya pernah ikut baksos mereka. Pernah juga lihat relawannya membantu korban hencana alam. Jadi yang disebarkan media tentang kasus suap impor sapi itu saya nggak percaya sedikitpun, la wong nggak terbukti sampe sekarang kok, sidangnya cuma diperpanjang aja terus. Kayak dicari-cari gitu kesalahannya.

3. Komentar dari Zamhir pada 24 November 2013
Yang namanya Jamaah/organisasi/parpol milik manusia. Bukan malaikat, pasti ada khilaf & salah! Tapi diantara sekian jamaah/organisasi/parpol yang ada, tentu ada yang terbaik diantara terbaik/terburuk, tentu ada terbersih diantara yg bersih/yang kotor, jadi diantara parpol yang ada sampai dengan detik ini kami menilai PKS masih relatif terbaik & terbersih!!! Dinilai dari : pola pengkaderan, pencalegan, pencitraan, sosialisasi, sosial, kesolidan internal, amal & bakti sosial dan lain sebagainya. Sebagian bukti, mayoritas parpol dalam pencalegan mencomot tokoh di luar kader yang punya uang banyak & pamor seperti artis, dll. Parpol selain PKS dalam mengumpulkan kader &; massanya kalo ada uangnya. Cobalah kita jujur & cerdas mana parpol yang tulus & mana parpol yang pulus demi untuk rakyatnya. Cobalah buka mata & mata hati. Mana parpol yang punya media massa &; parpol yang dihabisi media massa. Jujur sajalah dengan kata hatimu!! Dengan kejahiliyahanmu, jangan kamu jadi orang munafiq, suka mencaci, mencela & memfitnah parpol yang baik & membela parpol yang buruk/kotor & hanya jadi komentator tapi tidal berbuat untuk kebaikan umat manusia.....!!! Sadar & insaflah kamu...!!! Semoga PKS tetap selalu... rakyat & Allah SWT masih membelamu...!!!
Polling BeritaSatu: Partai Bersih Korupsi

Tentu, pemenang pemilu tidak hanya ditentukan oleh polling. Meskipun, polling-polling seperti ini diperlukan untuk menyusun langkah dalam melakukan maneuver-manuver politik ke depannya.

Yang menarik, poling ini diadakan oleh Laman Berita Satu, dimana Pimpinan Umumnya adalah Theo L. Sambuga. Berdasarkan data yang kami dapatkan, beliau adalah mantan Menteri Perumahan Rakyat era Presiden B.J Habibie, dan sampai sekarang masih menjabat sebagai ketua DPP Partai Golongan Karya (Golkar). Sehingga, indikasi bahwa ini ‘permainan polling’ PKS, sangatlah mustahil. Jikapun itu benar, bisa jadi, lantaran kader-kader dan simpatisan-simpatsan PKS yang militan dan menyeruak ke berbagai ranah masyarakat, baik dunia nyata maupun dunia maya.

Bagi Kami, poling ini merupakan kabar gembira. Karena, 3 besar diduduki oleh Parpol Islam. Sehingga, ke depannya, Kaum Muslimin akan semakin memesona dengan kemenangan-kemenangan yang diraih di segala bidang. Semoga, kebangkitan Islam bisa segera terwujud.

Akankah PKS benar-benar menang di 2014? Akankah parpol Islam akan memenangi laga ini? Mari, lanjutkan menonton pertandingan yang semakin seru ini. Jika perlu, jangan hanya menjadi penonton. Tapi, jadilah pemain utamanya. [PM/Bersamadakwah]

10:00 PM | 0 comments

Awas! Ada Promosi Israel di SCTV

Written By mimin on Thursday, October 31, 2013 | 7:10 PM

Belanja di Tel Aviv (LIputan6)
Rabu (30/10) pukul 17.20 tepatnya, mataku langsung tertuju pada berita di televisi mengenai Israel. Yang aku herankan, tidak biasanya acara Liputan 6 menyiarkan berita Israel, apalagi bernada promosi.

"Belanja di Tel Aviv" demikian judul reportasenya. Ketika kusimak lebih seksama, siaran itu berisi promosi agar berbelanja ke Tel Aviv dan jaminan keamanan berbelanja di sana.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tanah milik Israel adalah hasil jajahan yang telah direbut dari Palestina, termasuk Tel Aviv yang kini menjadi ibukota Israel. Hingga saat ini pun Israel masih menjajah Palestina.

Mengapa promosi Israel ini menjadi tayangan SCTV? Adakah agenda tersembunyi di baliknya? Indonesia sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia harusnya mendukung atas kemerdekaan Palestina. Tapi yang tergambar oleh pemberitaan di Liputan 6 justru seakan membiaskan hal itu. Seolah tidak terjadi apapun antara Israel dengan Palestina yang higga kini masih berjuang mempertahankan tanah mereka.

Sebagai stasiun televisi yang baik harusnya SCTV, khususnya Liputan 6 memberitakan hal-hal yang tidak terkesan pro pada Israel yang merupakan representasi penjajahan di milenium ketiga. Sejalan dengan aspirasi umat Islam di Indonesia, akan lebih baik stasiun TV di negeri ini mendukung Palestina..

Selain itu, kepekaan masyarakat muslim di Indonesia atas kepeduliannya dengan nasib saudaranya seiman yang ada di Palestina bisa terlihat dari respon atas tayangan seperti ini. Jika masyarakat menyambut baik ajakan Liputan 6, ini pertanda propaganda tersebut berhasil. Semoga saja masyarakat kita masih kritis sehingga melayangkan protes ke KPI atas tayangan tersebut. Sebagaimana Februari lalu umat Islam memprotes keras Metro TV yang menayangkan program Inside bertajuk "Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia". [Gresia Divi]

Cuplikan video bisa dilihat di bawah ini, sedangkan video lengkap bisa dilihat di http://video.liputan6.com/main/read/22/1162183/0/liputan6-petang-30-10-2013-3-kelangkaan-buku-nikah-jendela-dunia-belanja-di-tel-aviv?wp.vido



7:10 PM | 0 comments

Di Balik Kebodohan Matematika PKS

Written By mimin on Monday, October 28, 2013 | 6:00 PM


Ah... ternyata benar. Sebagian kalian langsung menghakimiku. Tetapi tidak apa-apa. Aku berterima kasih kepada bersamadakwah yang berani menerbitkan tulisan itu dan kepada kalian yang telah membaca dan meresponnya.

Seperti kata beberapa pembaca, tulisanku telah mencapai tujuannya. Dan aku bisa menyimpulkan tiga tipikal kader PKS dari komentar-komentar di web maupun facebook. Satu adalah kelemahan, dua yang lain adalah kelebihan. Kusebutkan dari kelebihan dulu ya. Tidak, tidak. Kuawali dari maksudku menulis “Kebodohan Matematika PKS” dulu. Biar kalian tidak su’udhon kepadaku.

Walau sampai detik ini aku tidak memiliki kartu anggota PKS, aku menaruh harapan pada partai Islam yang satu ini. Bukan hanya karena asasnya Islam, yang kini hanya tinggal dua parpol di Indonesia. Tetapi dari kerja-kerja dan aktifitasnya. Kalau tentang pembinaan dan pengajiannya, aku tidak perlu komentar, itu tidak bisa ditiru oleh partai lain, dan itu integrity core kalian. Sayangnya, publik tak mau tahu kalian ngaji atau tidak. Yang penting adalah apa manfaat kalian bagi mereka.

Nah, itu tuh yang aku lihat. Rupanya harapan masyarakat itu sedikit banyak bisa kalian penuhi dengan beragam baksos yang tiada henti selama lima tahun. Sejak tahun pemilu ke pemilu berikutnya. Sejak sebulan setelah pemilu 2009 sampai saat ini. Bagiku, kalian berbeda dari partai lainnya. Tetapi jika aku langsung mengatakan PKS rajin baksos, kalian pasti tidak tertarik membacanya. Pun orang lain yang tidak suka PKS, malah akan menjauhinya. Dengan tulisan sederhana “Kebodohan Matematika PKS” wow –koprol- tulisanku mendadak jadi paling populer di bersamadakwah.

Jadi niatku menampilkan fakta yang aku potret tentang kiprah PKS yang peduli dan terus melayani tanpa peduli pemilu bisa tersampaikan. Dan aku bersyukur kalian tidak tergoda dengan ide money politic yang aku usulkan. Ini tipikal pertama kader PKS, bertahan dengan nilai Islam di tengah godaan sekulerisme dan budaya instan materialisme.

Aku pun bertanya mengapa PKS terus baksos dan tidak mau mengganti aktifitas itu dengan serangan fajar, ternyata jawabannya, menurut ustadz yang kukenal sebagai tokoh PKS setempat, karena tujuan didirikan partai kalian ini untuk berdakwah dan mensejahterakan masyarakat. Jika benar demikian, berarti di balik ‘kebodohan’ matematika, kalian memiliki kecerdasan spiritual. Semoga kalian ikhlas, dan jika iya, kudoakan kalian menang agar skala pelayanan kalian lebih luas.

Kedua, tipikal kader PKS yang kuamati dari komentar-komentar kalian adalah, loyal. Kalian memiliki loyalitas yang tinggi kepada partai yang jarang kulihat dari kader partai lain. Ketika partai dihina kalian membela. Ketika partai dicaci kalian memberikan perlawanan. Ketika ada berita miring kalian menepisnya. Ini modal PKS. Kuharap loyalitas kalian bukan loyalitas buta. Kan kalian ini partai Islam, jadi loyalitasnya untuk Allah dan RasulNya dulu ya.

Ketiga, tipikal kader PKS itu emosional. Nah, kalau yang dua di atas positif, ini yang negatif. Kalian masih cenderung emosional dan mudah diprovokasi. Bahkan oleh tulisan sederhana yang menampilkan kelebihan kalian apa adanya, ditambah sedikit sarkasme. Hati-hati kawan. Politik itu kejam. Sedikit kelemahan bisa dimanfaatkan musuh sebesar-besarnya. Jangan mudah tersinggung dan terprovokasi, karena dalam dunia politik, lawan pasti mencari cara menjatuhkan. Ia bisa menyinggung kalian, memprovokasi kalian, bahkan memfitnah. Berhati-hatilah. []


Penulis: Dedi Ilyas
Pernah jadi mahasiswa tapi tidak lulus :)
6:00 PM | 0 comments

Kebodohan Matematika PKS

Written By mimin on Sunday, October 27, 2013 | 11:40 PM

Antrian warga di baksos penduli banjir Tebet
Ini hanya sekedar sharing. Aku berharap kalian, kader-kader PKS, tidak menghakimiku. Aku hanya sekedar memotret apa yang aku dapati di sekitar lingkunganku, juga di dekat tempat tinggal teman-temanku. Jika coretan ini ada baiknya, silahkan kalian pertimbangkan ideku atau kalian sebarkan agar dibaca oleh tokoh dan pemimpin-pemimpinmu. Kalau tidak salah, istilahnya qiyadah.

Begini, kuperhatikan kalian ini bodoh. Setidaknya secara matematika. Kalian bilang ingin menjadi 3 besar. Kalian bilang ingin menang di 2014. Kalian bilang ingin meraup banyak suara. Tetapi kalian masih juga menggunakan cara-cara lama.

Kuperhatikan kalian masih melakukan bakti sosial sejak tahun 2010. Jika aku tidak salah memotret, kalian hadir dalam baksos kesehatan, baksos sayur, baksos sembako murah. Untuk baksos kesehatan yang kalian lengkapi dengan dokter umum dan spesialis, estimasiku menghabiskan biaya rata-rata 40 ribu sampai 70 ribu per orang. Baksos sayur 10 ribu. Baksos sembako murah 50 ribu. Itu yang rutin. Belum ditambah yang insindental saat terjadi banjir dan bencana, yang bisa menelan dana 100 ribu per orang. Jadi kalau ditotal, kira-kira kalian menghabiskan dana 200 ribu sampai 230 ribu per orang. Belum bentuk-bentuk charity lain yang kalian sebarkan kepada masyarakat. Membuat taman baca gratis, membuat TPQ dan bimbingan belajar gratis, dan berbagai peringatan hari besar Islam dan nasional yang sebagiannya juga ada konsumsi dan hadiah buat warga. Seandainya kalian mau menahan diri, kalian tabung seluruh uang itu dalam lima tahun, estimasiku kalian bisa memberikan satu juta rupiah per orang. Jika uang sejuta itu kalian berikan satu hari menjelang pemilu, atau pagi-pagi sebelum coblosan yang jamak diistilahkan serangan fajar, kalian pasti akan langsung dicoblos.

Entahlah, apa pertimbangan kalian. Kalian mungkin tidak tahu kalau sebagian besar masyarakat masih pragmatis. Dan ingatan mereka sangat pendek. Sangat sedikit diantara mereka yang mengingat baksos-baksos selama lima tahun, tetapi mereka ingat dengan partai atau caleg yang memberikan duit 50 ribu beberapa jam sebelum masuk bilik TPS. Nah, jika kalian memberikan 500 ribu saja, mereka pasti mengalihkan pilihannya pada PKS. Tapi nyatanya, kalian malah pelit di saat hari H. Kalian bilang itu money politic, padahal seluruh partai melakukannya. Aturan itu memang ada tapi sebatas teori saja. Jadilah seperti partai umumnya. []

Penulis: Dedi Ilyas
Pernah jadi mahasiswa tapi tidak lulus :)
11:40 PM | 0 comments

Di Balik Survei Elektabilitas Ahok dan Dukungan Gereja

Written By mimin on Wednesday, October 9, 2013 | 5:00 AM

Ahok (foto Antara)
Awal pekan ini, sejumlah media nasional menampilkan hasil survei Cyrus Network yang menempatkan Ahok sebagai cawapres dengan elektabilitas tertinggi. Menurut survei itu, tingkat elektabilitas Ahok mencapai 21 persen. Ahok mengalahkan tokoh-tokoh lainnya seperti Dahlan Iskan, Hatta Rajasa, dan Hary Tanoesoedibjo.

Hampir bersamaan dengan rilis survei itu, Sekretaris Eksekutif Bidang Marturia Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Favor A. Bancin mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mendukung wacana sejumlah tokoh nasional untuk mengusung pemimpin Kristen di pentas nasional menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 mendatang. Meski secara khusus tidak menyebut nama Ahok, jelas Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menjadi salah satu “kader” yang diperhitungkan.

Kemenangan Ahok menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, menurut Amien Rais, tidak lepas dari dukungan kelompok pebisnis kuat yang dikontrol oleh kekuatan politik di belakangnya.

Setelah menjadi Wagub, nama Ahok semakin populer dengan dukungan media yang membesarkannya sejak Pilgub DKI.

Guru Besar Politik UI Iberamsjah menambahkan, popularitas Ahok yang meroket di ibukota tidak diimbangi dengan kepintaran dan kemampuan menonjol dari mantan bupati Belitung Timur tersebut. Ia juga menangkap bahwa di luar DKI Jakarta, Ahok bukanlah sosok yang “familiar.” Karenanya pengamat politik ini mencurigai bahwa survei Cyrus Network cenderung menyesatkan dan terindikasi bayaran.

Lepas dari benar atau tidaknya survei elektabilitas Ahok adalah rekayasa, popularitas Ahok di DKI Jakarta dan wacana pemimpin Kristen 2014 patut diwaspadai. Jika umat Islam tidak menyadari adanya “gerakan” ini, bisa jadi hanya penyesalan yang akan datang kemudian.

Sebelum apa yang dikhawatirkan umat Islam terjadi, umat Islam perlu mengambil langkah perbaikan yang setidaknya meliputi tiga aspek berikut:

1. Pemimpin dan Politisi Muslim
Pemimpin dan politisi Muslim perlu segera mengambil langkah cepat perbaikan. Mereka perlu menyadari bahwa orang seperti Ahok dapat “mengambil hati” sebagian orang karena mengambil langkah seperti Jokowi yang terjun langsung bertemu masyarakat. Di luar arogansi Ahok, ia disukai sebagian orang karena bertemu dan menyapa mereka, dan pada saat bersamaan dibangun citranya oleh media. Apa yang dikatakannya dan apa yang diperbuatnya hampir selalu ditampilkan media, tentu saja, setelah dipoles sedemikian rupa.

Pemimpin dan politisi Muslim sementara ini masih dicitrakan jauh dari masyarakat. Mereka kadang (ditampilkan) “untouchable” dan memiliki jarak psikologis dengan massa. Bahkan, kadang tampak terlalu formil dan “mewah.” Mereka perlu menyadari bahwa kesederhanaan seperti yang dicontohkan Umar bin Khatab dan pemimpin Islam terdahulu adalah nilai yang hingga saat ini masih dirindukan umat. Kedekatan dan ketidakberjarakan dengan masyarakat adalah faktor penting kecintaan masyarakat. Jokowi dan Ahok tidak banyak melakukan perubahan di Jakarta, tetapi kedekatannya dengan masyarakat melalui blusukan adalah faktor penting yang membesarkannya.

2. Tokoh Muslim dan Media
Tidak dapat dipungkiri, media adalah steering yang melambungkan nama Ahok. Entah ada apa di balik media. Entah apa korelasi Ahok dan media.

Tokoh muslim, pemimpin dan politisinya yang telah berbuat lebih banyak bagi masyarakat mungkin tidak mendapat kesempatan yang sama karena tidak terekspose oleh media. Padahal, sebagai pilar keempat demokrasi, media sangat menentukan cita rasa dan mampu mengarahkan pilihan massa. Orang yang baik bisa tampak buruk dalam sekejap karena media. Sebaliknya, orang yang jahat bisa tampak manis karena polesan media dalam waktu yang lama. Tokoh muslim, pemimpin dan politisinya harus dekat dengan media dan memanfaatkannya. Islam harus memiliki media yang setara. Itu idealnya. Tetapi jika belum bisa, setidaknya mereka harus memanfaatkan media-media berkembang milik umat Islam.

3. Umat Islam
Umat Islam, pemilih Islam, mereka perlu menyadari bahwa sedang ada “skenario” menjauhkan umat Islam dari kemenangan politik. Fakta historis sejak dulu selalu menunjukkan seperti itu. Jangan sampai umat Islam menyesal karena salah langkah dan kembali salah langkah. Mungkin saat kelompok yang memusuhi Islam masih kecil, mereka akan tampak jinak. Tetapi saat mereka berkuasa, mereka akan menunjukkan wajah asli mereka. [Jundi Rahman]
5:00 AM | 0 comments

Saya, Mursi dan Ikhwanul Muslimin

Written By mimin on Monday, August 12, 2013 | 7:00 AM

Apa yang membuat kita bisa demikian peduli pada Mesir, pada Muhammad Mursi, padahal sama sekali tak ada “hubungan dekat” antara kita dan mereka?

Saya mengenal nama Ikhwanul Muslimin sekitar tahun 1990an. Waktu remaja saat itu, kehidupan pribadi dan keluarga tengah dilanda kemelut hebat. Saat penuh ujicoba, manusia biasanya lebih dekat kepada Tuhan. Ketika itu, pengajian tasawwuf menjadi pilihan. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di jamaah tasawwuf, berdzikir dengan mata terpejam dan airmata berlinangan hingga tersedu-sedu.

Bahan bacaan saya saat itu sangat beragam. Mulai kita tasawwuf, kitab klenik sampai sebuah buku yang saya lupa judulnya dan berapa halaman. Tapi tokohnya saya sangat-sangat ingat: Zainab Al Ghazali. Entah mengapa, sosoknya yang terdzalimi seketika menggantikan idola saya yang saat itu masih berputar-putar di Tommy Page dan Richard Marx ( A Shoulder to Cry On ; Right Here Waiting).

Tommy Page yang keren dan cool, Marx yang romantic man kok rasanya jadi kalah jauh pamor dengan Zainab Al Ghazali. Diam-diam, saya jadi mencari tahu, siapa sih Zainab Al Ghazali. Dan hingga saat ini, ia salah satu tokoh perempuan idola saya. Meski, antara saya dan Zainab al Ghazali tak terjalin hubungan darah, ia tak kenal saya, ia pun mana sempat memberikan bantuan ke saya. Kenapa saya mencintainya ya?

Ikhwanul Muslimin
Saya tak membahas masalah sejarahnya. Itu sudah diketahui banyak orang. Saya juga tak ingin membelanya mati-matian, emosional, apalagi sampai sekedar asal cuap. Pada awalnya, saya beranggapan dakwah politik hanya sekedar kamuflase. Di tasawwuf dulu, bukankah manusia terbaik adalah yang hatinya senantiasa ingat Allah, senantiasa berdzikir dan dimanapun ridho padaNya? Yang terbaik, apakah bukan mereka yang senantiasa melazimkan dzikir kemana-mana. Saat itu saya merasa menjadi manusia terbaik, sebab saya bisa dzikir sepanjang hari, baik hati maupun lisan. Bila diingat, tentu tak salah. Tapi pengajian tasawwuf saat itu membuat saya salah langkah (bukan tasawwuf itu yang salah).

Nilai saya jeblok. Ah, itu kan memang kehendak Allah.
Saya nggak punya uang. Ah, memang itu maunya Allah.
Saya nggak bisa membantu orang. Ah, nanti Allah yang akan bantu dia. Sungguh, keterdiaman saya membuat merasa menjadi orang terbaik di dunia ini. Apalagi saya sanggup dzikir sepanjang hari sembari beraktivitas. Seiirnig waktu, saat benturan hidup tak tertahankan. Seorang saudara terjebak narkoba. Seorang saudara jobless, hingga terpaksa menjadi preman. Pergaulan bebas, sehingga beberapa sahabat dekat hamil di luar nikah. Tetap saat itu saya berpikir, “ini kan kehendak Allah? Orang berdosa, orang beribadah adalah kehendak Allah. Kita hanya berdzikir.”

Tetapi, ratapan seorang ibu janda yang berurai airmata di depan saya karena putranya bolak balik di penjara karena kasus narkoba, bolak balik jadi penjahat karena nggak punya kerja menohok. “Aku sudah berdoa, aku sudah bekerja, aku sudah berupaya…tapi apa bukan salah pemerintah sehingga narkoba tersedia dimana-mana? Apa bukan salah pemerintah kalau anakku nggak bisa dapat kerja?” Saat itu hatiku tertohok mendengarnya. Ah, dzikir. Dzikir saja, bu. InsyaAllah ini kehendak Allah.

Lama-lama aku berpikir, apa aku bukan orang apatis ya? Apa aku bukan orang yang malas berusaha, belajar , cari uang dan selalu mengandalkan : ah ini kehendak Allah. Apa aku bukan jenis orang yang kejam ya, karena tiap kali orang minta bantuan aku bilang : belum rezeki anda ya, aku nggak ada dana (karena aku nggak mau kerja, nggak mau belajar/kuliah, sibuk dzikir seharian)… padahal jujur, aku anak pintar intelgensi dan pintar bekerja. Aku bisa bekerja keras untuk punya uang banyak, dan bisa untuk membantu orang lain.

Lalu, aku mulai mengenal buku-buku pergerakan. Apa itu Ikhwanul Muslimin? Konsepnya yang syumuliyah membuat jiwa remajaku yang bertanya sekian banyak hal seolah mendapatkan sinyal : narkoba, pemerintah, kemiskinan, kehendak Tuhan, kehendak manusia dll. Perlahan aku mulai bertanya-tanya : siapa Ikhwanul Muslimin ini? Maka, bertahun kemudian aku menjadi pengagum gerakan ini.

Ya. Berkecimpung dalam politik memang kotor. Tapi apakah kita rela seluruh jajaran petinggi, pejabat negara, pemegang keputusan adalah orang-orang bejat? Bukankah seharusnya dijabat orang-orang baik?

Tapi politik itu kotor. Ya. Lalu menunggu sampai mereka mau memberikannya pada kita? Secara logika mana mungkin seorang mafia menyerahkan bisnis kartelnya pada polisi jujur. Maka, terkagum-kagum pada kiprah Ikhwanul Muslimin yang memulainya dari dakwah sosial, pendidikan, dan merambah ranah politik dengan cara-cara elegan.

Pemerintahan yang notabene adalah kumpulan perusahaan, kumpulan asset, kumpulan sumber daya, kumpulan kepentingan; siapa yang harus mengendalikannya? Tentu orang-orang yang amanah. Dan, hingga saat ini masih terkagum-kagum dengan sepak terjang Ikhwanul Muslimin yang berisi beragam manusia : yang intelek hingga buruh, pengusaha hingga pelajar, anak-anak hingga orangtua. Semuanya bergerak dengan orbit yang sama : membangun dunia yang lebih baik. Dan…siapa sih yang tidak terpana melihat orang-orang cerdas, sukses dalam karir, sukses dalam rumah tangga….penghafal Quran dan dai pula? Ups, runtuh sudah skema dalam pola pikir kita bahwa kesuksesan itu identik dengan kebrutalan, main sikat, main tindas, main rampas. Kemenangan bisa diraih dengan cara sportif, fair, transparan.

Everything is fair in love an war tampaknya tak berlaku bagi Ikhwanul Muslimin. Meski tercambuk berdarah-darah, Ikhwanul Muslimin mampu memenangkan kompetisi tanpa kecurangan apalagi kekerasan. Masih ingan kan konsep Swadeshi nya Mahathma Gandhi? Dengan anggun dan elegan, Ikhwanul Muslimin memenangkan hati rakyat.
“Aku memenangkan hati manusia dengan bersikap mulia, “ demikian kurang lebih saran Shalahuddin al Ayyubi.

Mursi
Lelaki ini sebelumnya tak kukenal. Apalagi ia yang mengenalku. Apa sih kontribusi Mursi dalam hidupku? Tak pernah beli bukuku, memberi sumbangan royalty, apalagi memberikan jasa-jasa yang lain.

Saya dan suami, sering bertemu orang aneh. Kami sepakat, hati tidak bisa ditipu. Bertemu tukang becak, supir taksi, satpam ; ah, kenapa jatuh cinta ya? Oh, ternyata ia orang baik. Bertemu pejabat ini itu, aduh…kok hati rasa gerah ya? Oh, ternyata memang mereka punya udang di balik batu. Kadang, kita memakai hati sebagai intuisi untuk mengenal manusia.

Muhammad Mursi. Apa kita pernah bertemu, bertatap muka? Tidak. Tapi saya tak bisa memungkiri bahwa hati ini terlanjur jatuh cinta pada Mr.President. Jatuh cinta pada hafalan Qur'annya. Jatuh cinta pada istrinya yang menyambangi para janda. Jatuh cinta pada pilihannya pada Hisyam Kandil sebagai PM -dulu. Jatuh cinta pada keputusan-keputusannya. Jatuh cinta pada sikapnya terhadap Rafah, Gaza.

Memang siapa yang merekayasa itu semua? Mursi tak pernah memberi kita apa-apa. Ikhwanul Muslimin juga tidak. Mesir? Apa pernah menggelontorkan bantuan untuk Indonesia agar terlepas dari hutang? Tidak juga. Tapi, kenapa bisa kita mencintai Mesir, Mursi, Ikhwanul Muslimin, rakyat Palestina dan rakyat Mesir? Karena, meski kita manusia yang sehari-hari berkubang dosa. Suka bermaksiat. Suka menggunjing. Suka mencemooh dan mengejek kegagalan orang. Jauh di lubuk manusia terdalam, terdapat sebuah titik.

Imam Ghazali menyebutnya “titik hati” yang secara elektris bergetar saat dekat dengan Tuhan. Mungkin, titik hatik kecil kit, noktah putih itu. Yang masih menyisakan dzikir padaNya. Tak bisa memungkiri bahwa di balik semua sifat keburukan manusia yang kita punya, di relung terdalam nurani, ada getaran cinta murni yang muncul tiap kali bertemu sesuatu yang juga murni dan jernih. Maka kita menangis ketika Uje wafat (meski tak kenal). Maka kita terketuk menyantuni anak yatim (meski kita tak kenal). Maka kita terketuk membantu korban bencana (meski tak kenal). Dan noktah putih kecil dalam hati ini, jatuh cinta tanpa disadari kepada orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali. Mursi, Ikhwanul Muslimin, rakyat Mesir.

Memangnya, ada pihak yang pernah memaksa kita untuk mencintai Mursi? Tidak. Tetapi apakah orang kecil seperti saya. Rakyat jelata yang masih dilanda kesulitan beraneka ragam, dilanda kerusuhan kriminalitas dan kesenjangan ekonomi; tidak pantas jatuh cinta pada Presiden penghafal Quran yang terus berjuang dalam kebaikan seperti Mursi? Apa saya tidak semakin mencintai Mursi , ketika seorang Syaikh Gaza di Ramadhan ini menjadi imam masjid kami bercerita : “jika Mesir kuat, kuatlah Palestina. Begitupun sebaliknya. Bersama Mursi, kami kuat. Mursi, setiap hari selalu bertanya : bagaimana kabar al Aqsho hari ini?”
Apakah salah, bila tanpa kita sadari, jatuh cinta pada pemimpin seperti Mursi? [Ahmad Muslim]
7:00 AM | 0 comments

10 Alasan Mengapa Harus Membantu Ikhwanul Muslimin di Mesir

Written By mimin on Sunday, August 11, 2013 | 6:00 AM

Dalam sejarahnya, gerakan Al Ikhwan al Muslimun (Ikhwan) di Mesir sering mengalami cobaan-cobaan berat (Al Mihnah) yang menimpa para pemimpin dan pendukungnya. Pasca kudeta militer Jendral As Sisi terhadap Presiden Mursi pada 3 Juli 2013, jamaah Al Ikhwan kembali mengalami tekanan-tekanan berat. Kali ini lawan mereka bukan hanya militer Mesir dan kaum pemberontak Tamarod, tetapi juga aliansi internasional pendukung Zionisme Israel.

Namun di kalangan umat Islam masih beredar sikap keragu-raguan menyikapi posisi jamaah Ikhwan. Ada yang mendukung, mendoakan, atau bersikap simpatik. Tetapi ada juga yang membiarkan Ikhwan, tidak peduli dengan kesulitan mereka, mencari-cari kesalahannya, bahkan mensyukuri berbagai musibah yang menimpanya. Masya Allah.

Setidaknya ada 10 alasan yang bisa dikemukakan, dimana kita sebagai sesama Muslim sangat penting dan layak mendukung jamaah Ikhwan di Mesir. Semua ini atas pertimbangan Syariat Islam, maslahat umat, dan prinsip keadilan.

Pertama. Sebagai sesama Muslim kita terikat hubungan Ukhuwah Islamiyah. Ulama menjelaskan, ekspresi ukhuwah yang tertinggi ialah Al Itsar, mendahulukan saudara seiman daripada diri sendiri. Sedang ekspresi ukhuwah paling minimal ialah Salatus Shadr, yaitu selamatnya hati kita dari prasangka buruk ke sesama Muslim.

Nabi bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas Ra).

Kita tidak boleh cuek kepada sesama Muslim, tetapi harus peduli dengan nasib saudara; meskipun mereka jauh dan tidak mengenal diri kita.

Kedua. Ikhwan saat ini jelas-jelas sedang terzhalimi di Mesir. Mereka mengalami penindasan, perampasan hak-hak, difitnah, diserang, dibunuh, dan dihancurkan. Orang-orang yang terzhalimi ini tidak boleh dibiarkan, tetapi kita harus menolongnya, membantunya, mendukungnya untuk mendapatkan hak-haknya.

Nabi bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, tidak boleh mengkhianatinya, atau mendustainya, atau membiarkannya teraniaya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah Ra). Nabi juga memerintahkan agar kita “menolong orang zhalim” yaitu dengan cara mencegahnya dari perbuatan zhalim (HR. Bukhari, dari Anas Ra).

Ketiga. Jamaah Ikhwan saat ini sedang dikeroyok berbagai pihak, meliputi militer, media sekuler, kaum liberalis, sosialis, Kristen Koptik, Syiah, Barat kolonialis, serta para pendukung Zionis Israel. Sebagai sesama Muslim dan terikat akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, kita harus menolong saudara-saudara seiman.

Keempat. Gerakan Ikhwan melalui Partai FJP telah meraih posisi besar, yaitu kepemimpinan politik yang didukung mayoritas rakyat Mesir. Ini adalah karunia, sangat strategis, dan susah sekali untuk meraihnya. Kepemimpinan ini bahkan merupakan amanat yang harus benar-benar dijaga, dirawat, dan dipertahankan.

Jangan menyia-nyiakan kesempatan itu, sebab ia merupakan pengkhianatan atas amanat Umat dan agama. “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan (janganlah) kalian mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS: Al Anfal: 27).

Jika bicara tentang kepemimpinan politik (otoritas), kaum Muslimin jangan bersikap tawadhu’, pemurah, atau mudah berbagi. Sudah tak waktunyaberbagi kekuasaan dengan musuh, kecuali untuk strategi. Sebab jika otoritas politik jatuh ke tangan musuh Islam, dari pengalaman selama ini, ia sering digunakan oleh mereka untuk tujuan eksploitasi, marginalisasi, dan penindasan umat. Contohlah kaum Muslimin Turki yang sangat kuat dalam tekad, percaya diri, loyal murni terhadap amanat agama.

Kelima. Jamaah Ikhwan sedang berjuang mengakhiri dominasi militer Mesir yang terkenal korup, menindas, dan sewenang-wenang. Fakta berbicara, setelah kudeta 3 Juli 2013, militer Mesir telah berkali-kali melakukan penangkapan, penculikan, pemenjaraan, pembunuhan, dan pembantaian terhadap warga sipil, khususnya pendukung Presiden Mohammad Mursy. Hal seperti itu sudah biasa mereka lakukan dalam kurun 60 tahunan terakhir.

Nabi bersabda, “Sesungguhnya manusia jika melihat orang berbuat zhalim, lalu tidak berusaha mencegah tangannya, dikhawatirkan Allah akan meratakan hukuman atas mereka semua, karena pembiaran kezhaliman itu.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa’i, dari Abu Bakar As Shiddiq Ra).

Keenam. Ikhwan sedang berusaha mengakhiri politik penindasan yang telah lama menimpa aktivis-aktivis Islam. Hal itu dimulai dari Mesir dengan memperjuangkan otoritas pemerintahan sipil yang melindungi darah dan jiwa kaum Muslimin. Jika upaya di Mesir berhasil, insya Allah keberhasilan yang sama bisa diharapkan berlaku di negeri-negeri lain. Seperti kita ketahui, rezim militer Mesir ialah yang paling kejam kepada para aktivis Islam.

Nabi bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, atau membiarkannya dizhaliminya. Siapa yang membantu hajat saudaranya, maka Allah akan membantu hajatnya. Siapa yang melepaskan seorang Muslim dari sebuah kesulitan, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan di Hari Kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupinya di Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar Ra).

Ketujuh. Ikhwan sedang berjuang membebaskan Mesir dari plot kebijakan luar negeri yang selalu menghamba, melayani, menjaga, dan memuja kepentingan Zionis Israel. Sejak Anwar Sadat menanda-tangani perjanjian Camp David, Mesir kehilangan kedaulatannya. Negeri besar itu hanya mampu menjadi pelayan kepentingan Yahudi Israel.

Kepetingan Zionis-Yahudi semakin menghawatirkan di kawasan Timur Tengah, khususnya masalah Palestina semenjak Mesir di bawah kendali Mursy. Karena itu, tidak mungkin Israel membiarkan kekuasan Mursy terus langgeng.

Orang-orang Yahudi telah menimpakan bala dan nestapa sangat panjang kepada Umat Islam. Mereka bersinergi dengan orang-orang paganis untuk melawan Allah dan Rasul-Nya, serta menguji kaum Muslimin. “Sungguh kamu akan mendapati sekeras-keras manusia dalam permusuhannya kepada orang Mukmin, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyekutukan (Allah).” [QS: Al Maa’idah: 82].

Kedelapan. Jamaah Ikhwan berusaha mengakomodir aspirasi dan kepentingan kaum Muslimin di Mesir setelah sekian lama dimarginalkan, ditekan, dan diabaikan. Kekuatan Islam Mesir harus mendapat tempat yang layak, karena suara politik mereka memang besar. Jika selama ini militer Mesir memposisikan diri sebagai perintang politik Islam, maka masyarakat Mesir berhak mendapatkan kedaulatan atas aspirasi dan ekspresi politik mereka.

Kesembilan. Secara manusiawi gerakan Ikhwan berhak mendapatkan hasil dari perjuangan politik mereka, sejak era Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah. Perjuangan mereka, pengorbanan, dan kesabarannya layak mendapat hasil setimpal, berupa kekuasaan dan kepemimpinan. Selagi kekuasaan itu dikembangkan demi kemaslahatan hidup rakyat Mesir, bukan demi egoisme dan monopoli, hal itu harus didukung sepenuhnya. “Dan bagi setiap orang akan mendapatkan derajat-derajat sesuai yang mereka amalkan, dan tidaklah Rabb-mu lalai (memberi hasil) atas apa yang mereka amalkan.” [QS. Al An’aam: 32].

Kesepuluh. Al Ikhwan sedang berjuang melawan “tirani demokrasi”, yaitu suatu gerakan politik yang membawa missi kolonialisme dengan mengatas-namakan demokrasi. Gerakan ini akan merampas kemenangan politik apa saja, meskipun bersifat demokratis, jika kemenangan itu diraih gerakan Islam. Sebaliknya, jika kemenangan itu dicapai musuh Islam, meskipun dengan cara-cara licik dan ilegal, mereka akan ridha dan mencintai.

Tirani demokrasi ini jika tidak dihadapi, maka kaum Muslimin akan kehilangan kesempatan memimpin negara. Apa kita rela dunia ini dikuasai manusia-manusia durjana yang sehari-hari selalu menghina Allah dan Rasul-Nya, menumpahkan darah manusia, serta membuat kerusakan di muka bumi? “Wahai orang-orang beriman hendaklah kalian menjadi penegak-penegak (kebenaran) karena Allah dan menjadi saksi atas keadilan.” (Al Maa’idah: 8).

Dengan alasan-alasan seperti ini sangat mudah dipahami jika mayoritas ulama di dunia saat ini mengecam kudeta militer Jendral As Sisi di Mesir dan menuntut pemulihan hak-hak Konstitusional Presiden Mursi. Front ulama Al Azhar di Mesir, ulama dan cendekiawan Saudi, ulama di Sudan, Turki, Qatar, Tunisia, dan lainnya sepakat akan kezhaliman kudeta militer Jendral As Sisi dan perwira-perwira militer pendukungnya.

Pemimpin kita, sempat menyeru warganya, agar tidak ikut campur urusan politik di negeri Mesir. Pemimpin semacam ini menyedihkan dan Sangat ironis!

Penulis : AM. Waskito
Penulis buku “Air Mata Presiden Mursi”
sumber: Hidayatullah.com
6:00 AM | 0 comments

Koalisi Pendukung Kudeta Mulai Porak Poranda

Written By mimin on Saturday, August 3, 2013 | 6:30 AM

Mafia-mafia pelaku kudeta, satu persatu sudah menampakkan kegelisahan. Pertanda, firman Allah sangat tepat ketika berfirman, "Engkau sangka mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah-­belah. Yang demikian itu ialah karena mereka itu adalah kaum yang tidak berakal." (QS. Al-Hasyr: 17)

Ya, mereka nampak bersatu padu, apik bekerjasama, demi melengserkan Moursi dari mandat rakyat yang sah. Namun saat Moursi sudah dikudeta, mafia-mafia itu pun tak kuasa hati untuk menutupi "syahwat serakah" terhadap kekuasaan.

Tengoklah kicauan Elbaradai, Wapres Bidang Luar Negeri di akun twitternya ia mengancam Letjen As-Sisi untuk menghentikan propaganda media yang ditenggarai memperburuk citra dirinya. Elbaradai menekan As-Sisi untuk kembali tampil terdepan menghadapi Islamis (proMoursi), setelah hari kemarin (2/8/13), As-Sisi menyerahkan mandat kepada kepolisian di bawah kemendagri.

Bahkan Elbaradai dalam wawancara dengan Reuters secara sengaja menunjuk As-Sisi sebagai problem solver dengan menganggap tiada keberadaan Presiden Adli Mansour sebagai presiden.

Elbaradai seakan menegaskan, "Saya akan memulai menebar isu bahwa yang terjadi di Mesir adalah kudeta bukan revolusi rakyat, tentu jika kudeta yang anda lakukan tidak lurus. Saya akan cuci tangan atas pembantaian yang anda lakukan, dengan menebar release."

Ungkapan Elbaradai di atas mencerminkan, dirinya benar-benar siap mendukung pembantaian di level lobi internasional dengan dalih memerangi teroris, namun dengan syarat 1. As-Sisi memahami bahwa peran dirinya hanyalah sekedar jembatan bukan halte terakhir, dimana kekuasaan berakhir di tangan militer; 2. As-Sisi harus mampu mengerem ambisi pribadi untuk berkuasa.

Tidak hanya Elbaradai, Jhon Kery, Menlu AS nampak sedikit meluruskan sikap AS yang solid mendukng militer Mesir. Pada hari ini, saat ia di London menyampaikan perubahan sikapnya dengan mengatakan, "Semua pihak baik militer maupun pendukung Moursi, harus aktif bekerja demi mencapai solusi damai atas krisis." Jhon Kery menegaskan, adalah hak pendukung Moursi untuk melakukan aksi demo damai. Wawancara Jhon Kery ini ditanggapi Fox News dan situs-situs AS dengan judul; "Kery Berusaha Menjelaskan Kembali Sikap AS tentang Mesir.'

Kemendagri lain lagi. Nampaknya ia mulai menurunkan tensi tekanan terhadap Islamis proMoursi. Muhammad Ibrahim sang menteri mengkhawatirkan pecahnya konflik antara kepolisian dengan demonstran yang jumlahnya jutaan. Bisa jadi, kepolisian -setelah militer mundur- akan mudah dilumpuhkan, atau kepolisian Mesir harus siap-siap membayar mahal tindakan represifna di mata internasional. Hal ini jelas terlihat dari wacana menyeret militer dan kepolisian ke Amnesti Internasional dan Human Right Watch baru-baru ini.

Kisruh dan konflik di barisan kudeta secara kasat mata mudah ditebak. Diprediksi, Elbaradai akan mundur teratur dari barisan kudeta. Maling teriak maling. Kongsi pun akan segera pecah.

Sungguh tekanan demonstran proMoursi yang digalang Ikhwanul Muslimin, sangat besar efeknya secara psikologis. Jumlah jutaan demonstran yang rapi dan damai, benar-benar efektif. Kendati hasilnya tidak mudah terlihat dalam waktu dekat. Lanjutkan wahai para pejuang! Di sini kami dukung dengan doa terindah kami![]

Penulis : Nandang Burhanuddin
Pemerhati Dunia Islam dan Timur Tengah
6:30 AM | 0 comments

Ustadz Sedekah dalam Pusaran Badai Konspirasi

Written By mimin on Wednesday, July 24, 2013 | 9:00 PM

Jika kita mau mengamati sedikit lebih detail, khususnya di negeri ini, maka para ustadz yang membawa Islam ke ranah 'dunia', pasti akan berhadapan dengan konspirasi yang tak bertepi. Uniknya, konspirasi ini dirancang sedemikian rupa sehingga nampak apa adanya. Meskipun, bagi kalangan yang melek intelektual, dan sedikit mau memakai hatinya dengan kaca mata kearifan, nampak sekali bahwa hal tersebut tidak normal. Dibuat-buat, di lebay-lebay-kan.

Hal tersebut berlaku sebaliknya. Para Ulama' yang (maaf) hanya sibuk dengan 'akhirat' tanpa mau menyentuh 'dunia', maka dia akan aman. Sepi dari makar. Bahkan, disuburkan.

Kita mulai dari sebuah contoh. Aa Gym. Ingat awal dakwah beliau? Sukses Luar Biasa. Bahkan sempat diwacanakan, ada yang mencalonkan beliau menjadi kandidat Presiden di Negeri ini. Beliau tidak hanya ceramah. Tidak hanya ngurus 'akhirat'. Beliau nulis buku, punya bisnis yang menasional. Mulai dari air minum, penerbitan, travel, radio, tv, dan seterusnya. Video ceramah-ceramah beliau juga marak di dunia maya.

Tampilannya pun necis. Tidak melulu bersarung. Bahkan, saya tidak pernah melihat beliah bergamis layaknya syeikh-syeikh di Timur Tengah sana. Beliau lebih suka bersarung dipasangkan dengan jas atau baju taqwa dihiasai penutup kepala berupa peci yang diikat dengan surban. Karena beliau terjun juga ke urusan 'dunia', beliau tak jarang nampak berjas, bercelana, dan pakaian khas eksekutif lainnya. Beliau juga hobi berkuda dan aneka hobi ekstrim lainyya.

Singkatnya, beliau berhasil membangun sebuah kerajaan baru di negeri ini. Dan tidak sejengkalpun tanah di negeri ini yang belum beliau jejaki. Baik dengan ceramah, tulisan maupun produk beliau.

Saya sangat yakin, jika ketika itu beliau benar-benar maju menjadi kandidat calon Presiden di negeri ini, Insya Allah beliau akan terpilih.

Nah, musuh-musuh Islam inilah yang tidak akan tenang dengan gerakan beliau. Sehingga disusunlah makar. Jahat. Tapi begitulah perjuangan. Kerajaan yang beliau bangun sedemikian kuat, kokoh itu, dihancurleburkan melalui sebuah konspirasi : Poligami.
Sangat aneh kawan-kawanku sekalian. Media serentak menyerang beliau. Habis-habisan. Hingga masalah yang dianjurkan oleh agama ini, nampak tabu karena pemberitaan. Bahkan, tak sedikit jama'ah yang berbalik membenci beliau. Padahal, sang istri pertama pun ikhlas menerima pernikahan beliau yang kedua. Meski sempat cerai, tapi akhirnya mereka kembali dalam sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, aamiin. Insya Allah.

Andai kita mau bertanya, "Kenapa Poligami yang dilakukan Aa Gym dihukumi "haram" oleh media? Sehingga mereka bersatu padu memberitakan ini agar nampak seperti kesalahan?" Jawabannya sederhana : media mengikuti mau pemodal. Siapa punya modal, dia bisa dengan suka hati menurunkan berita.

Lantas, siapakah insan pemilik media itu? Panjang kalau pertanyaan ini kita bahas.
Satu pertanyaan lagi, "Kenapa pernikahan Aa Gym dipermasalahkan? Sementara banyak sekali ustadz, kiyai, anggota DPR, dan orang biasa yang melakukan pligami serupa? Bahkan, ketika Ustadz Arifin Ilham Poligami-pun, tidak ada pemberitaan sama sekali. Padahal, Jama'ah ustadz Arifin Ilham juga jutaan? Tak jauh beda dengan jama'ah Aa Gym kala itu?"

Saya hanya bisa menjawab, "Saya tidak jauh lebih tahu dari anda."
Itu satu contoh.

Contoh kedua. Ustadz Sedekah. Yusuf Mansyur. Pola dakwahnya mirip Aa Gym. Gaul. Beliua juga gak pernah terlihat memakai gamis. Hanya celana dan baju panjang. Bajunya-pun bukan koko. Kadang, cuma kemeja biasa. Saya pernah menyaksikan beliau mengimami shalat Maghrib ketika bulan Ramadhan sekitar dua tahun yang lalu di salah satu Masjid di Komplek Pabuaran Indah - Bogor. Beliau mampir. Sahabat tahu? Celana yang beliau pakai, bagian ujungnya robek. Beliau nampak enjoy. Padahal, harta beliau sudah milyaran.

Nah, beliau juga terjun ngurusi 'dunia'. Mulai investasi, sawah, hotel, dll. Rumah Penghafal Qur'an yang beliau gagas saja, tersebar di seluruh Indonesia dengan brand yang sama. Ceramah beliau juga tersebar luas di you tube. Dakwah beliau biasa disiarkan di televisi nasional Kita. Bahkan, Ramadhan tahun lalu, beliau rutin mengisi kajian selepas tarawih, setiap malam dan disiarkan di televisi nasional kita.

Gagasan yang beliau bawa sederhana, Mari Beli Ulang Indonesia. merupakan sebentuk cinta anak negeri kepada bangsanya. Nasionalisme beliau bukan sekedar buta. Bukan lantaran suku. Tapi cinta kepada ngerinya. Karena kesadaran penuh bahwa negeri ini adalah amanah yang harus dijaga. Bahwa negeri ini hanya bisa dimakmurkan dengan iman dan taqwa seluruh penghuninya.

Mimpi beliau sangat mulia. Membeli televisi nasional, membeli bank syari’ah yang kini asetnya dikuasai asing, mempunyai hoyel syari'ah, mendirikan Rumah Penghafal Qur'an di setiap jengkal negeri ini, dan seterusnya.

Saya berpendapat, beliau satu-satunya ustadz yang hanya modal 'ceramah', bisa mengumpulkan jutaan bahkan puluhan milyar rupiah. Ingat, hanya ceramah. Ini, tak bisa dilakukan oleh banyak orang. Benar-benar tidak ada duanya. Dalam setiap kajian, beliau akan meminta jama'ah untuk berinfaq. Uang yang terkumpul akan diberikan untuk pengurus masjid setempat atau untuk dakwah, seluruhnya. Beliau tidak mengambil sesenpun. Dalam sekali 'sulap', terkumpullah uang puluhan juta. Luar Biasa, bukan? Berapa kali lipat? Modalnya cuma ceramah! Yang lebih menakjubkan, beliau tak pernah memasang tariff. Beliau juga tidak memiliki asisten ketika dating berceramah. Beliau membaur, bersama jama’ahnya.

Dalam kasus terbaru, dengan konsep Patungan Usaha (PU) dan Patungan Asset (PA), beliau berhasil menarik puluhan milyar rupiah ke dalam rekening beliau. Ingat ya, modalnya hanya ceramah. Bahkan PA dan PU itu, hanya disosialisasikan lewat Internet. Di website dan akun twitter beliau. Dimana paket infaq mulanya hanya 1 juta perorang, kini sudah dipatok menjadi 12 juta. Bisa perorang, rombongan atau atas nama majlis taklim.

Nah, musuh Islam ini keder melihat orang seperti beliau. Hanya modal ceramah saja, bisa mengumpulkan puluhan milyar dalam waktu dekat. Jika dibiarkan, maka puluhan milyar itu bisa menjadi puluhan triliun. Jika pulhan, ratusan dan ribuan triliun sudah terkumpul, bisa jadi kita akan lunasi hutang negeri ini dengan uang tersebut. Dan ini, benar-benar membuat musuh Islam berpikir setengah mati untuk menghentikan langkah beliau.

Sekarang ini, konspirasi-konspirasi jahat yang dialamatkan kepada beliau mulai dilancarkan. Dengan beragam cara dan sudut pandang. Saya ingat majalah yang pertama kali mengusik dakwah beliau dan media-media yang kemudian menyerang beliau secara membabi buta.

Bahkan, ada diantara mereka yang bertanya, "Bagaimana kalau ada jama'ah yang minta uangnya dikembalikan?"

Ini pertanyaan bodoh. Sangat bodoh. Karena sampai sekarang, tidak ada jama’ah yang datang menarik investasi yang sudah diititipkan dalam PA dan PU yang beliau gagas itu. Bahkan, di luar sana, banyak sekali jama’ah yang ingin bergabung. Tapi belum kesampaian. Baik karena uangnya terpakai untuk kebutuhan lain, atau yang memang sedang mengumpulkan uang sejumlah itu.

Oya, jangan cerita ke siapa-siapa ya? Beliau ini, berdasarkan sumber yang tidak mau disebut namanya, didatangi oleh beberapa orang yang hendak mencalonkan diri menjadi calon Presiden di pemilu mendatang. Dan, ustadz YM ini ditawari untuk menjadi wakilnya. Dengan tegas, ustadz yang masih muda dan tampan itu menolak. Dan penolakan beliau, berujung pada konspirasi jahat yang tengah terjadi saat ini.

Akhirnya, kita sepakati perkataan Ustadz M Natsir. Sang pendahulu dakwah di negeri ini pernah berpesan. Bahwa orang Islam yang mengurusi ekonomi, politik dan hal-hal 'duniawi' lainnya, tidaklah mungkin dibiarkan. Beliau kemudian melanjutkan, jika tidak mau diganggu, maka berislamlah hanya di masjid saja. Sholat, dzikir, baca Qur'an, istighotsah dan ibadah-ibadah ritual lainnya.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Kita doakan ustadz-ustadz kita itu. Terlebih lagi, beliau-beliau terjun ke rimba raya politik dan ekonomi. Agar Allah menolong mereka, Agar Allah menguatkan mereka. Dan kita, menjadi bagian dari mereka.

Para musuh Islam memang membuat makar. Tapi ingatlah, Bahwa Allahlah sebaik-sebaik pembuat makar.

Karena kita punya Allah, maka kita punya berjuta harapan. Karena kita punya Allah, maka musuh hanyalah kerikil yang akan kita tendang ketika menghalangi jalan Kita. Karena kita punya Allah, maka tak ada alasan untuk mundur dari peperangan ini. Karena Islam, akan tetap menang. Dengan atau tanpa kita.

Tetaplah bertahan dan Bersiap-siagalah.[]


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9
9:00 PM | 0 comments
Khutbah Jumat
Hadits Shahih Bukhari